Heldiansyah Bagikan Strategi Menjadi Engineer Kelas Dunia dalam Expert Talk FTS UNAS

Jakarta (Humas UNAS) – Fakultas Teknik dan Sains (FTS) Universitas Nasional (UNAS) menghadirkan alumni Teknik Fisika angkatan 1985 sekaligus Ketua Ikatan Alumni Teknik Fisika (IATF) UNAS periode 2021–2026, Ir. Heldiansyah, M.Sc., sebagai narasumber dalam kegiatan Expert Talk bertajuk “How to Become a World-Class Engineer: Heldiansyah Journey to Date” yang diselenggarakan di Ruang Exhibition Universitas Nasional, Kamis (6/8).

Dalam paparannya, Heldiansyah membagikan perjalanan kariernya selama lebih dari 35 tahun di industri energi internasional, mulai dari bidang Instrumentation and Process Control, Process Safety Engineering, hingga Health, Safety, Security and Environment (HSSE). Ia telah berkiprah di sejumlah perusahaan energi global, seperti Shell, Brunei Shell Petroleum, Oman LNG, serta berbagai proyek internasional di Irak, Norwegia, Jepang, Kanada, dan Oman.

Mengawali sesi, Heldiansyah mengajak mahasiswa untuk membangun budaya bertanya sebagai bagian dari proses belajar. Menurutnya, keberanian mengajukan pertanyaan merupakan langkah awal untuk memperluas wawasan dan menghindari keterbatasan pengetahuan.

“Orang yang bertanya mungkin hanya terlihat tidak tahu selama satu menit, tetapi orang yang tidak pernah bertanya akan tetap tidak tahu seumur hidup,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia kemudian memaparkan lima prinsip utama yang menurutnya menjadi fondasi dalam membangun karier sebagai engineer berkelas dunia, yaitu membangun pengetahuan sejak menjadi mahasiswa (building knowledge as a student), mengembangkan pengetahuan dan keterampilan saat memasuki dunia kerja, meningkatkan kompetensi dan reputasi profesional, memperbarui pengetahuan serta memperluas jejaring, dan mendokumentasikan serta mentransfer ilmu kepada generasi berikutnya. Kelima prinsip tersebut menjadi kerangka utama dalam perjalanan profesionalnya selama puluhan tahun berkarier di industri global.

Heldiansyah menekankan bahwa proses menjadi engineer kelas dunia dimulai sejak masih duduk di bangku kuliah. Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan seluruh fasilitas kampus, laboratorium, perpustakaan, dosen, hingga jejaring alumni sebagai sarana untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman.

Menurutnya, prestasi akademik, keterlibatan dalam penelitian, organisasi kemahasiswaan, hingga publikasi ilmiah merupakan investasi penting yang akan memberikan nilai tambah ketika memasuki dunia profesional. Ia juga membagikan pengalamannya sebagai mahasiswa berprestasi, peraih penghargaan penelitian tingkat Kopertis Wilayah III, Ketua Senat Mahasiswa, serta aktif dalam Student Science Club yang menjadi wadah penelitian mahasiswa pada masanya.

Dalam sesi berikutnya, Heldiansyah menceritakan perjalanan kariernya yang dimulai bahkan sebelum resmi diwisuda. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah mengirimkan surat lamaran kerja secara formal karena berbagai peluang datang melalui reputasi, kompetensi, dan jaringan profesional yang telah dibangun sejak kuliah.

Kariernya dimulai di Gunanusa, kemudian berlanjut ke berbagai perusahaan energi hingga akhirnya direkrut oleh Shell, salah satu perusahaan energi terbesar di dunia. Selama 18 tahun di Shell, ia dipercaya menangani berbagai proyek strategis internasional dan memperoleh kesempatan bekerja di Dubai, Norwegia, Brunei Darussalam, Jepang, Irak, Kanada, hingga Oman.

