Dr. Robi Nurhadi, M.Si.
Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional Jakarta
Rocky Gerung telah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI. Diiringi mereka yang selama ini dianggap tokoh perubahan. Ruang publik pun riuh. Kaum perubahan pun kecewa. Fenomena ini membunyikan lonceng kematian sekaligus lonceng kebangkitan bagi kaum perubahan.
Saya tidak ingin menghujat. Saya ingin mengajak kita semua berhenti sejenak dan membaca fenomena ini dengan kacamata ilmu sosial.
Selama dua minggu terakhir, linimasa media sosial kaum perubahan dipenuhi kekecewaan. “Kok Rocky masuk istana?”, “Jual akal sehat?”, “Syahganda sudah jadi Kepala Bakom RI, Jumhur jadi Menteri, sekarang Rocky juga?”.
Kekecewaan itu wajar. Tapi kemarahan itu menunjukkan satu penyakit kronis gerakan perubahan Indonesia: kita terlalu lama menyandarkan harapan pada figur.
Anatomi Kekecewaan: Mengapa Kita Kaget?
Dalam teori gerakan sosial, ada yang disebut personalization of movement. Gerakan yang seharusnya berbasis nilai, berubah menjadi berbasis tokoh.
Sejak 2014 hingga 2024, gerakan perubahan oposisi tidak pernah membangun institusi bersama. Kita membangun panggung-panggung personal: kanal YouTube Rocky, kajian Syahganda, orasi Said Didu, analisis Refly. Kita menjadi penonton setia tokoh, bukan pelaku kolektif perubahan.
Ketika tokoh itu kemudian masuk ke dalam kekuasaan yang ia kritik – kekuasaan yang kemenangannya diwarnai luka Putusan MK 90 tentang Gibran, dugaan politisasi bansos, dan kebijakan-kebijakan yang hari ini banyak ditolak rakyat seperti Danantara dan MBG – maka penonton merasa dikhianati.
Padahal dalam teori kooptasi, ini adalah pola yang sangat normal. Kekuasaan yang besar dan baru, yang membutuhkan legitimasi moral, pasti akan merangkul para pengkritik paling vokal. Negara merangkul, aktivis masuk dengan dalih “perjuangan dari dalam”. Ini siklus yang terjadi sejak era SBY, Jokowi, dan kini Prabowo.
Rocky Gerung yang dulu menjadi simbol “oposisi akal sehat” kini duduk di Wantimpres, sebuah lembaga yang tugasnya memberi pertimbangan kepada Presiden. Secara formal, ia bukan eksekutor. Tapi secara simbolik, ia telah berpindah dari luar pagar ke dalam pagar.
Kesalahan Kita: Mengkultuskan Manusia
Kaum perubahan harus jujur: sebagian kita yang membunuh gerakan kita sendiri dengan kultus individu.
Kita berharap satu Rocky Gerung bisa menjaga akal sehat bangsa. Kita berharap satu Syahganda bisa melawan oligarki. Kita lupa bahwa satu orang, secerdas apapun, ketika masuk ke dalam struktur kekuasaan yang hierarkis dan transaksional, akan kalah oleh sistem.
Tokoh perubahan itu sudah mati. Bukan karena orangnya mati, tapi karena fungsi tokoh sebagai penjaga nilai telah selesai ketika ia memilih menjadi bagian dari kekuasaan.
Ini bukan soal pengkhianatan. Ini soal kodrat kekuasaan.
Manifesto: Saatnya Kita Bangkit Sendiri
Maka artikel ini saya tulis sebagai manifesto kecil.
- Lupakan Tokoh, Bangun Nilai.
Berhenti mencari juru selamat. Perubahan bukan dititipkan kepada Rocky, Syahganda, Said Didu, atau Anies. Perubahan adalah tanggung jawab kita bersama. Nilai kedaulatan, keadilan sosial, anti-oligarki, dan pembelaan pada wong cilik harus lebih besar dari figur. - Berhenti Menjadi Penonton, Jadilah Pelaku.
Selama ini kita hanya menjadi subscriber, follower, dan penonton diskusi. Kita menghabiskan energi untuk membela tokoh A menyerang tokoh B. Sudah saatnya kaum perubahan bersatu dalam serikat-serikat baru: koperasi ekonomi umat, serikat petani, pusat kajian kebijakan alternatif, media warga. Perubahan tidak akan lahir dari Istana, ia lahir dari kampung dan kampus. - Oposisi Bukan Kebencian, Tapi Pengawasan.
Kita tidak perlu membenci mereka yang masuk. Doakan mereka mampu menjaga integritas di dalam. Tapi tugas kita yang di luar adalah memastikan oposisi tetap hidup. Tanpa oposisi, kekuasaan Prabowo-Gibran akan menjadi sangat absolut. Dan kekuasaan absolut pasti korup. - Rekonsiliasi Kaum Perubahan.
Para aktivis HMI, PMII, GMNI, KAMMI, aktivis 212, aktivis 98, Petisi 100, yang terbelah oleh Pilpres 2024, harus duduk kembali. Musuh kita bukan sesama aktivis yang berbeda pilihan. Musuh kita adalah apatisme.
Rocky Gerung masuk Wantimpres seharusnya bukan akhir. Ini adalah awal. Awal dari kesadaran bahwa kita tidak bisa lagi bersandar, bergantung, dan berharap pada orang-orang yang kita anggap tokoh perubahan.
Tokoh perubahan sudah mati.
Hidup kaum perubahan!
Jakarta, 4 Oktober 2026
Bagikan :


