Belajar Tentang Borobudur dan Arsitekturnya, Delegasi Kyungpook National University Sambangi UNAS

JAKARTA (UNAS) – Menindaklanjuti kerjasama antara Universitas Nasional (UNAS) dengan Kyungpook National University (KNU) Korea Selatan untuk mengadakan program pembelajaran bersama (joint lecturing program), para delegasi KNU mendapatkan materi tentang Candi Borobudur dari Dr. Ratnaesih Maulana selaku mantan Dosen Arkeologi Universitas Indonesia dengan topik “Borobudur and Religious Belief and Archiving” dan Fajar Rezandi, ST., M.Arch dengan topik “Borobudur and Architecture”. Kegiatan ini adalah rangkaian kunjungan KNU ke UNAS setelah bertolak dari Magelang, Jawa Tengah.

Acara yang berlangsung di Ruang Seminar Lantai 3 Menara Unas I Ragunan itu berjalan dengan hikmat dan para delegasi nampak antusias mendengarkan materi yang disampaikan. Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Dr. Ratnaesih Maulana mengenai Borobudur dan Buddha. Ia menjelaskan bahwa agama Buddha adalah agama yang datang dari Tibet dan agama buddha terbagi menjadi dua aliran yaitu Hinayana dan Mahayana, di Indonesia sendiri Buddha terbanyak ialah Mahayana. Hukum ajaran Buddha adalah Sebab-Akibat plus empat yaitu Metta (Cita Kasih), Karuna (Belas Kasih), Mudita (Perasaan Senasib), Panna (Kebijaksanaan). Borobudur merupakan perwujudan dari agama Buddha, yang memiliki tiga tingkatan dan memiliki filosofi nya tersendiri.

Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu bagian paling bawah Candi yaitu manusia mempunyai ranah hawa nafsu nya sendiri, banyak nafsu sehingga pikiran manusia saling berbenturan yang menimbulkan perbuatan tercela dan di akhirat akan mendapat balasan, Rupadhatu bagian tengah Candi memiliki filosofi bahwa tempat manusia setelah meninggalkan keduniawian namun masih terikat pada nama dan rupa, wujud, bentuk dan terakhir bagian paling atas Candi yaitu Arupadhatu memiliki filosofi bahwa tidak ada zat yang lebih atau dunia tanpa rupa, wujud, bentuk. Pada tingkat ini manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama-lamanya segala ikatan pada dunia fana.

“Jika ingin memahami Borobudur kenali candi-candi yang ada diwilayah lain Indonesia, seperti di Bali, Sumatera, dan Muara Jambi. Candi terbanyak agama Buddha ada di muara Jambi tetapi bila ingin meneliti naskah Buddha ada di Bali,” tegasnya Jumat (2/2).

Sementara pada waktu yang sama Fajar Rezandi, ST., M.Arch menjelaskan materi tentang arsitektur dari Candi Borobudur. Ia mengatakan relief yang ada di Borobudur terbuat dari batu yang diambil dari batu sungai dengan berbeda-beda bentuk. Namun untuk Arca adalah terbuat dari batu tunggal . Lanjutnya, setiap relief di tiap sudut Candi Borobudur mempunyai Filosofi, History, dan Journey bagi umat Buddha.

Kegiatan ini di tutup dengan pemberian cenderamata dan foto bersama dengan para delegasi serta pemateri. Sebelumnya kedatangan KNU yang dipimpin oleh Prof. Nam Kwon-Heui ke UNAS adalah untuk melakukan penandatangan kerjasama Letter of Intent (LoI) dengan Fakultas Sastra untuk mengadakan Joint Lecturing Program.(*DMS)