Demi Hutan Indonesia, UNAS bersama USAID Hadirkan Seminar Peringati Hari Hutan Internasional 2019

JAKARTA (UNAS) – Hari Hutan Internasional yang ditetapkan pada 21 Maret setiap tahunnya, menjadi ajang berkampanye untuk belajar mencintai hutan. Universitas Nasional (UNAS) bersama United States Agency for International Development (USAID) BIJAK mengadakan seminar untuk memperingati Hari Hutan Internasional 2019 dengan yang bertajuk Learn to Love the Forest.

Seminar yang diselenggrakan pada Senin (25/3) ini mengundang beberapa narasumber yang aktif sebagai peneliti maupun pemerhati lingkungan yaitu Devina Veronika, model dan pemerhati lingkungan, Ramon Tungka yang merupaka Aktor dan Pemerhati lingkungan, Sandayati Fay musisi dan pemerhati lingkungan, Rangga Wisnu yang merupakan aktivis Andalan Nasional Gerakan Pramuka, Adam Komara, pemuda anggota komunitas Biodiversity Warrior KEHATI dan I.B.W Putra yang merupakan bagian dari Environment and Certifcation, Alas Kusuma Group.

Hutan Indonesia dikenal sebagai penyumbang paru-paru dunia nomor 3 yang diberkahi dengan hutan-hutan tropis terluas dan beragam hayati di dunia. Oleh karena itu, perlu kepedulian semua pihak untuk menjaga lingkungan, hutan dan keanekaragaman hayatinya.  Dalam sambutannya Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat dan Kerjasama UNAS mengajak para peserta seminar untuk belajar mencintai hutan. “ Kita harus menyadari arti pentingnya hutan bagi manusia dan seluruh makluk hidup, kalau hutan rusak, maka kehidupan manusia juga rusak. Jadi ayo kita semua belajar untuk mecintai hutan, seperti tema hari ini Learn to Love the Forest”.

Seminar ini merupakan langkah awal kerjasama UNAS dan USAID Bijak dalam bidang penelitian dan pengabdidan masyarakat. Matthew Burton sebagai Direktur dari USAID BIJAK juga menjelaskan bahwa USAID BIJAK akan mendukung dalam menjaga hutan, pembiayaan serta mecari solusi pembangunan berkelanjutan Indonesia dan Amerika Serikat.

“Disini kerjasama menjadi hal prioritas bagi kami, membantu menejemen pemerintah Indoensia dan mendukung perlindungan satwa serta hutan agar lebih baik, kami juga mendukung adanya pembiayaan, solusi pembangunan, serta adanya lingkungan yang berkelanjutan antara kedua negara (Indonesia-Amerika),” ungkap Matt saat diwawancari.Acara yang berkolaborasi antara UNAS dan USAID Bijak ini juga sebagai wadah penyerahan video animasi untuk ditayangkan di seluruh bandara di Indoensia guna mengajak seluruh lapaisan masyarakat sadar akan pentingnya hutan dan fungsinya, terutama untuk mencegah pemburuan liar dan perlindungan satwa.

“Kami siap mentayangkan video ini di 16 bandara yang ada, cara seperti terbilang efektif karena bisa dengan mudah dilihat olah para penumpang pesawat, dengan harapan penyeludupan satwa bisa dikurangi sidikit demi sedikit.” Mengacu pada tema yang diangkat yaitu Learn to Love the Forest, Sosial media juga merupakan wadah yang sangat penting untuk mengedukasi masyarakat agar lebih kenal hutan, mencintai dan menjaga lingkungan. Seperti yang dilakukan model dan pemerhati lingkungan, Devina Veronika.

Menurut Devina, selain berkontribusi langsung dan terjun untuk ikut melepaskan satwa liar, ia juga sering berbagi foto kegiatan dengan pesan- pesan yang penting mengenai hutan kepada pengikutnya di sosial media.“ Jadi selain berkontribusi langsung melalui Non Goverment Organization (NGO), saya juga sering ikut melepas satwa liar dalam penangkaran dan berbagi foto kegiatan dengan caption dan pesan-pesan yang penting untuk followers saya di sosial media,” tutup Devina. (*TIN)