Universitas Nasional Tambah Guru Besar

JAKARTA (UNAS) – Universitas Nasional mengukuhkan dua guru besar baru, yaitu Prof. Dr. Iskandar Fitri, S.T., M.T dan Prof. Dr. Kausar AS, M.Si, di Ragunan, Sabtu (11/2). Pelantikan ini dilakukan oleh Majelis Guru Besar Universitas Nasional yang turut dihadiri oleh Guru Besar dari berbagai universitas lain, baik dalam maupun luar negeri.

Pengukuhan guru besar ini merupakan upaya Universitas Nasional untuk mendorong pengembangan sumber daya manusia, terutama peningkatan jenjang pendidikan akademik bagi para dosen. Dalam periode 4 tahun terakhir ini terdapat 36 orang dosen telah melanjutkan pendidikan pada Strata S3. Selain itu dalam waktu 2 tahun terakhir ini Universitas Nasional juga telah berhasil mengantarkan 3 (tiga) Guru Besar dari berbagai Program Studi, yaitu Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, M.E., di bidang Politik yang telah dikukuhkan pada tahun 2015.

 Pada tahun 2016, Universitas Nasional telah melahirkan dua Guru Besar, yakni Prof. Dr. Iskandar Fitri, S.T., M.T. di bidang Teknologi dan Prof. Dr. Kausar AS., M.Si. di bidang Imu Politik yang dikukuhkan bersamaan dengan Peresmian Gedung Pascasarjana Menara UNAS 1 dan 2, di Ragunan, Sabtu (11/2).

Dalam pidatonya, Prof. Iskandar Fitri mengungkapkan perjalanannya menuju gelar Profesor yang telah direncanakannya sejak 10 tahun yang lalu. Ketertarikannya pada mata kuliah Antena dan Propagasi ketika menempuh program Magister S2 Teknik Elektro di Universitas Indonesia, membuat bapak dua anak ini ingin lebih menekuni perancangan Antena Mikrostrip.

‘’Saya sangat terkait untuk mendalaminya karena konsep dasar pada desain tersebut sangat luas cakupan maupun implementasinya di dalam pengembangan perangkat telekomunikasi yang berbasis nirkawat (wireless communication systems) masa depan, khusus untuk sistem komunikasi nirkawat bergerak (mobile),’’ ungkap Iskandar yang membacakan pidato pengukuhan berjudul Antena Mikrostrip : Dari Frekuensi Pita Sempit menuju Pita Lebar.

Sedangkan Prof. Dr. Kausar AS, M.Si membacakan pidato pengukuhan berjudul Mengelola Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah yang Efektif dan Efisien dalam Politik Desentralisasi.

‘’Kebijakan desentralisasi yang melahirkan otonomi daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia merupakan pilihan yang tepat, mengingat kondisi geografis Indonesia yang luas dan memiliki potensi serta karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain berupa keadaan demografis (kependudukan) yang terdiri dari berbagai etnis, sosial budaya, adat dan bahasa, keagamaan, yang heterogen berbaur dalam keberadaan warga masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi, tingkat kemajuan dan daya nalar yang berbeda-beda pula,’’ ungkap Kausar.