JAKARTA (UNAS) – Himpunan Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) menggelar International Seminar 2026 bertema “Towards Global Governance: Integration of Defense and Cybersecurity in Digital Government Based on Good Governance” pada Rabu (6/5) di Aula Blok 1 Universitas Nasional.
Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri untuk membahas tantangan tata kelola global, pertahanan, serta keamanan siber dalam pemerintahan digital. Seminar ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan terkait pentingnya peran generasi muda di tengah perkembangan teknologi global.
Adapun narasumber yang hadir, yakni Dr. Lukman Nul Hakim, S.E., M.M. selaku Deputy III for Cybersecurity and Cryptography in Human Development Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN); Ajarn Tanuwat Rinnanot, M.Pol.Sci., B.A. dari Rangsit University, Thailand; Jamalul Izza sebagai First Vice Chair of the Indonesian Cybersecurity and Digitalization Association (ADIGISI); Dr. Mary Mangai dari School of Public Management and Administration, University of Pretoria, South Africa; Heldha Oktavia Mega Puspita, S.AP., MPA. dari National Tsing Hua University (NTHU), Taiwan; serta Dr. Wan Rohila Ganti Binti Wan Abdul Ghapar dari Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia.
Salah satu sesi seminar turut menghadirkan Putri Indonesia, Gisela Belicia Alma Thesalonica, S.I.A., yang membawakan materi mengenai kesadaran generasi muda terhadap ancaman digital.
Dalam paparannya, Gisela menjelaskan bahwa generasi saat ini hidup pada era ketika batas negara tidak lagi hanya ditentukan oleh wilayah geografis, tetapi juga oleh data.
“Ancaman yang sebelumnya bersifat fisik kini telah beralih menjadi ancaman digital, sehingga keamanan siber menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tingginya penggunaan teknologi di kalangan anak muda. Menurutnya, lebih dari 95 persen Generasi Z memiliki telepon pintar dan rata-rata menghabiskan waktu 6 hingga 9 jam per hari di dunia maya di luar aktivitas sekolah maupun pekerjaan.
“Generasi muda merupakan generasi yang paling terkoneksi, tetapi sering kali kurang menyadari risiko di balik platform digital yang digunakan setiap hari,” tambahnya.
Selain itu, Gisela membahas fenomena fear of missing out (FOMO) yang banyak dialami generasi muda. Menurutnya, keinginan untuk selalu mengikuti tren di media sosial dapat mendorong seseorang membagikan informasi pribadi tanpa mempertimbangkan risiko keamanan.
Ia menjelaskan bahwa serangan siber tidak hanya bersifat teknis dengan menargetkan sistem dan teknologi, tetapi juga bersifat sosial dengan menargetkan perilaku manusia.
“Sebagai generasi muda, kita harus lebih bijak dalam menyikapi perkembangan teknologi dan mampu menggunakannya secara bertanggung jawab,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Keuangan, SDM, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama (AKS-PPMK) FISIP UNAS, Dr. Mary Ismowati, M.Si., menyampaikan bahwa tema seminar tahun ini sangat relevan dengan kondisi global saat ini.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu memberikan wawasan baru kepada peserta terkait tantangan keamanan digital dan tata kelola pemerintahan berbasis teknologi.
Seminar ini juga menekankan pentingnya penerapan prinsip good governance melalui transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat. Beberapa langkah yang disoroti antara lain memperkuat kolaborasi lintas sektor, meningkatkan literasi digital, serta lebih bijak sebelum membagikan informasi di ruang digital.
Melalui kegiatan ini, Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik UNAS berharap mahasiswa dapat menjadi generasi yang cerdas, adaptif, dan memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya keamanan siber dalam mendukung masa depan pemerintahan digital. (TIN)




