Sastra Indonesia UNAS Gandeng Film Bisikan Desa Gringsing, Dorong Mahasiswa Terus Berkarya dan Berinovasi

Jakarta (UNAS) – Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Nasional (UNAS), memperluas ruang pembelajaran mahasiswa melalui kolaborasi dengan industri kreatif. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan Bedah Film Bisikan Desa Gringsing di UNAS, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Cyber UNAS Pejaten untuk penandatanganan MoU dan Exhibition Room UNAS Pejaten untuk bedah film tersebut mempertemukan sivitas akademika dengan praktisi perfilman. Selain membahas proses kreatif produksi film, kegiatan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berdiskusi secara langsung dengan sutradara dan pemeran film.

Kehadiran praktisi industri kreatif di lingkungan kampus menjadi ruang pembelajaran yang memperlihatkan bahwa sastra memiliki keterkaitan erat dengan berbagai bentuk karya kreatif. Kemampuan mengolah kata, membangun karakter, memahami emosi, dan menyusun cerita dapat dikembangkan menjadi bekal dalam menghasilkan karya di berbagai medium, termasuk film.

Kegiatan dihadiri Ketua Program Studi Sastra Indonesia UNAS Machdori, S.S., M.Hum., Sekretaris Program Studi Sastra Indonesia Nisrina Rona Nabilah, S.S., M.A., Sutradara Film Bisikan Desa Gringsing Ivander Tedjasukmana, serta para pemeran film, yaitu Surya Saputra, Hetsi Putri, Iskak Khivano, dan Fatmah Faisal Nahdi. Sejumlah dosen FBS UNAS juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Agenda diawali dengan penandatanganan MoU antara Program Studi Sastra Indonesia UNAS dan tim Film Bisikan Desa Gringsing. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan bedah film yang membahas proses produksi, pengalaman selama pengambilan gambar, serta pesan yang ingin disampaikan melalui film.

Dalam sesi bedah film, Ivander Tedjasukmana selaku sutradara sekaligus penulis film membagikan pengalaman mengenai proses kreatif dan berbagai tantangan dalam produksi Bisikan Desa Gringsing. Ia menekankan pentingnya profesionalisme, konsentrasi, empati, dan konsistensi bagi setiap individu yang terlibat dalam proses produksi.

Menurut Ivander, produksi film tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental dan kemampuan setiap anggota tim dalam memahami peran masing-masing.

“Latihan harus memiliki empati dan konsistensi yang besar,” ujar Ivander.

Ia juga mengajak mahasiswa Sastra Indonesia untuk tidak memandang sastra sebagai bidang yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, sastra dapat menjadi fondasi dalam mengembangkan gagasan dan menghasilkan karya kreatif.

“Untuk teman-teman sastra, sastra adalah kunci dari semua. Setiap kata atau kalimat bisa membawa kita ke mana yang kita mau. Karena itu, tetap fokus dan terus berkembang,” pesannya.

Ivander turut mendorong mahasiswa untuk berani menghadapi berbagai tantangan dalam proses kreatif. Menurutnya, penolakan dan kegagalan merupakan bagian dari perjalanan dalam menemukan ruang serta kesempatan untuk berkembang.

Sementara itu, pemeran film Surya Saputra membagikan pengalaman selama mengikuti proses produksi, khususnya penggunaan teknologi virtual production (VP). Menurutnya, teknologi tersebut menghadirkan pengalaman berbeda bagi pemain karena menuntut fokus dan konsentrasi dalam menjalankan setiap adegan.

Virtual production itu membuat kita harus benar-benar fokus dan konsentrasi,” ungkap Surya.

Surya juga menceritakan salah satu pengalaman emosional selama proses syuting ketika para pemain harus membangun suasana setelah melihat karakter Fatimah, yang diperankan sebagai Kembang Desa Gringsing, mengalami kematian secara tidak wajar.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan seorang aktor tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dialog. Pemain juga perlu mampu membangun emosi dan memahami situasi yang terdapat dalam cerita agar karakter dapat ditampilkan secara meyakinkan.

Surya kemudian menyampaikan pesan kepada mahasiswa Sastra Indonesia UNAS mengenai pentingnya kepekaan dalam memandang kehidupan. Menurutnya, pembelajaran sastra dapat membantu seseorang melihat dunia melalui perspektif yang lebih kaya serta menghargai keindahan dalam berbagai bentuk.

