Jakarta (UNAS) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (FEB UNAS) menyelenggarakan Kuliah Umum dan Bedah Buku bertajuk Jalan Terjal Menuju Indonesia Adil dan Makmur pada Senin (27/7/2026) di Aula Universitas Nasional, Blok A Lantai IV, Kampus Pejaten, Jakarta. Kegiatan ini menjadi forum akademik untuk mengulas perjalanan 28 tahun Reformasi sekaligus membahas tantangan pembangunan ekonomi Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Keuangan, dan SDM Universitas Nasional Prof. Dr. Suryono Efendi, S.E., M.B.A., M.M.; Dekan FEB UNAS Prof. Dr. Edi Sugiono, S.T., S.E., M.M.; Wakil Dekan FEB UNAS Dr. Rahayu Lestari, S.E., M.M.; penulis buku sekaligus Guru Besar Ekonomi Politik Universitas Nasional Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi, S.H., S.E., M.M.; Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen FEB UNAS Prof. Dr. Andini Nurwulandari, S.E., M.M.; Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen FEB UNAS Prof. Dr. Irma Setyawati, S.E., M.M., CPF., CRP.; serta dosen dan mahasiswa FEB UNAS.
Dalam sambutannya, Dekan FEB UNAS Prof. Dr. Edi Sugiono menegaskan bahwa tema yang diangkat tidak hanya membahas pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengajak sivitas akademika memahami berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi Indonesia dalam mewujudkan keadilan sosial.
“Judul buku ini mengandung pertanyaan yang sangat fundamental, yaitu mengapa pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat belum sepenuhnya mampu menghadirkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mengkaji persoalan tersebut secara ilmiah dan kritis agar dapat melahirkan solusi yang bermanfaat bagi bangsa,” ujarnya.
Pada sesi bedah buku, Prof. Dr. H. Yuddy Chrisnandi memaparkan perjalanan Indonesia selama 28 tahun Reformasi, mulai dari krisis ekonomi 1998 hingga perkembangan makroekonomi saat ini. Menurutnya, Indonesia telah mencatat sejumlah capaian penting, antara lain peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), penurunan angka kemiskinan, serta penguatan posisi Indonesia sebagai salah satu anggota G20. Namun, berbagai tantangan masih perlu mendapat perhatian, seperti ketimpangan ekonomi, rendahnya daya saing sumber daya manusia, lemahnya pemberantasan korupsi, serta perlunya penguatan tata kelola pemerintahan.
“Reformasi telah membawa Indonesia keluar dari krisis dan menghasilkan banyak kemajuan. Akan tetapi, sebagian harapan rakyat masih belum terpenuhi. Pertumbuhan ekonomi harus mampu menghadirkan keadilan sosial sehingga manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat,” jelas Prof. Yuddy.
Ia juga menyoroti sejumlah agenda strategis menuju Indonesia Emas 2045, di antaranya penguatan pemberantasan korupsi, peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia, hilirisasi industri, reformasi perpajakan, pemerataan pembangunan, serta penguatan demokrasi dan supremasi hukum. Menurutnya, keberhasilan Indonesia menjadi negara maju tidak hanya ditentukan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas institusi, efektivitas tata kelola pemerintahan, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Selanjutnya, Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen FEB UNAS Prof. Dr. Andini Nurwulandari memaparkan berbagai persoalan struktural yang masih menjadi tantangan pembangunan nasional. Ia menjelaskan bahwa ketimpangan kepemilikan aset, kesenjangan sosial, dan kemiskinan antargenerasi merupakan persoalan yang saling berkaitan sehingga memerlukan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada pemerataan kesempatan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan pemerataan akses terhadap pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, dan kepemilikan aset. Tanpa hal tersebut, kemiskinan akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen FEB UNAS Prof. Dr. Irma Setyawati menegaskan bahwa tingginya pertumbuhan ekonomi tidak selalu sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan pembangunan harus diukur dari seberapa besar manfaatnya dirasakan secara merata, bukan hanya dari angka pertumbuhan ekonomi semata,” tuturnya.
Melalui kuliah umum dan bedah buku ini, FEB UNAS berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori ekonomi, tetapi juga mampu menganalisis berbagai persoalan pembangunan secara komprehensif serta menghasilkan gagasan yang inovatif untuk mewujudkan Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan makmur. Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen FEB UNAS dalam memperkuat budaya akademik melalui forum diskusi ilmiah yang relevan dengan dinamika pembangunan nasional serta berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan perumusan kebijakan berbasis kajian akademik. (SAF)
Bagikan :


