Jakarta (UNAS) – Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP) Universitas Nasional (UNAS) menyelenggarakan webinar bertajuk “Biodiversitas Kupu-Kupu Indonesia” secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 12 Juni 2026. Kegiatan ini mengangkat kekayaan keanekaragaman kupu-kupu Indonesia serta pentingnya upaya konservasi di tengah berbagai tantangan yang mengancam habitat alaminya.
Webinar tersebut menghadirkan narasumber utama, Prof. Djunijanti Peggie, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sekaligus alumni Program Studi Biologi UNAS angkatan 1984. Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta siswa sekolah menengah atas (SMA) dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Prof. Djunijanti menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman kupu-kupu dunia dengan tingkat endemisitas yang sangat tinggi, terutama di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.
“Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman kupu-kupu dunia dengan tingkat endemisitas yang tinggi, khususnya di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua,” ujarnya.
Sebagai salah satu pakar lepidoptera terkemuka di Indonesia, ia memaparkan berbagai aspek mengenai keragaman jenis kupu-kupu, persebaran habitat, serta peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Menurutnya, kupu-kupu tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berfungsi sebagai polinator dan bioindikator kesehatan lingkungan.
“Kupu-kupu menjadi indikator penting bagi kualitas lingkungan. Penurunan populasinya sering kali menjadi sinyal terjadinya degradasi habitat,” jelasnya.
Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian UNAS, Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, yang menekankan pentingnya penguatan literasi lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati melalui kegiatan akademik dan ilmiah.
Selain membahas potensi biodiversitas kupu-kupu Indonesia, webinar juga mengulas berbagai tantangan konservasi yang dihadapi saat ini. Beberapa di antaranya adalah hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan, fragmentasi ekosistem, serta perdagangan spesies yang dilindungi, seperti kupu-kupu sayap burung (Ornithoptera spp.).
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Djunijanti yang juga dikenal sebagai penggagas aplikasi KUPUNESIA mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pendataan kupu-kupu melalui pelaporan jenis dan lokasi temuan. Menurutnya, keterlibatan publik dapat mendukung pengembangan basis data biodiversitas nasional sekaligus memperkuat upaya konservasi berbasis sains.
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Melalui webinar tersebut, FBP UNAS menegaskan komitmennya dalam mendukung diseminasi ilmu pengetahuan, penguatan kesadaran lingkungan, serta pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Webinar berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab hingga acara berakhir. (Vit)





