Wujudkan Swasembada Pangan, HIMAGRO UNAS Kupas Tantangan dan Solusinya

JAKARTA  ( UNAS) – Himpunan Mahasiswa Agroteknologi Universitas Nasional (UNAS) bekerjasama dengan Forum Studi Kampus Indonesia (FSKI) menggelar seminar dan lokakarya nasional, pada Selasa (28/11). Mengemban tema ‘Mendialogkan Swasembada Pangan Antara Tantangan dan Solusi’ kegiatan ini diikuti oleh 120 mahasiswa yang terdiri dari fakultas pertanian, fakultas ekonomi, fakultas teknik, dan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik UNAS.

Dalam Sambutannya, Ir. Inkorena G.S. Sukartono, M.Agr selaku Dekan Fakultas Pertanian mengatakan, kegiatan ini sangat penting mengingat pangan merupakan kebutuhan bagi segala aspek dalam kehidupan.

“Berbicara mengenai pangan memang luar biasa dan tidak dapat dipungkiri, pangan selalu up to date dan melalui kegiatan ini semoga dapat mewujudkan apa yang menjadi tujuan mereka yaitu swasembada pangan,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini ia menambahkan bahwa fakultas pertanian memang selalu mendukung mahasiswanya untuk mewujudkan segala keinginan dan kebijakan dalam menimba ilmu baik tidak hanya dilingkungan UNAS tetapi juga diluar.

“Saya berharap setelah berakhirnya acara ini mahasiswa dapat mengambil pembelajaran dan dijadikan pedoman bagi mereka untuk memberkali diri sehingga dapat menjadi mahasiswa yang berkualitas untuk memimpin bangsa,” tutup Dekan.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Blok 1 Lantai 4 UNAS ini mendatangkan beberapa narasumber yang kompeten diantaranya Pakar Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Dianta Sebayang, Perwakilan Komite Ekonomi Nasional, Muhammad Islam, dan Perwakilan dari perhimpunan ikatan sarjana pertanian Indonesia, Dr. H. Boyke Setiawan Soeranti, S.P., M.Agr.

Dalam paparannya Muhammad Islam mengatakan bahwa pentingnya mempelajari kedaulatan pangan karena kedaulatan pangan merupakan salah satu syarat tercapainya kedaulatan nasional dalam bidang energi, pangan, pertahanan dan keamanan, serta finansial.

“Pemerintah harus menstabilkan harga pangan agar lebih terjangkau oleh masyarakat mengingat hal ini menyangkut kepentingan mereka. Harga komoditas pertanian memang unik karena masyarakat yang sulit menjangkau, selain itu tantangan lainnya adalah pengendalian yang menjadi hal lain ketika produksi itu ada sehigga distribusi tidak lancar dan menyebabkan harga meningkat,” kata Islam.

Ditemui usai acara, Ketua Pelaksana kegiatan ini, Zuhriansyah mengungkapkan bahwa tema mengenai swasembada pangan merupakan hal yang menarik karena menjadi suatu permasalahan yang diangkat di Indonesia.

“Swasembada pangan itu identic dengan kemandirian pangan yang artinya kita dapat menciptakan pangan sendiri tanapa impor atau campur tangan negara lain. Manfaatnya sebagai mahasiswa adalah  mereka dapat mengetahui peran di masyarakat ketika bagaimana mewujudkan swasembada pangan tersebut,” jelas Zuhriansyah.

Pria semester lima progdi Agroteknologi itu merasa bahwa masalah pertanian yang terjadi di Indonesia perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Menurutnya, permasalahan pertanian khususnya di desa merupakan hal yang sangat komplek mengingat mindset masyarakat mengenai petani yang identik terdiskriminasi.

“Mungkin orang-orang melihat petani itu kerjanya panas-panasan, kotor dan sebagainya padahal potensi petani di Indonesia sangat besar karena Indonesia merupakan negara  agraris,” tutur pria asal Riau tersebut.

Dalam akhir wawancara ia mengungkapkan harapan bagi mahasiswa pertanian bahwa sebagai mahasiswa penting untuk memahami posisi diri di masyarakat dan bagaimana untuk menghilangkan rasa malu menjadi petani karena petanilah yang menciptakan pangan untuk negara. “Pesan saya kepada mahasiswa pertanian, mari kita majukan perekonomian petani Indonesia sehingga dapat tercapainya swasembada pangan,” tutup pria yang memiliki hobi berolahraga tersebut.