Pusat Studi Biodiversitas Perkotaan (UrBio) UNAS Gelar Pelatihan Identifikasi Satwa bagi Siswa Komunitas CaniEarth – Canisius College

Jakarta (Humas UNAS) – Pusat Studi Biodiversitas Perkotaan (UrBio) Universitas Nasional (UNAS) menyelenggarakan Pelatihan Dasar Identifikasi dan Pengamatan Satwa untuk Peneliti Muda: Mamalia-Primata, Burung, dan Reptil di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), melalui edukasi dan pelatihan lapangan untuk meningkatkan pengetahuan generasi muda mengenai keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh UrBio UNAS bersama Program Studi S1 dan S2 Biologi UNAS serta Pusat Studi Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar UNAS, bekerja sama dengan CaniEarth, Canisius College Jakarta. Pelatihan diikuti oleh siswa kelas XI Kolese Kanisius yang tergabung dalam komunitas CaniEarth, dengan jumlah peserta dan fasilitator sebanyak 30 orang.

Taman Margasatwa Ragunan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena merupakan kawasan konservasi ex-situ sekaligus ruang terbuka hijau di tengah perkotaan yang memiliki beragam jenis satwa, mulai dari mamalia, burung, hingga reptil. Kondisi tersebut menjadikan Ragunan sebagai ruang pembelajaran lapangan yang relevan untuk memperkenalkan biodiversitas perkotaan melalui pengamatan dan observasi ilmiah secara langsung.

Ketua Pusat Studi Biodiversitas Perkotaan (UrBio) UNAS yang juga Ketua Program Studi Magister Biologi Fakultas Biologi dan Pertanian UNAS, Dr. Fitriah Basalamah, M.Si., dalam sambutannya mengajak peserta memanfaatkan kesempatan pelatihan untuk menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya dari para fasilitator.

Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih peka terhadap keberadaan satwa dan tumbuhan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan rumah maupun sekolah.

“Manfaatkan kesempatan ini untuk bisa bertanya sebanyak-banyaknya kepada para fasilitator. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi kesempatan yang baik bagi teman-teman dari Kanisius untuk mengeksplorasi lebih banyak hal dari lingkungan sekitar. Semoga banyak ilmu yang bisa dibawa pulang,” ujarnya.

Pembelajaran Identifikasi Satwa melalui Pengamatan Langsung dan Jejak Kaki

Koordinator Reseach Affiliate – Pusat Studi Biodiversitas Perkotaan (UrBio) sekaligus Dosen S1 & S2 Biologi UNAS, Dr. Tatang Mitra Setia, M.Si., menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman dasar kepada siswa mengenai cara mengidentifikasi berbagai jenis satwa melalui pengamatan langsung maupun tidak langsung.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari cara membedakan jenis burung berdasarkan karakteristiknya, serta mengenali kelompok herpetofauna, seperti katak, kodok, kadal, dan ular. Peserta juga diperkenalkan pada teknik identifikasi satwa berdasarkan ciri-ciri fisik dan karakteristik lainnya.

Menurutnya, pengamatan satwa tidak selalu dapat dilakukan melalui perjumpaan langsung. Jejak satwa dapat menjadi petunjuk penting untuk mengenali keberadaan dan jenis hewan tertentu. Oleh karena itu, peserta mendapatkan pelatihan membuat cetakan jejak kaki satwa menggunakan gipsum, kemudian mencocokkan hasil cetakan dengan referensi identifikasi yang tersedia.

“Satwa liar terkadang sulit dilihat secara langsung, tetapi bisa dipelajari melalui jejak tapaknya. Dalam kegiatan ini, peserta belajar membuat cetakan jejak satwa, kemudian mengidentifikasinya dengan mencocokkan bentuk jejak tersebut dengan buku referensi,” jelas Tatang.

Ia berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan, khususnya bagi siswa sekolah menengah atas di wilayah Jabodetabek. Menurutnya, pengenalan metode ilmiah melalui praktik lapangan dapat membantu generasi muda memahami keanekaragaman hayati dan pemanfaatan ilmu biologi, sekaligus menumbuhkan kepedulian untuk melindungi satwa di habitatnya.

Pelatihan berlangsung melalui pemaparan materi dan praktik langsung di area Taman Margasatwa Ragunan. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil berdasarkan kelompok satwa yang diamati dan didampingi oleh fasilitator dari Pusat Studi Biodiversitas Perkotaan (UrBio) UNAS, Prodi Magister Biologi serta teman-teman dari Badan Semi Otonom (BSO) mahasiswa Prodi S1  Biologi UNAS, yaitu Kelompok Studi Herpetologi ‘Sahul’, Biological Bird Club ‘Ardea’, dan “Lutung” Forum Studi Primata..

Sepanjang rute pengamatan, peserta mencatat perjumpaan satwa ke dalam tabulasi data yang meliputi jenis satwa, ciri fisik, lokasi, dan waktu perjumpaan. Pengamatan burung dilakukan dengan bantuan binokular, sedangkan pengamatan reptil dilaksanakan dari jarak aman tanpa kontak langsung dengan satwa.

Setelah kegiatan pengamatan, peserta melakukan analisis sederhana terhadap data yang berhasil dikumpulkan, antara lain jenis satwa dan ciri-cirinya. Hasil pengamatan kemudian menjadi bahan diskusi untuk melatih kemampuan peserta dalam mengolah informasi dan menyampaikan temuan berdasarkan observasi lapangan.

