Tantangan Revolusi Industri 4.0 Bagi Lulusan FTS UNAS

JAKARTA – Pemerintah Indonesia telah menggemparkan revolusi industri 4.0. Berbagai aspek kehidupan mulai berubah akibat dampak dari revolusi industri 4.0, baik itu gaya hidup maupun pola pikir manusia. Dalam tonggak baru ini, perlu adanya peningkatan tenaga kerja manusia bila tak ingin tergantikan dengan robot. Salah satunya adalah melalui peran lulusan sarjana Teknik dan Sains yang memiliki keterkaitan langsung dalam bidang internet dan teknologi. 

Menghadapi hal ini, Fakultas Teknik dan Sains UNAS melangsungkan kuliah umum mengenai ‘Peran Sarjana Teknik dan Sains dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0.’ bersamaan dengan pelepasan wisudawan dan wisudawati FTS, pada Sabtu (6/10).  Kegiatan itu diisi oleh pemaparan materi dari alumni FTS UNAS, Ir. Nur Fauzi Soelaiman, M.Kom.

Ditemui diruangannya, Ketua Program Studi Teknik Fisika, Fitria Hidayanti, S.Si., M.Si., mengatakan bahwa peran dari sarjana teknik dan sains sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan revolusi industri generasi ke 4.0.  Tantangan ini akan dihadapi oleh semua kalangan khususnya generasi muda, oleh karena itu generasi muda harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut.

“Mahasiswa teknik dan sains ini mempelajari tentang bagaimana fungsi pengendalian dan monitoring jarak jauh,  mobil tanpa pengemudi, dan masih banyak yang lainnya. Semua berkaitan dengan revolusi industri 4.0 yang berbicara tentang robot industri yang sudah dimodifikasi,” ujarnya, pada Selasa (9/10).

Fitria menambahkan, tantangan yang akan dihadapi dengan adanya revolusi industri 4.0 misalnya seperti hilangnya profesi dosen dalam mengajar, karena telah digantikan oleh robot. Namun, kemampuan analisis dan berpikir  dosen tak akan pernah tergantikan oleh robot. “Seperti itulah, meskipun tugas manusia ada yang hilang namun tidak hilang semua, tetap ada tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh manusia,” imbuhnya.

Tantangan besar lainnya adalah, gaungnya revolusi industri 4.0 tidak hanya di Indonesia tetapi sudah mendunia. “Saya harap lulusan FTS UNAS bisa mengetahui, memahami, dan mempelajari tantangan itu sehingga masih bisa berada didalamnya supaya tetap eksis. Semoga mereka tidak hanya bekerja di revolusi industri, tetapi bagaimana mereka bisa membuka lapangan untuk memperkerjakan orang,” tutup Fitria.

Acara itu dihadiri oleh Ikatan Alumni FTS UNAS dan ditutup dengan pemberian sertifikat kepada lulusan terbaik oleh Dekan FTS, Basori, S.T., M.T. Lulusan terbaik itu diraih oleh Agus Supriyadi dari program studi Teknik Fisika, Zulfa Fajriani dari program studi Teknik Mesin, Hensen Ramanda Putra dari program studi Teknik Elektro, dan Lutvia Sepafrianing Tyas Pertiwi dari program studi Fisika.(*NIS)