Menurut Heldiansyah, keberhasilan dalam dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kemampuan membangun reputasi profesional. Ia mengingatkan mahasiswa agar terus mengembangkan keterampilan, memperluas relasi, serta menjaga integritas karena reputasi yang baik akan membuka lebih banyak peluang karier.

“Ketika memasuki dunia industri, manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar. Bangun reputasi melalui kualitas kerja dan terus kembangkan keterampilan karena itu yang akan menentukan perjalanan karier ke depan,” pesannya.

Selain hard skill, Heldiansyah juga menekankan pentingnya penguasaan soft skills, seperti kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, empati, kreativitas, inovasi, hingga manajemen waktu. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi pembeda utama antara engineer yang baik dan engineer yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Ia turut membagikan filosofi manajemen waktu yang dipelajarinya selama bekerja bersama tim Jepang melalui konsep 85:15, yakni mengalokasikan sekitar 85 persen waktu untuk perencanaan dan persiapan, sementara 15 persen sisanya digunakan untuk pelaksanaan. Dengan persiapan yang matang, risiko kesalahan dapat diminimalkan dan hasil pekerjaan menjadi lebih optimal.

Heldiansyah juga menceritakan berbagai pencapaian yang diraihnya selama berkarier, di antaranya menjadi alumni UNAS pertama yang bergabung dengan Shell, engineer Indonesia pertama yang bekerja di Shell Norway, serta satu-satunya engineer Indonesia yang memperoleh pengakuan sebagai Global Technical Safety Authority di Shell. Ia juga menjadi engineer Indonesia pertama yang bergabung dalam proyek LNG Kanada dan Oman LNG. Berbagai pencapaian tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa lulusan Universitas Nasional mampu bersaing di tingkat global apabila memiliki kompetensi, karakter, dan kemauan untuk terus belajar.

Menjelang akhir sesi, Heldiansyah mengajak mahasiswa untuk terus mengikuti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), robotika, dan transformasi digital yang akan mengubah wajah industri di masa depan. Ia menilai bahwa engineer harus menjadi pihak yang mampu mengarahkan perkembangan teknologi agar memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Selain itu, ia mendorong mahasiswa agar tidak berhenti belajar, berani mengambil setiap kesempatan untuk mengembangkan kompetensi, serta aktif terlibat dalam berbagai proyek yang dapat memperkaya pengalaman profesional.

Sebagai penutup, Heldiansyah menegaskan bahwa menjadi engineer kelas dunia bukanlah sesuatu yang mustahil. Menurutnya, impian tersebut dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang berkelanjutan, pengalaman langsung di dunia industri, kemauan untuk terus berinovasi, serta komitmen untuk mendokumentasikan dan membagikan ilmu kepada generasi berikutnya.

“To be a world-class engineer is not impossible. Bangun kompetensi sejak menjadi mahasiswa, teruslah belajar di mana pun dan kapan pun, jangan pernah menyerah, serta bagikan ilmu yang dimiliki agar menjadi warisan bagi generasi berikutnya,” tutupnya. (*Dimas Wijaksono)

Bagikan :

Info Mahasiswa

Related Post

UNAS Perkuat Komitmen Kampus Aman, KOMDIS Gelar Workshop Anti Kekerasan
Buku Sistem Demokrasi Pancasila, Bukti Andil Para Akademisi dalam Merawat Pancasila
Menindaklanjuti Kerjasama, AKPARNAS dan UPH Adakan Workshop Public Speaking
Webinar Holistic Human Development dalam Rangkaian Yudisium Series FTKI Semester Ganjil 2020/2021
Potret Aktivitas Human Trafficking, Magister Ilmu Hukum Selenggarakan Webinar Studium Generale
PPI UNAS Luncurkan E-Book “Generasi Terakhir” Berbahasa Arab dan Inggris

Kategori Artikel

Berita Terbaru

Jadwal pelaksanaan PLBA T.A 2026/2027

Hari : RABU

Tanggal : 23 September 2026

Pukul : 07.00 – 16.00 WIB

Auditorium Universitas Nasional