UNAS-CYBER EDU INKOR GELAR SEMINAR “WORKING OPPORTUNITY IN KOREA”

Ribuan peluang kerja terbuka luas di negara gingseng. Gaji yang menggiurkan, dengan nominal 8-10 kali gaji di Indonesia, menjadi daya tarik ribuan Tenaga Kerja Indonesia untuk berbondong-bondong mengejar karir di negara yang telah menjadi salah satu raksasa Asia dan Apa saja yang dibutuhkan untuk dapat bekerja di sana? UNAS membahasnya dalam seminar ini.

JAKARTA (UNAS) – Universitas Nasional bersama Cyber Edu Inkor menggelar Seminar bertajuk ‘’Working Opportunity in Korea’’.  Seminar diselenggarakan di Menara UNAS Ragunan, Selasa (27/3) dan menghadirkan berbagai narasumber dari Kementerian Luar Negeri, BNP2TKI dan Departemen Tenaga Kerja, guna membahas tentang peluang kerja di Korea Selatan serta hal-hal yang harus diperhatikan untuk dapat bekerja di luar negeri, khususnya di Korea Selatan.  Untuk itu, UNAS turut mengundang 40 perusahaan Korea di Indonesia serta pimpinan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia.

Menurut Rektor Universitas Nasional, Dr. El Amry Bermawi Putera, MA  saat ini peluang untuk bekerja di Korea sangat terbuka luas. Kesempatan ini pun kemudian banyak dimanfaatkan oleh Tenaga Kerja Indonesia untuk bekerja di Korea. Tidak hanya untuk profesi sebagai asisten rumah tangga, namun juga semi professional seperti bekerja di pabrik atau bidang lain di perusahaan korea. 

Saat ini ada sekitar 40 ribu pekerja Indonesia yang bekerja di Korea dan sekitar 6 ribu orang datang dan pergi ke Korea untuk bekerja. Tingginya angka pekerja Indonesia yang ingin bekerja ke Korea disebabkan, salah satunya karena tingkat penghasilan yang ditawarkan sangat menggiurkan karena pekerja bisa mendapatkan gaji 8-10 kali lebih tinggi dibandingkan jika bekerja di Indonesia. 

Meskipun demikian, berbagai kendala masih menjadi keprihatinan bersama. Antara lain tingginya tingkat kecelakaan kerja yang terjadi di Korea. “Hal ini biasanya terjadi akibat kurangnya komunikasi antara pekerja Indonesia dengan pihak Korea. Biasanya karena kurangnya kemampuan untuk memahami bahasa dan budaya Korea,” ungkap El Amry. 

Untuk itu, lanjutnya, pekerja Indonesia harus mempersiapkan bekal untuk bekerja di Korea. Salah satunya adalah mempelajari bahasa dan budaya Korea. Universitas Nasional, kata El Amry, merupakan universitas pertama yang membuka program studi DIII Bahasa Korea, yang saat ini telah diperluas dengan membuka S1 Bahasa Korea.

“Selain itu kami juga bekerjasama dengan belasan universitas di Korea Selatan seperti Cyber Hankuk University of Foreign Studies, Kyungpook National University dan Catholic Daegu University untuk meningkatkan kualitas pengajaran hingga pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi lain seperti penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” ungkap El Amry. 

Hal senada juga diungkapkan oleh President Director Cyber Edu Inkor, Jang Youn Cho, Ph.D. Menurutnya kesiapan bahasa merupakan faktor penting yang harus diperhatikan pekerja Indonesia sebelum ke Korea. Kerjasama UNAS dengan Cyber Hankuk University of Foreign Studies telah berbuah hadirnya studio pengajaran berteknologi canggih yang 85 persen peralatannya didatangkan dari Korea. Dengan studio ini, pengajaran bahasa Korea dapat direkam dan dinikmati oleh masyarakat seluruh Indonesia  tanpa kendala waktu dan jarak, karena Unas dan Cyber Edu Inkor menerapkan pengajaran berbasis online. 

Namun, tak hanya pengetahuan akan bahasa Korea, hal lain turut menjadi penentu ketika ingin bekerja di luar negeri. Salah satunya adalah budaya dan etos serta etika bekerja di negara asing. Seperti yang diungkapkan oleh R Haryadi Agah, Direktur Pelayanan dan Penempatan TKI BNP2TKI yang menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut. Menurut Haryadi, calon tenaga kerja Indonesia harus memenuhi persyaratan administrasi dan lulus tes seleksi yang terdiri dari antara lain tes bahasa dan skill (kemampuan).

 ‘’Jadi tidak hanya mampu dari sisi bahasa saja, tapi juga kemampuannya kita tes. Dan mulai tahun 2016, sistem tesnya menggunakan sistem poin. Artinya, masing-masing tes memiliki bobot poin tersendiri. Meskipun calon tenaga kerja lulus tes bahasa, namun apabila tidak lancar berkomunikasi, hal ini turut menjadi pertimbangan. Sejak 2015 pun kami menerapkan sistem online dan sidik jari sehingga, tidak ada lagi joki dalam mengerjakan tes,’’ ungkapnya.

Terkait dengan peluang kerja di Korea Selatan, Haryadi turut mengakui bahwa setiap tahunnya negara gingseng tersebut memang membutuhkan ribuan pekerja dari luar negaranya. ‘’Korea butuh 58 ribu tenaga kerja dari luar Korea, karena itu peluang kerjanya sangat besar. Jumlah ini diperebutkan oleh negara-negara di sekitarnya, termasuk di Indonesia,’’ aku Haryadi.

Peluang kerja ini tidak terlepas dari kerjasama bilateral antara kedua negara, yaitu Indonesia dengan Korea Selatan. Deputi Direktur Kementerian Luar Negeri, Joannes Ekaprasetya Tandjung, Ph.D mengungkapkan kerjasama antara kedua negara telah ada sejak tahun 1971 serta diperbarui pada tahun 2017 dengan memperluas bidang kerjasama seperti di bidang kesehatan dan transportasi.

Joannes pun turut mengapresiasi kerjasama antara UNAS dengan Korea Selatan yang dilihatnya sebagai wujud implementasi dari kerjasama bilateral yang telah dilakukan oleh kedua negara. ‘’Universitas memiliki peran yang sangat penting dalam mensukseskan kerjasama ini. Seperti yang disampaikan oleh Presiden Jokowi, jangan sampai kerjasama bilateral yang ditanda tangani hanya sebatas kata-kata saja, namun harus diimplementasikan secara nyata,’’ paparnya.