Jakarta (UNAS) – Tim mahasiswa peneliti dari bidang herpetologi yang terdiri dari Wulan Sari, Muhamad Farhan, Safanja Salma Salsabila dan Nur Alifah Andini telah berhasil melaksanakan studi inventarisasi keanekaragaman hayati di kawasan Bukit Lebakmuncang, Desa Lebakmuncang, Ciwidey. Penelitian ini menyoroti pentingnya kelompok herpetofauna (amfibi dan reptil) sebagai penjaga keseimbangan ekosistem dan indikator kualitas lingkungan di kaki Gunung Tambakruyung.
Penelitian yang berlangsung pada 29 November hingga 3 Desember 2025 ini menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES). Tim melakukan pencarian langsung di tiga jalur berbeda: jalur pendakian, jalur conblock, dan jalur agroforestri. Pengamatan dilakukan dalam dua waktu, yakni pagi hari (diurnal) dan malam hari (nokturnal) untuk memastikan seluruh aktivitas spesies terekam dengan baik.
“Kelompok fauna ini memiliki peran yang penting dalam ekosistem sebagai pengendali populasi dalam rantai makanan dan juga salah satu sebagai bio indikator yang menandai kualitas lingkungan,” ujar Wulansari, perwakilan tim herpetologi dalam laporannya dalam Seminar Kuliah Kerja Lapangan (KKL), Sabtu, 3 Januari 2026 di Ruang Seminar Selasar Lt. 3 UNAS.
Secara total, tim menemukan 15 spesies herpetofauna, yang terdiri dari 7 spesies amfibi dan 8 spesies reptil. Berdasarkan data distribusi individu, jalur pendakian mencatatkan jumlah perjumpaan tertinggi dengan 37 individu, diikuti jalur conblock dengan 31 individu, dan jalur agroforestri sebanyak 10 individu.
Dua spesies menonjol sebagai yang paling melimpah di kawasan tersebut:
- Katak Mulut Sempit (Microhyla achatina): Mendominasi jalur pendakian dengan kelimpahan relatif sebesar 50%. Spesies ini banyak ditemukan pada ketinggian 1.406 hingga 1.441 mdpl.
- Kongkang Kolam (Chalcorana chalconota): Menjadi spesies paling melimpah di jalur conblock (30%) dan agroforestri (20%). Keberadaan spesies ini sangat bergantung pada mikrohabitat perairan yang kaya akan tumbuhan herbal.
Berdasarkan analisis indeks keanekaragaman, jalur conblock memiliki nilai tertinggi (2,07) dibandingkan jalur agroforestri (1,69) dan jalur pendakian (1,47). Rendahnya indeks di jalur pendakian diduga berkaitan dengan tingginya intensitas aktivitas manusia.
Meskipun secara umum tingkat keanekaragaman di kawasan tersebut tergolong rendah, tingkat dominansi di semua jalur juga tercatat rendah. Hal ini menandakan bahwa “tidak ada spesies satu spesies pun yang menguasai atau menjaga komunitas herpetto fauna secara berlebihan,” jelas tim dalam kesimpulannya.
Penelitian ini diharapkan dapat menutupi keterbatasan informasi ilmiah mengenai distribusi herpetofauna di wilayah Ciwidey. Tim menekankan bahwa keberagaman tipe habitat di Bukit Lebakmuncang sangat krusial bagi keberlangsungan hidup komunitas herpetofauna di masa depan.
Laporan ini ditutup dengan apresiasi kepada para asisten lapangan dan pengelola Bukit Lebakmuncang (LMDH) yang telah membantu kelancaran pengambilan data di medan yang menantang. (*DMS)
Bagikan :