Siswa Rasakan Pengalaman Belajar Sains Lapangan

Pelatihan ini memberikan pengalaman langsung kepada para siswa untuk memahami metode pengamatan satwa yang tidak hanya mengandalkan penglihatan, tetapi juga membutuhkan ketelitian, pengetahuan, dan teknik identifikasi yang tepat.

Siswa kelas XI Kolese Kanisius sekaligus Ketua Komunitas CaniEarth, Enzo Navarro Sulistio, mengungkapkan bahwa praktik pembuatan cetakan jejak satwa menggunakan gipsum menjadi salah satu pengalaman yang menarik. Ia bersama peserta lainnya mempelajari tahapan pembuatan cetakan agar hasilnya rapi dengan pendampingan fasilitator UrBio UNAS.

Selain itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai etika pengamatan satwa, perbedaan karakteristik reptil dan mamalia, serta cara melakukan observasi secara aman.

“Menurut saya, kegiatan hari ini sangat menyenangkan karena kami banyak belajar dan tidak membosankan. Kami juga banyak melakukan praktik langsung dengan didampingi kakak-kakak fasilitator, sehingga keamanan tetap terjaga, tetapi kami bisa terjun langsung untuk mengamati flora dan fauna,” ujar Enzo.

Pengalaman serupa disampaikan oleh siswa kelas XI Kolese Kanisius, Reuven Caleb Tan, yang mengamati berbagai jenis satwa selama menjelajahi kawasan Ragunan, di antaranya burung cekakak jawa, babirusa, biawak, dan kuda nil.

Menurut Reuven yang biasa dipanggil Caleb, pengamatan tersebut memberinya pemahaman baru mengenai karakteristik satwa dan bagaimana hewan beradaptasi dengan lingkungan tempat hidupnya. Pengalaman itu juga membuatnya melihat pentingnya menghargai keberadaan satwa dalam kehidupan.

Ia menilai bahwa pemahaman mengenai karakteristik dan kehidupan satwa dapat menjadi landasan untuk meningkatkan penghargaan manusia terhadap hewan dan mendorong kepedulian terhadap kelestariannya.

Sementara itu, siswa kelas XI Kolese Kanisius, Presley C. Panjaitan, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai proses identifikasi satwa liar. Sebelum mengikuti pelatihan, ia menganggap pengamatan hewan sebagai aktivitas yang cukup sederhana. Namun, melalui kegiatan ini, ia memahami bahwa identifikasi satwa di alam membutuhkan teknik khusus.

Presley menjelaskan bahwa ketika satwa tidak dapat diamati dari jarak dekat, peneliti dapat memanfaatkan petunjuk lain, seperti jejak kaki, ukuran, dan bentuk jejak, untuk memperkirakan jenis satwa yang dijumpai. Pengetahuan tersebut diperolehnya melalui praktik dan penjelasan fasilitator selama kegiatan.

Peserta lainnya dari siswa Kolese Kanisius, Brafa A. Wibowo, mengungkapkan bahwa kegiatan pengamatan burung atau birdwatching menjadi pengalaman yang berkesan. Dengan menggunakan binokular, peserta dapat mengamati berbagai satwa, termasuk ular, burung, dan pelikan.

Bagi Brafa, pengalaman tersebut memperlihatkan keindahan alam dan pentingnya menjaga kelestarian satwa. Ia berharap kesadaran untuk menghargai dan melindungi hewan dapat terus ditumbuhkan agar keanekaragaman hayati tetap terjaga pada masa mendatang.

Dorong Kepedulian Generasi Muda terhadap Keanekaragaman Hayati

Melalui kegiatan ini, UrBio UNAS berupaya membekali generasi muda dengan kemampuan dasar dalam mengenali karakteristik, mengidentifikasi, dan membedakan jenis satwa yang diamati. Peserta juga memperoleh pengalaman awal dalam melakukan pencatatan dan analisis data pengamatan sebagai bagian dari proses dokumentasi ilmiah.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi biodiversitas dan memberikan pengalaman pembelajaran sains lapangan (field science) bagi generasi muda. Melalui pengenalan metode ilmiah dan pengamatan langsung, peserta diharapkan semakin memahami keterkaitan antara biologi, ekologi, dan konservasi serta tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati. (*Dimas Wijaksono)

Bagikan :

Info Mahasiswa

Related Post

BP-PRO Fasilitasi Uji Sertifikasi Kompetensi Ahli Perawatan Bangunan Gedung
UNAS Jajaki Kerja Sama dengan Sunchon National University, Korea
Lulusan Pertama Kelas Karyawan Fakultas Ekonomi
Finalisasi Persiapan Akreditasi, BPM Bersama Prodi Pariwisata Lakukan Simulasi Pemantauan IPEPA
Yudisium Magister Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional Tahun Ajaran Semester Ganjil 2020/2021
Dosen FEB UNAS Berhasil Raih Gelar Doktor Dalam Bidang Ilmu Ekonomi

Kategori Artikel

Berita Terbaru

Jadwal pelaksanaan PLBA T.A 2026/2027

Hari : RABU

Tanggal : 23 September 2026

Pukul : 07.00 – 16.00 WIB

Auditorium Universitas Nasional