Jakarta (Humas UNAS) – Keluarga Besar Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama dengan tema “Menebar Inspirasi Ramadan untuk Penguatan Akhlak, Ilmu, dan Kepedulian Global” di Auditorium Universitas Nasional (UNAS), Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus refleksi spiritual bagi civitas akademika dan keluarga besar lembaga pendidikan di bawah naungan YMIK.
Acara dihadiri oleh Ketua Pengurus YMIK Dr. H. Ramlan Siregar, M.Si., Rektor Universitas Nasional Dr. El Amry Bermawi Putra, M.A., para wakil rektor, dekan, pimpinan lembaga pendidikan di bawah YMIK, dosen, guru, karyawan, serta tamu undangan lainnya. Turut hadir pula penceramah Ramadan yang juga Dewan Pengarah Lembaga Sertifikasi Profesi MUI Dr. Irwan Habibi Hasibuan, M.E.I. yang memberikan tausiah menjelang waktu berbuka.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Master of Ceremony yang juga Manager Manager Public Relations Sutikman, S.T., M.Kom., dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh karyawan UNAS Miftahudin yang membacakan Surah Al-Baqarah ayat 183–185 tentang kewajiban berpuasa bagi umat Islam.
Dalam sambutannya, Ketua Pengurus YMIK Dr. H. Ramlan Siregar, M.Si. mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan kembali berkumpul dalam suasana Ramadan. Ia menyampaikan bahwa pertemuan tersebut merupakan bentuk silaturahmi yang dapat terlaksana karena doa yang dipanjatkan pada Ramadan sebelumnya.
Ia mengatakan bahwa tujuan utama kehidupan manusia adalah kebahagiaan, dan salah satu prasyarat kebahagiaan adalah memiliki akhlak yang baik. Menurutnya, Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia agar dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
“Tujuan hidup kita sebagai manusia pada dasarnya adalah mencari kebahagiaan. Salah satu syarat untuk mencapai kebahagiaan itu adalah ketika seseorang tidak merasa tertekan karena kesalahan yang ia lakukan. Oleh karena itu, penguatan akhlak menjadi sangat penting dalam kehidupan kita,” ujarnya.
Ramlan juga mengingatkan bahwa Ramadan merupakan momentum untuk menahan diri dari berbagai perilaku yang dapat mengurangi nilai ibadah. Ia mencontohkan bahwa kebiasaan seperti bergosip atau melakukan ghibah dapat menghilangkan pahala puasa meskipun tidak membatalkan puasanya.
Ia berharap nilai-nilai yang dipelajari selama Ramadan dapat terus dijaga setelah bulan suci berakhir. “Semoga kebiasaan baik selama Ramadan, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an dan meningkatkan ibadah, dapat kita pertahankan setelah memasuki bulan Syawal dan sebelas bulan berikutnya,” tambahnya.
Sementara itu, dalam tausiah Ramadan yang disampaikan sebelum berbuka puasa, Dr. Irwan Habibi Hasibuan, M.E.I. menekankan bahwa tema kegiatan yang diangkat sangat relevan dengan ajaran Islam, yakni penguatan akhlak, pengembangan ilmu pengetahuan, serta kepedulian terhadap sesama.
Ia menjelaskan bahwa ketiga nilai tersebut merupakan karakter utama yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an, kata Irwan, Rasulullah digambarkan sebagai sosok yang memiliki akhlak yang sangat agung.
“Ketika Allah memuji Nabi Muhammad, Allah menegaskan bahwa beliau berada di atas akhlak yang agung. Inilah yang harus menjadi teladan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan,” jelasnya.
Irwan juga menuturkan bahwa kecintaan Nabi Muhammad kepada umatnya tercermin dalam doa yang beliau panjatkan. Ia menyampaikan kisah ketika Nabi mendoakan istrinya, Aisyah, agar diampuni seluruh dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.
Menurut Irwan, Nabi kemudian menyampaikan bahwa doa yang sama juga dipanjatkan untuk seluruh umatnya dalam setiap salat yang beliau lakukan. Hal tersebut menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi kepada umatnya.
Selain akhlak, Irwan menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan umat Islam. Ia mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa kedudukan orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan orang yang hanya beribadah tanpa ilmu.
“Keutamaan orang berilmu dibandingkan orang yang rajin ibadah itu sangat tinggi. Bahkan seluruh penghuni langit dan bumi, termasuk malaikat dan makhluk lainnya, mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia,” tuturnya.
Ia juga mengajak para dosen, guru, dan tenaga pendidik yang hadir untuk bersyukur atas profesi yang dijalani. Menurutnya, mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada orang lain merupakan amalan yang sangat mulia karena memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Irwan menyinggung pentingnya kepedulian sosial yang tidak hanya terbatas pada lingkungan sekitar, tetapi juga mencakup kepedulian global. Ia mencontohkan bagaimana para sahabat Nabi menyebar ke berbagai wilayah untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan kepedulian kepada umat manusia.
Menurutnya, kepedulian terhadap sesama merupakan bagian dari ajaran Islam yang menempatkan umat Muslim sebagai rahmat bagi seluruh alam. Hal ini sejalan dengan konsep rahmatan lil ‘alamin yang menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan manusia, lingkungan, dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan.
“Sebagai umat Islam yang berakhlak dan berilmu, kita harus memiliki kepedulian terhadap sesama manusia dan juga terhadap lingkungan. Islam mengajarkan bahwa kita harus menjadi rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya.
Kegiatan tausiah kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Dr. Irwan Habibie Hasibuan. Dalam doanya, ia memohon agar seluruh hadirin diberikan kekuatan untuk menyelesaikan ibadah Ramadan dengan baik serta dipertemukan kembali dengan bulan suci tersebut pada tahun berikutnya.
Acara dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama dan salat Magrib berjamaah yang semakin mempererat kebersamaan keluarga besar YMIK, Universitas Nasional, serta lembaga pendidikan yang berada di bawah naungannya.
Melalui kegiatan ini, YMIK berharap semangat Ramadan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk terus memperkuat akhlak, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. (*Dimas Wijaksono)








