‘Islam Dan Terorisme’ dan Cara Menyikapinya Islamophobia

Jakarta [UNAS] – Islamofobia atau opini anti islam sebenarnya bukanlah hal baru. Tapi topik ini selalu hangat dibincangkan oleh masyarakat global. Berangkat dari sana Himpunan Mahasiswa Masjid Sutan Takdir Alisjahbana (HIMMASTA) Universitas Nasional (Unas) mengadakan seminar yang membahas hal tersebut.

Seminar ‘Islam dan Terorisme’ Menyikapi Islamophobia Masyarakat Global diadakan pada hari Jum’at,(26/2). Acara ini juga didukung oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Sutan Takdir Alisjahbana Unas dan mengundang narasumber yang berpengalaman dibidangnya.

Diantaranya, MA., Dr. Abdullah Hehamahua, SH., MM (Mantan Penasehat KPK) Dr. Muhammar Noer., (Dosen Unas dan pengamat politik timur tengah) dan Khairul Fuad, MA. (Dosen Unas dan sosiolog).

Muhammad Noer menjelaskan bahwa terorisme adalah bentuk baru memojokkan Islam. Menurutnya, Islamophobia sendiri muncul ketika Islam semakin menempati posisi yang kuat dalam sebuah peradaban atau komunitas. “Untuk menciptakan sikap fobi terhadap Islam ini, salah satunya adalah dengan memberikan label ‘Teroris’ terhadap gerakan-gerakan Islam yang dipandang “membahayakan” kepentingan negara dominan/adidaya, dalam hal ini AS dan sekutunya,” ujar Muhammad Noer.

Di akhir seminar Abdullah Hehamahua memberikan pesan yang merupakan wasiat Rasul setiap melepas prajurit perang nasihat yang pertama adalah, jangan membunuh anak kecil, perempuan, orang tua dan orang cacat; kedua, jangan merusak tempat ibadah; ketiga, jangan menebang pohon kecuali diperlukan. “Jika ada yang melakukan ketiga hal tersebut jelas mereka bukanlah Islam dan tidak bisa membawa nama Islam,” pesan mantan penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi itu.