Ipoh, Malaysia (UNAS) – Hari kedua pelaksanaan The 8th World Conference on Islamic Thought and Civilization (WCIT) 2026 menghadirkan sesi Public Health: Hygiene and Sanitation yang menyoroti kontribusi nilai-nilai Islam dalam memperkuat kesehatan masyarakat. Konferensi internasional bertema “Where Everyone Matters: Pride & Unity in Islam” ini mempertemukan cendekiawan, ilmuwan, ulama, serta pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas kontribusi pemikiran Islam dalam menjawab tantangan global.
Konferensi dibuka secara resmi oleh Sultan Perak Sultan Nazrin Muizzuddin Shah, Deputi Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Fadillah Yusof, dan Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia Dato’ Seri Diraja Dr. Zambry Abd Kadir. Sejumlah ilmuwan dan tokoh dunia turut menjadi pembicara, termasuk akademisi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka.
Dari Indonesia, hadir Prof. Dr. Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015 dan mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2014–2015. Kehadirannya menambah kontribusi pemikiran Indonesia dalam forum internasional yang membahas peradaban Islam dan pembangunan global.
Pada kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional (UNAS) sekaligus Ketua Pusat Pengajian Islam (PPI) UNAS, Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, mempresentasikan hasil riset berjudul Evolving Islamic Faith Practices and Perspectives for WASH: From Ritual Purity to Inclusive Public Health and Sustainable Development.
Dalam paparannya, Dr. Fachruddin menjelaskan bahwa ajaran Islam telah meletakkan fondasi yang kuat bagi penerapan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) melalui praktik wudu, kebersihan diri, serta nilai menjaga kemaslahatan. Menurutnya, tantangan saat ini adalah mentransformasikan praktik kebersihan yang bersifat individual menjadi gerakan kolektif yang mampu meningkatkan kesehatan masyarakat, menjaga keberlanjutan lingkungan, dan mendorong inklusi sosial.
Ia juga memaparkan hasil kolaborasi riset PPI UNAS bersama mitra internasional di Indonesia, Bangladesh, dan Nepal yang mengintegrasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam program perubahan perilaku higiene dan sanitasi. Pendekatan tersebut diterapkan melalui khutbah Jumat, kegiatan masjid, pendidikan di pesantren, serta diskusi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis agama lebih efektif dalam meningkatkan kebiasaan mencuci tangan, penerapan sanitasi yang lebih baik, serta pengelolaan kebersihan rumah tangga dibandingkan dengan pendekatan promosi kesehatan konvensional. Temuan tersebut sekaligus menegaskan bahwa lembaga keagamaan dapat berperan sebagai pusat komunikasi kesehatan yang efektif karena didukung oleh tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi.
Selain itu, Dr. Fachruddin memaparkan hasil penelitian terbaru PPI UNAS yang dipublikasikan dalam International Journal of Hygiene and Environmental Health (2026). Penelitian tersebut mengungkap adanya kesenjangan akses informasi kesehatan bagi penyandang disabilitas dan kelompok lanjut usia. Temuan ini menegaskan pentingnya merancang program higiene dan sanitasi yang lebih inklusif agar seluruh lapisan masyarakat memperoleh akses yang setara terhadap informasi dan layanan kesehatan.
Menutup presentasinya, Dr. Fachruddin menegaskan bahwa pendekatan berbasis agama mampu memperkuat perubahan perilaku karena dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab moral, dan partisipasi aktif masyarakat. Ia mengajak negara-negara Muslim untuk mengembangkan pemahaman mengenai kebersihan yang tidak hanya berorientasi pada ritual kesucian, tetapi juga menjadi landasan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Partisipasi Dr. Fachruddin pada WCIT 2026 semakin memperkuat posisi Universitas Nasional sebagai perguruan tinggi yang aktif menghadirkan riset berdampak di tingkat internasional. Melalui kolaborasi lintas negara dan pendekatan yang mengintegrasikan sains, kesehatan masyarakat, serta nilai-nilai Islam, UNAS menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi pembangunan kesehatan masyarakat dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).




