Dosen Unas Kembali Paparkan Penelitian Selama Covid-19 dalam Bidang Sosial, Ekonomi, dan Humaniora.

Jakarta (Unas) – Dosen Universitas Nasional (Unas) kembali paparkan hasil penelitian selama pandemi Covid-19, Kamis (25/06). Hal ini dilakukan dalam webinar series keempat yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional (Unas) dan membahas penelitian di bidang sosial, ekonomi, dan humaniora.  

Melalui penelitian berjudul ‘Force Majeur akibat pandemi Covid-19 terhadap eksistensi & pelaksanaan kontrak bisnis’, dosen fakultas hukum Unas, Prof. Dr. Basuki Rekso Wibowo, S.H., M.Si. mengatakan, akibat pandemi ini banyak kegiatan dan usaha yang jadi terhenti sehingga menimbulkian kerugian bagi para pihak baik materiil maupun immaterial.

“Pandemi Covid-19 berdampak pada eksistensi dan pelaksanaan kontrak bisnis yang dibuat sebelumnya oleh para pihak. Selain itu, menimbulkan kesulitan dan menghalangi para pihak untuk dapat memenuhi hak dan kewajiban masing-masing,” katanya.

Dekan Fakultas Hukum Unas itu menambahkan, pandemi Covid-19 merupakan suatu keadaan yang terjadi diluar perkiraan dan campur tangan para pihak dan diluar perkiraan untuk dapat menghindarinya.

Di samping itu, dalam aspek sosiologi, Dr. AF. Sigit Rochadi, M.Si. menuturkan, pandemi Covid-19 telah menimbulkan kepanikan publik di masyarakat. “Mereka (masyarakat) yang awalnya dingin menyikapi virus ini saat muncul di Wuhan, tiba-tiba menjadi panik saat presiden Jokowi mengumumkan ada kasus corona di Indonesia awal Maret 2020,” jelasnya dalam penelitian yang berjudul ‘Kepanikan publik menghadapi virus corona, kritik terhadap teori kepanikan publik dalam studi perilaku kolektif’.

Sigit mengatakan, kepanikan yang diperlihatkan masyarakat seperti kepanikan belanja, kepanikan tertular, dan kepanikan melambatnya pertumbuhan ekonomi yang berujung Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). “Saat pak Jokowi mengumumkan dua warga Indonesia positif maka mal dipenuhi dengan pembeli dan mereka memborong bahan pokok. Tak hanya itu toko kesehatan juga ramai pembeli untuk membeli masker dan hand sanitizer,” tambah dosen FISIP Unas itu. 

Dalam kesempatan yang sama, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unas, Dr. Sufyati H.S, S.E., M.M. dalam penelitiannya mengenai ‘Dampak Covid-19 terhadap kinerja usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia’ mengatakan, Covid-19 telah memberikan dampak bagi kinerja UKM yakni jumlah UKM berdasarkan lama usaha dan omset perbulannya.

“Wabah Covid-19 ini menghantam dan meluluhlantahkan seluruh dunia usaha, termasuk UKM. Baik usaha UKM yang lama maupun yang baru, dengan tenaga kerja yang banyak maupun sedikit ataupun UKM yang memiliki omset besar maupun kecil, semua terdampak oleh wabah ini,” kata Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unas itu.

Menurutnya, sebagian besar pelaku UKM cukup optimis kondisi perekonomian akan berangsur pulih pasca pandemi. Optimisme sendiri merupakan kekuatan dari pemilihan kinerja UKM di Indonesia, karena ini yang membedakan dengan pelaku UKM China.

Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Unas, Dr. Irma Indrayani, S.I.P., M.Si. dalam penelitiannya mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengubah situasi ekonomi dan politik dunia. Dampak virus tersebut tidak hanya merugikan sisi kesehatan, bahkan turut mempengaruhi perekonomian negara-negara di seluruh dunia, tak tekecuali Indonesia.

“Ekonomi global dipastikan melambat, menyusul menetapan dan WHO yang menyebutkan wabah corona sebagai pandemi yang mempengaruhi dunia usaha. Di Indonesia pemerintah mencoba melakukan berbagai upaya untuk menekan dampak  virus corona terhadap industri, salah satunya tetap melakukan kerja sama tapi tetap fokus pada kebijakan domestik,” katanya melalui penelitian ‘Dampak ekonomi politik global pandemi covid-19 ke Indonesia’.

Irma menambahkan, meskipun pandemi ini pada prinsipnya menjadi masalah nasional juga sub nasional, regional, maupun internasional, Namun dalam penyelesaiannya setelah krisis semuanya balik ke nasional recovery. “Jangan hanya lagi fokus pada asal muasal pandemi, tapi fokus pada bagaimana penyelesaian masalah. Pemerintah juga harus bisa memutuskan kebijakan apa yang tepat untuk Indonesia agar bisa keluar dari pandemi,” tutupnya.

Sebagai pembicara terakhir, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unas,  Aos Yuli Firdaus, S.IP., M.Si. mengatakan, perlunya tindakan yang cepat dalam mengatasi Covid-19 mendorong pemerintah untuk gencar melakukan kerja sama Internasional.

“Dalam menyikapi ini Indonesia juga nggak bisa lepas dari kerjasama Internasional. Harus ada upaya baik bilateral maupun multilateral. Kerja sama internasional dilakukan sebagai upaya untuk menjamin akses dan ketersediaan medis seperti obat-obatan dan alat medis mengingat indonesia memiliki keterbatasan sumber daya kesehatan,” ujarnya.

Melalui penelitian berjudul ‘Multi-track diplomacy sebagai strategi Indonesia dalam menanggulangi pandemi Covid-19’, Aos melanjutkan, sebagai sebuah strategi untuk mengatasi Covid-19, partisipasi dan diplomasi semua pihak diperlukan untuk mendapatkan obat dan alat kesehatan, sebab Indonesia harus bersaing dengan negara-negara besar seperti Eropa dan Amerika Serikat.

Webinar series keempat ini merupakan suatu upaya dosen dan mahasiswa Unas untuk mengekspos hasil penelitian selama pandemi Covid-19. Sebelumnya, webinar series telah dilakukan dalam bidang sains, teknologi, dan kesehatan.