JAKARTA (UNAS) – Universitas Nasional (UNAS) menyelenggarakan The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 di Auditorium Cyber UNAS, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026). Konferensi internasional yang mengangkat tema “Beyond 2030: Redefining Global Resilience in the Age of Polycrisis” tersebut diikuti lebih dari 300 peserta secara luring dan daring dari tujuh negara untuk membahas tantangan ketahanan global di tengah berbagai krisis yang saling berkaitan.
Konferensi yang dipimpin oleh Dr. Robi Nurhadi selaku Conference Chair ini menghadirkan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, H.E. Mohammad Boroujerdi, serta Staf Ahli Menteri Keuangan Republik Indonesia Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, Dr. Arief Wibisono, S.H., LL.M., sebagai tamu kehormatan.
ICGI ke-3 menjadi forum akademik untuk mengkaji persoalan tata kelola global, dinamika ekonomi internasional, serta ketahanan energi dan pangan. Pembahasan tersebut relevan dengan semakin kompleksnya tantangan dunia menjelang tenggat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030.
UNAS Soroti Fenomena Polikrisis Global
Dalam sambutan pembukaan, Dr. Robi Nurhadi menjelaskan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi satu krisis, tetapi berbagai krisis yang saling berhubungan dan memperburuk dampak satu sama lain. Fenomena tersebut dikenal sebagai polycrisis atau polikrisis, yang mencakup persoalan politik, ekonomi, energi, dan pangan.
“Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 tinggal empat tahun lagi, tetapi dunia justru semakin terfragmentasi. Tiga subtema ICGI hari ini merupakan bagian dari upaya menjawab tantangan polikrisis tersebut,” ujar Dr. Robi.
Menurutnya, forum internasional diperlukan untuk mempertemukan perspektif akademisi dan praktisi dari berbagai negara. Melalui dialog lintas negara, pembahasan persoalan global diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan, inklusif, dan berorientasi pada penguatan ketahanan global.
Tiga Isu Strategis Menjadi Fokus Pembahasan
ICGI 2026 mengangkat tiga bidang utama yang berkaitan dengan tantangan global, yaitu tata kelola, ekonomi, serta energi dan pangan.
1. Tata kelola global dan dinamika keamanan internasional
Pada bidang tata kelola, konferensi membahas dinamika kerja sama pertahanan dan implikasinya terhadap tatanan internasional. Salah satu isu yang disoroti dalam materi konferensi adalah Pakta Pertahanan Makkah yang disebut melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Pembahasan diarahkan pada pertanyaan mengenai dampak kerja sama pertahanan berbasis identitas terhadap peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), termasuk implikasinya terhadap stabilitas dan kerja sama internasional.
2. Kerja sama ekonomi dan krisis Terusan Suez
Pada bidang ekonomi, konferensi menyoroti hubungan kerja sama Indonesia dan Mesir di tengah tekanan terhadap jalur perdagangan internasional. Gangguan keamanan di kawasan Laut Merah dan Terusan Suez menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi arus perdagangan, biaya logistik, serta penerimaan ekonomi negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut.
Pembahasan ini menekankan pentingnya kerja sama ekonomi antarnegara dan penguatan ketahanan terhadap risiko geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok global.
3. Ketahanan energi dan pangan
Pada bidang energi dan pangan, konferensi membahas dampak gangguan pelayaran di Selat Bab al-Mandeb terhadap distribusi komoditas strategis. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan internasional sehingga gangguan keamanan dapat meningkatkan risiko keterlambatan pengiriman dan tekanan biaya distribusi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi dan pangan tidak dapat dilepaskan dari stabilitas geopolitik, keamanan jalur perdagangan, dan koordinasi kebijakan antarnegara.
Hadirkan Pembicara dari Berbagai Negara
Untuk memperluas perspektif dalam pembahasan isu global, ICGI 2026 menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai negara. Mereka adalah:
- Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi dari Indonesia.
- Prof. Hamdan Daniel, Ph.D. dari Malaysia.
- Dr. Tufan Kutay Boran dari Turki.
- Madam Mona Hwaila, yang mewakili Grand Mufti Australia, Prof. Dr. Sheikh Salim Alwan.
- Dr. Sharif Abu Shamalla dari Palestina.
- Dr. Sheikh Mohammad Altafurahman dari Thailand.
Para pembicara tersebut berkontribusi dalam diskusi mengenai dinamika politik internasional, tata kelola global, hubungan ekonomi, serta tantangan ketahanan di tengah situasi dunia yang semakin kompleks.
Keterlibatan akademisi dan praktisi dari berbagai negara diharapkan dapat memperkaya sudut pandang peserta dalam memahami persoalan global sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan untuk merumuskan pendekatan penyelesaian yang konstruktif.
ICGI Siapkan Rekomendasi Kebijakan
Dr. Robi menegaskan bahwa hasil konferensi tidak hanya ditujukan untuk kepentingan akademik, tetapi juga diharapkan memberikan kontribusi bagi proses pengambilan keputusan.
“Hasil ICGI tidak akan berhenti di auditorium. Kami akan menerbitkan Policy Brief Beyond 2030 Framework sebagai bahan rekomendasi bagi para pengambil keputusan,” tegasnya.
Dokumen tersebut direncanakan menjadi salah satu luaran konferensi yang merangkum gagasan dan rekomendasi mengenai penguatan ketahanan global. Melalui luaran tersebut, hasil diskusi diharapkan dapat menjangkau pemangku kepentingan yang lebih luas dan mendukung penyusunan kebijakan yang responsif terhadap tantangan lintas sektor.
Penyelenggaraan ICGI 2026 didukung oleh PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), BAZIS DKI Jakarta, dan Universitas Nasional. Melalui konferensi internasional ini, UNAS mendorong pengembangan kajian global yang inklusif serta mengutamakan dialog dan penyelesaian persoalan tanpa memperbesar eskalasi konflik.
Konferensi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi dalam pembahasan persoalan internasional melalui penelitian, pertukaran pengetahuan, dan rekomendasi kebijakan yang berorientasi pada ketahanan global menjelang 2030.(***)












