Jakarta (Humas UNAS) – Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP) Universitas Nasional (UNAS), Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, diundang sebagai pembicara dalam International Spiritual Ecology Forum 2026 yang akan diselenggarakan pada 7–9 November 2026 di Taiwan. Partisipasi ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan perspektif Islam Indonesia dalam dialog internasional mengenai hubungan agama, etika, dan keberlanjutan lingkungan.
Fachruddin yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Pengajian Islam (PPI) UNAS dijadwalkan menyampaikan paparan pada Sabtu, 7 November 2026, dalam sesi perspektif Muslim bertajuk “The Earth as a Trust: Islamic Ethics and Ecological Practice” atau “Bumi sebagai Amanah: Etika Islam dan Praktik Ekologis”.
Kepada Humas UNAS, Fachruddin akan mengangkat konsep khalifah dan amanah sebagai landasan etika dalam pengelolaan lingkungan. Menurutnya, manusia dipandang memiliki tanggung jawab untuk merawat ciptaan dengan berpedoman pada nilai keadilan, ihsan atau berbuat kebaikan, keseimbangan ekologis (mizan), kesederhanaan, serta larangan melakukan kerusakan (fasad).
“Selain itu, alam dipahami sebagai ayat-ayat kauniyah yang mencerminkan kebijaksanaan dan kekuasaan Allah. Perspektif tersebut mendorong manusia untuk membangun hubungan dengan lingkungan secara rendah hati, penuh rasa syukur, dan bertanggung jawab,” ujarnya, Selasa, (3/11), di Jakarta.
Perkenalkan Praktik Konservasi Berbasis Islam dari Indonesia
Fachruddin juga akan memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam menghubungkan ajaran Islam dengan praktik konservasi lingkungan, antara lain melalui gerakan Ekopesantren dan kerangka Al-Mizan: A Covenant for the Earth.
Program Ekopesantren yang dikembangkan PPI UNAS mendorong lembaga pesantren untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam, pengetahuan ilmiah, dan praktik ramah lingkungan dalam kegiatan pendidikan serta pengelolaan komunitas. Pendekatan ini menempatkan lembaga keagamaan sebagai ruang pembelajaran sekaligus penggerak perubahan perilaku ekologis di masyarakat.
Selain menyampaikan makalah, Dekan FBP juga tercantum sebagai panelis dalam diskusi lintas agama bertajuk “From Teachings to Action: What Can We Do Together?”. Diskusi tersebut mengajak para pembicara dan peserta untuk mengeksplorasi peluang kolaborasi lintas iman dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan.
Perkuat Kolaborasi Lintas Agama dan Disiplin Ilmu
International Spiritual Ecology Forum 2026 mempertemukan tokoh agama, akademisi, praktisi lingkungan, pendidik, serta perwakilan komunitas adat dari berbagai negara dan tradisi. Forum ini mengusung tema “From Sacred Wisdom to Lived Systems and Collective Action”, yang menekankan pentingnya menerjemahkan kebijaksanaan spiritual menjadi sistem kehidupan dan tindakan kolektif.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari. Pada 7 November, forum berfokus pada praktik keagamaan dan tindakan ekologis. Selanjutnya, pada 8 November, pembahasan diarahkan pada sistem, ekonomi, dan implementasi perubahan. Rangkaian kegiatan ditutup pada 9 November dengan penguatan komitmen dan jejaring global di Museum of World Religions.
Forum ini diselenggarakan oleh University for Life and Peace, Museum of World Religions, dan Spiritual Ecology Research and Development Centre. Sejumlah pembicara dari tradisi Buddha, Katolik, Islam, dan Sikh, serta kalangan akademisi dan pegiat lingkungan, turut berpartisipasi dalam forum tersebut.
Bagi UNAS, undangan ini menjadi ruang untuk memperluas jejaring akademik sekaligus memperkenalkan praktik baik Indonesia dalam membangun etika lingkungan berbasis agama. Partisipasi Dekan FBP juga menegaskan pentingnya pendekatan lintas disiplin yang mempertemukan ilmu biologi dan konservasi, pendidikan, serta nilai-nilai spiritual dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan kerusakan ekosistem.
Melalui dialog dan kolaborasi lintas iman, nilai-nilai keagamaan diharapkan tidak hanya menjadi ajaran, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjaga kelestarian bumi. (*Dimas Wijaksono)
Bagikan :


