Webinar Unas TV Ajak Calon Jurnalis Siap Hadapi Transformasi Era Digital

Jakarta (UNAS) –  Dunia jurnalis pada era ini telah berkiblat di era digital, semuanya harus bisa menangkap momen jurnalis dengan kecepatan taktis. Kemampuan Jurnalis harus bisa beradaptasi dengan ekosistem digital, bagaimana semua itu harus dilakukan dan seperti apa pengalaman para jurnalis menjalankan profesinya di masa ini ?

 Adanya perkembangan teknologi yang pesat membuat jurnalis harus siap bertransformasi dan memiliki bekal yang cukup agar menjadi jurnalis yang handal. Menurut Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional (Unas), Drs. Adi Prakosa, M.Si,  para calon jurnalis harus bisa memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut.

“Penerapan teknologi di era digital ini mengalami banyak perubahan oleh sebab itu para calon jurnalis (mahasiswa) harus bisa menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi dengan mengikuti perkembangan jaman,” ujarnya dalam Webinar Nasional Laboratorium Unas TV bertajuk Studio Journalist ‘be a good journalist in digital era’, Rabu (19/08).

Nursatyo, S.Sos., M.Si.

Hadir sebagai pembicara, Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, Nursatyo, S.Sos., M.Si. mengatakan, saat ini praktik jurnalisme tengah memasuki era ‘new media’ yakni dengan menggabungkan teknologi digital dan internet. Hal ini memberikan dampak bagi perusahaan, konten media, peliputan berita, hingga sosok jurnalis.

“Bagi lembaga saat ini munculnya konvergensi jurnalistik yang menggabungkan konten dengan berbagai format media, juga berkembangnya konten jurnalistik seperti pemanfaatan infografis, podcast, jurnalisme data, hingga mengharuskan jurnalis multitasking dengan melakukan semua peliputan seorang diri,” jelas dosen Ilmu Komunikasi itu.

Oleh sebab itu, lanjut Nursatyo, calon jurnalis perlu memiliki beberapa bekal yakni creative thinking dengan terus mengasah cara berpikir, kemampuan beradaptasi dengan perkembangann teknologi, kemampuan multimedia, dan menanamkan jurnalisme sebagai pembelajaran seumur hidup serta terus mengadopasi perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Chelzea Verhoeven

Senada dengan hal tersebut, news presenter dan reporter NET TV, Chelzea Verhoeven mengatakan, calon jurnalis harus terus mengikuti perkembangan jaman dengan melek teknologi. Hal ini berpengaruh dengan kerja jurnalis yang selalu dituntut cepat dan tanggap.

“Kerja di media menuntut jurnalis untuk bisa peka terhadap peristiwa yang terjadi, kerja cepat dan banyak ilmu. Namun, tetap tidak mengesampingkan kode etik jurnalistik dengan tetap menjaga kualitas pemberitaan, misalnya,” ujar Chelzea.

Menurutnya, menjadi jurnalis di era digital mengharuskan memiliki kemampuan beradaptasi, selalu mengikuti trend di masyarakat, tepat waktu, dan menjaga kredibilitas. “Menurut saya jurnalis harus bisa beradaptasi terhadap platform digital yang ada, mengikuti konten yang sedang hangat diperbincangkan, mengedepankan keakuratan berita dan ketepatan, serta kredibilitas dengan mempertanggung jawabkan apa yang kita tulis,” ucapnya.

Sandy Oogway

Sementara itu, producer tvOne, Sandy Oogway mengatakan, jurnalis di era digital harus memiliki ide yang kreatif serta terus mengembangkan diri dari segi penulisan. “Kalau mau berkembang, ya jurnalis harus kreatif. Membuat konten semenarik mungkin dan terus eksplore kira-kira apa yang bisa diangkat dan diterima masyarakat,” tuturnya.

CEO Communicasting Academy itu melanjutkan, jurnalis di era digital juga harus pandai membangun networking  yang luas untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. “Jurnalis harus bisa memanfaatkan belajar ilmu diluar bidangnya sendiri, karena jurnalis itu semuanya dipelajarin jadi harus terus gali ilmu,” katanya.

Sandy menambahkan, terdapat tiga hal penting yang bisa dilakukan jurnalis untuk membuat konten di era digital. Pertama, membuat cerita/naskah yang menarik, membangun karakter narasumber, menghindari ambigu dan kata yang subjektif, serta selalu melakukan check dan recheck sebelum publikasi. (NIS)