Hadiri Halal Bihalal UNAS, Koko Liem Berikan Tips Dahsyat Menggapai Keberkahan Hidup.

Jakarta ( UNAS) – Menjadi seorang dai atau pendakwah tentunya bukan merupakan cita- cita yang diidam – idamkan oleh pria kelahiran Dumai, Riau, 17 Januari 1979 ini.  Lahir dari pasangan Liem Guanho dan Laihua pria yang sejak kecil telah akrab dengan budaya dan etnis tionghoa ini merupakan sosok yang agamis. Dikenal sebagai anak yang rajin beribadah membawa Liem Hai Thai menjadi sosok seorang budhist yang taat dan disenangi oleh teman – teman seusianya. Lahir dengan nama lengkap Liem Hai Thai  pria yang akrab disapa Koko Liem ini  sekarang lebih dikenal luas oleh masyarakat sebagai seorang dai / ustadz yang selalu tampil nyetrik yang kental dengan nuansa etnis tionghoa disetiap penggalan ceramahnya. Pria yang dalam ceramahnya selalu membawakan materi dengan ringan, menyenangkan serta mudah dipahami inipun sukses mengkolaborasikan sulap sebagai metode dakwah yang terbukti efektif dan diminati oleh masyarakat.

Hadir  mengenakan busana yang nyentrik berbalut warna merah muda Koko Liem datang memenuhi undangan panitia dalam acara halal bihalal bagi segenap dosen  dan seluruh civitas akademika Universitas Nasional dan Akademi – Akademi Nasional. Bertempat di Aula Blok 1 Universitas Nasional para peserta yang terdiri dari para pengurus yayasan, jajaran rektorat, dosen dan seluruh karyawan Unas  ini telah memenuhi ruangan sejak pukul 10.00 WIB. Ada yang berbeda dari perhelatan halal bihalal kali ini selain diisi dengan ceramah agama kegiatan kali ini turut juga diisi pemberian satya lencana bagi dosen dan karyawan yang telah mengabdi selama 25 tahun di Unas serta taklupa pengundian hadiah Umroh bagi karyawan dan dosen yang telah mengabdi selama 25 tahun di Universitas Nasional.

Koko Liem yang hadir sebagai penceramah pada kesempatan kali ini bercerita tentang bagaimana awal mula ia jatuh cinta dengan islam. Pria yang merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara ini menuturkan, bagaimana takbir yang biasa dikumandangkan saat Idul fitri atau lebaran mampu menggugah rasa penasarannya terhadap ajaran islam yang sesungguhnya. Ketika anak-anak non muslim seperti dirinya keluar kelas saat pelajaran agama Islam berlangsung, ia memilih tidak keluar kelas. Liem justru betah mendengarkan kisah Nabi-nabi yang diceritakan oleh guru agama islam di sekolahnya. 

Ketertarikannya terhadap Islam pun tumbuh. Liem  kecil selalu hadir dalam perayaan hari besar Islam di sekolah. Meski demikian, Liem tetap menjalankan kewajibannya untuk menyembah Pey Pekkong bersama keluarganya.  Menginjak  SMP, Liem yang diterima masuk SMP Syeikh Umar, Dumai Riau,tetap melanjutkan pergaulannya dengan Islam melalui kebiasaanya mengikuti pelajaran agama Islam. Liem yang beranjak dewasa, begitu kagum dengan kisah keimanan Nabi Ibrahim AS. Liem mengaku mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam pada usia 15 tahun atau tepatnya 21 Juli 1994. Liem yang haus akan agama barunya tak ragu untuk mendalami. Ia kemudian memutuskan ikut seorang guru yang nantinya menyarankan Liem untuk berdakwah. 

“Setelah masuk islam, saya harus menerima kenyataan pahit, saya terusir dari orang-orang yang saya sayangi. Saya mencoba pulang, namun diusir, begitu seterusnya. Tapi tidak pernah terbersit rasa benci terhadap keluarga saya,” ungkap Liem ketika ditemui dalam sebuah acara di Jakarta Senin ( 10/7).
 
Setelah diusir, dia diasuh oleh seorang ulama Riau bernama KH. Ali Muchsin. Pengasuh Pondok Pesantren Jabal Nur di Kandis, Riau itulah yang mendorong tekadnya untuk menjadi da’i. Usai lulus SMP, Liem yang berganti nama menjadi Muhammad Utsman Ansori melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Daar El Qolam, Balaraja, Banten pada 1995 hingga 1999.

