Jakarta (UNAS) – Tim mahasiswa peneliti bidang vegetasi yang terdiri dari Junita Wulandari, Zahra Davina Salsabilla, Meina Marintan, Mehrish Malik dan Fidinda Azzahra Patria baru saja mengungkap potensi besar Gunung Tambakruyung, Desa Lebakmuncang, Ciwidey, sebagai kawasan pendukung habitat satwa liar. Melalui kajian bertajuk “Profil Struktur Pohon Di Jalur Pendakian Gunung Tambakruyung”, tim peneliti memetakan bagaimana struktur tegakan pohon di elevasi 1400 hingga 1600 mdpl menjadi elemen kunci bagi kelangsungan hidup berbagai fauna.
Penelitian yang difokuskan pada jalur pendakian antara Pos 2 hingga Pos 3 ini menggunakan metode belt transect seluas 20 x 360 meter. Hasilnya, tim berhasil mengidentifikasi 23 spesies pohon yang terbagi dalam 21 genus dan 16 famili. Famili Fagaceae dan Myrtaceae tercatat sebagai kelompok yang paling dominan di kawasan tersebut.
“Kondisi suhu lingkungan dan kelembaban udara di dua elevasi yang berbeda yaitu 1400 dan 1500 mdpl berada dalam kondisi yang optimal untuk mendukung pertumbuhan,” jelas salah satu pemapar materi dari tim vegetasi dalam acara Seminar Kuliah Kerja Lapangan (KKL), Sabtu, 3 Januari 2026, di Ruang Seminar Selasar Lt. 3 UNAS. Namun, tim juga mencatat adanya pengaruh aktivitas manusia, seperti tanaman kopi milik warga yang menyebabkan pH tanah cenderung asam dan menciptakan celah (kerenggangan) pada struktur tajuk hutan.
Meskipun fokus utama adalah vegetasi, tim menemukan korelasi kuat antara struktur pohon dengan keberadaan satwa. Struktur pohon di Gunung Tambakruyung terbukti mampu mendukung kehidupan berbagai kelompok fauna: (1) Mamalia dan Primata: Pohon dengan diameter batang 20–30 cm berpotensi menjadi pohon pakan, sementara diameter 40–60 cm sangat cocok untuk pohon tidur satwa seperti Owa dan Lutung. Pohon Rasamala (Altingia excelsa) dan Ficus sp. menjadi sumber pangan penting. (2) Avifauna (Burung): Tim berjumpa langsung dengan burung Walik yang memanfaatkan kanopi rapat untuk perlindungan, serta mendeteksi aktivitas Elang Ular Bido yang memilih pohon tinggi dan kokoh sebagai tempat bersarang.
Herpetofauna dan Insekta: Dijumpai pula bunglon (Gonocephalus gouldii), ngengat yang berlindung di bawah daun, serta jejak tidak langsung dari babi hutan di bawah pohon Puspa.
Mehris Malik, anggota tim lainnya, menekankan bahwa struktur tegakan pohon yang ada di desa lebak muncang atau khususnya itu di jalur pendakian gunung tambakruyung dari pos dua sampai pos tiga saja, kita tuh bisa melihat bahwa vegetasi dan khususnya struktur pohon di sana itu dapat mendukung satwa liar yang berada di sana.
Data yang diperoleh menunjukkan tingkat keanekaragaman pohon berada pada kategori sedang (indeks 2,3), dengan spesies Castanopsis acuminatissima memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi. Kondisi ini menjadi modal dasar yang kuat untuk pengembangan ekowisata berbasis konservasi di Desa Wisata Lebakmuncang.
Namun, tim menyadari perlunya pendalaman lebih lanjut. “Diperlukannya penelitian lanjutan untuk meningkatkan kualitas data tentang perjumpaan satwa di lokasi ini, karena sifatnya yang kami lakukan itu masih bersifat insidental,” ungkap perwakilan tim saat menutup presentasi. Dengan sinergi antara kelestarian hutan dan daya tarik satwa liar, Gunung Tambakruyung diproyeksikan dapat mendukung perekonomian lokal melalui wisata alam yang tetap menjaga ekosistem. (*DMS)
Bagikan :