“Orang belajar sastra biasanya jiwanya romantis, mencintai keindahan, dan cara memandang dunianya lebih indah. Terus berikan ide-ide fresh kalian untuk memperkaya Indonesia,” kata Surya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada pembelajaran di ruang kelas. Pengalaman, gagasan, dan kepekaan yang diperoleh melalui pembelajaran sastra perlu dikembangkan menjadi karya kreatif yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan kebudayaan Indonesia.

Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan penerapan ilmu sastra dalam industri kreatif. Penguasaan bahasa dan sastra dapat mendukung berbagai proses kreatif, mulai dari pengembangan ide, penulisan cerita, pembangunan karakter, pengolahan dialog, hingga pemaknaan realitas sosial dalam sebuah karya.

Bagi Program Studi Sastra Indonesia UNAS, keterlibatan praktisi industri dalam kegiatan akademik juga membuka ruang pertukaran pengetahuan antara mahasiswa, dosen, dan pelaku industri. Interaksi tersebut memberikan gambaran mengenai tuntutan profesional sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi di luar ruang perkuliahan.

Melalui penandatanganan MoU dan Bedah Film Bisikan Desa Gringsing, Program Studi Sastra Indonesia UNAS mendorong mahasiswa untuk semakin berani mengeksplorasi gagasan, berkarya, dan berinovasi. Sastra tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan akademik, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kekuatan kreatif dalam berbagai medium dan turut berkontribusi dalam memajukan ilmu dan kebudayaan.

Menutup sesi kegiatan, Surya kembali mengingatkan mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya.

“Untuk semua teman-teman, terus berkarya, mengulik, dan merasa untuk mengembangkan karya kalian semua,” pesannya.

Kolaborasi antara Program Studi Sastra Indonesia UNAS dan tim Film Bisikan Desa Gringsing diharapkan dapat memperluas pengalaman belajar mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan industri kreatif. Melalui ruang kolaborasi tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengolah pengetahuan sastra menjadi gagasan, inovasi, dan karya yang relevan dengan perkembangan zaman serta memperkaya khazanah budaya Indonesia. (SAF)

Bagikan :

Info Mahasiswa

Related Post

UNAS Jadi Tuan Rumah dalam Penjajakan Kerjasama Internasional Bersama BUFS Korea
HIMASOS UNAS Gelar Socio Day 2025: Mengupas Dampak Media Sosial terhadap Identitas Generasi Muda
Ketua PPI Unas Ajak Kalangan Pesantren Lakukan Konservasi Lingkungan Melalui Pendekatan Islam
FIKES Kukuhkan Lulusan Profesi Ners dan Bidan dalam Prosesi Angkat Sumpah
Hidup di Tengah Pandemi, Ketua PPI Unas Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Sekitar
UPT Perpustakaan Fasilitasi Bedah Buku Hasil Kolaborasi Para Praktisi Pariwisata

Kategori Artikel

Berita Terbaru

Jadwal pelaksanaan PLBA T.A 2025/2026

Hari : RABU

SESI : 1

Tanggal : 24 September 2025

Pukul : 07.00 – 12.00 WIB

Auditorium Universitas Nasional

FAKULTAS

  1. FISIP
  2. FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA
  3. FAKULTAS TEKNIK DAN SAINS
  4. FAKULTAS TEKNOLOGI  KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

SESI : 2

Pukul : 13.00 – 16.00 WIB

Tempat : Auditorium Universitas Nasional

FAKULTAS

  1. FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
  2. FAKULTAS HUKUM
  3. FAKULTAS ILMU KESEHATAN
  4. FAKULTAS BIOLOGI DAN PERTANIAN

Tempat : Auditorium Universitas Nasional

Hari : Kamis

Tanggal 25 September 2025

Pukul : 07.00 – 16.00 WIB

  1. FISIP
  2. FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA
  3. FAKULTAS TEKNIK DAN SAINS
  4. FAKULTAS TEKNOLOGI  KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
  5. FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
  6. FAKULTAS HUKUM
  7. FAKULTAS ILMU KESEHATAN
  8. FAKULTAS BIOLOGI DAN PERTANIAN

Tempat : Auditorium Universitas Nasional