 “Saya ingin mengenal Islam dengan menjadi penghafal Quran, Alhamdulillah, di tahun kedua saya memeluk Islam, saya sudah hafal Quran,” Ungkapnya.

Selesai belajar dari Pondok Pesantren Daar El Qolam, Balaraja Banten, dia kembali melanjutkan di Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Raudhatul Muhsinin, Malang Jawa Timur. Pada tahun 2001, Liem melanjutkan studinya ke Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Lebak bulus Ciputat hingga lulus 2005. Ia kembali melanjutkan studinya mengambil gelar master pada 2005-2008 di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dengan mengambil Jurusan Konsentrasi Ilmu Tafsir. 
 
Pada tahun  2001, Koko Liem dianugerahi jodoh dan menikah dengan Ima Ismawati, S.Thi (alumni Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta, Jurusan Tafsir Hadits). Dari pernikahannya tersebut, Lim kini dikaruniai dua orang putri yang diberi nama Isyah Mardhiyyah Ustman (Tasya Liem) & Syahda Al Ghina Utsman (Syahda Liem). 

Selain bercerita tentang kisah dan perjalanan hidupnya koko liem pun tak lupa untuk membagikan tips sukses dunia akhirat yang telah ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul “Rahasia Menggapai Keberkahan”.  Ada 4 faktor yang dapat menunjang seseorang dalam menggapai keberkahan hidup diantaranya adalah Doa, Usaha, Ikhlas dan tawakal ( DUIT).  Dengan lazimnya kita membiasakan pola hidup yang benar berdasarkan dengan ajaran alquran dan hadist maka dapat dipastikan keberkahan hidup akan segera kita raih. Dengan seringnya kita berdoa serta terus berupaya secara maksimal dan selalu menjadikan ikhlas sebagai landasan niat kita dalam beraktivitas serta selalu memasrahkan seluruh hasil akhir hanya kepada Alloh SWT saja maka secara otomatis kita telah  menjalankan perintah agama yang baik dan benar mengenai cara beribadah baik kepada Alloh SWT maupun kepada sesama manusia.

“ Alhamdulillah puji dan syukur saya ucapkan kepada Alloh atas segala kesempatan yang telah diberikan kepada saya sehingga  pada pagi hari yang berbahagia ini saya dapat  bersilaturahmi dengan bapak / ibu sekalian. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada segenap pengurus yayasan memajukan ilmu dan kebudayaan ( YMIK), serta bapak Rektor UNAS beserta para wakil rektor dan segenap keluarga besar Universitas Nasional.  Moment idul fitri yang selalu kita peringati tiap tahunnya hendaklah dapat menjadikan kita pribadi – pribadi yang tangguh yang lebih taat dan lebih produktif  dibandingkan dengan sebelum Idul Fitri. Kita ini diibaratkan seperti kepompong yang mampu berubah menjadi kupu – kupu yang indah selama masa penantian. Kita pun demikian selama fase bulan ramadhan kita telah ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih sabar lebih santun dan lebih taat. Sehingga setelah Idul Fitri kita kembali suci dan fitrah lagi.  Ada satu hal yang menurut saya merupakan pangkal dari sebuah kesuksesan yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Hendaklah kita yang hadir pada acara ini untuk selalu memuliakan kedua orangtua  kita baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.

Orangtua itu adalah sumber dari keberkahan sumber dari kebaikan sumber dai ampunan serta sumber dari kesuksesan percayalah tidak ada seseorang di muka bumi ini dapat menjadi orang yang sukses tanpa melalui perantara orangtua. Semakin kita memuliakan orangtua maka otomatis Alloh sebagai pencipta kita pun akan memuliakan kita didunia. Dan jika Alloh sudah meninggikan derajat kita maka segala hajat apapun yang kita minta akan senantiasa di kabulkan  oleh Alloh SWT. Sebagai penutup tak lupa saya sebagai pribadi dan kita umumnya untuk selalu meningkatkan taqwa kita setiap saat serta mampu menjadi pribadi yang mau dan mampu memaafkan kesalahan orang lain tanpa ada rasa sakit hati, benci, dendam bahkan iri hati sedikitpun,” tutup Liem