Jakarta (UNAS) – Sentra Pelayanan Akademik Universitas Nasional (SPA UNAS) menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Buku Ajar pada Kamis (12/2/2026) di Ruang Seminar Selasar Blok A Lantai III UNAS Pejaten. Kegiatan ini menghadirkan Editor Penerbit Erlangga, Suhaimi Elmuhsiin, sebagai narasumber untuk membekali dosen dalam menyusun buku ajar yang berkualitas dan layak terbit.
Pelatihan tersebut menjadi langkah strategis UNAS dalam memperkuat budaya akademik, khususnya pengembangan bahan ajar Mata Kuliah Umum (MKU) yang berperan dalam pembentukan karakter dan pola pikir mahasiswa.
Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) UNAS, Dr. Dra. Sri Handayani, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa MKU memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan tinggi.
“MKU bukan sekadar mata kuliah pelengkap, melainkan fondasi pembentukan karakter, wawasan kebangsaan, etika akademik, serta pola pikir kritis mahasiswa. Karena itu, kualitas bahan ajar sangat menentukan mutu proses pembelajaran,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam menyusun buku ajar yang memenuhi standar akademik serta relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan generasi saat ini.
“Kami berharap dari kegiatan ini lahir buku-buku MKU karya dosen UNAS yang berkualitas, memiliki ISBN, dan dapat menjadi referensi di tingkat nasional,” tambahnya.
Sri Handayani juga menyampaikan apresiasi kepada PT Erlangga atas kontribusinya dalam berbagi pengalaman terkait proses penulisan hingga penerbitan buku secara profesional.
Dalam sesi pemaparan materi, Suhaimi Elmuhsiin mengangkat tema “Mengapa Harus Jadi Penulis?” Ia menekankan bahwa menulis merupakan bagian dari tanggung jawab akademisi.
“Menulis adalah kewajiban seorang akademisi, bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga warisan intelektual dan kontribusi keilmuan,” jelasnya.
Ia memaparkan sejumlah alasan dosen perlu aktif menulis, antara lain sebagai bentuk kontribusi ilmiah, peningkatan kredibilitas, penguatan personal branding, peluang memperoleh penghasilan tambahan, serta nilai kebermanfaatan jangka panjang.
Selain memberikan motivasi, Suhaimi menjelaskan tahapan penyusunan buku, mulai dari perencanaan naskah, sistematika penulisan, proses penyuntingan, hingga penerbitan agar sesuai dengan standar industri perbukuan nasional.
Pelatihan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang melibatkan dosen UNAS. Berbagai pertanyaan terkait teknis penulisan, peluang penerbitan, hingga strategi agar naskah dapat diterima penerbit nasional menjadi topik pembahasan.
Sebagai bentuk apresiasi, peserta yang aktif dalam sesi diskusi memperoleh suvenir berupa buku dari Penerbit Erlangga.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber dan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen untuk memperkuat tradisi menulis di lingkungan akademik UNAS.
Melalui pelatihan ini, UNAS menegaskan komitmen dalam membangun ekosistem akademik yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan, di mana dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan karya tulis yang memberikan dampak luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan. (SAF)





