Jakarta (Humas UNAS) – Suasana akademik yang khidmat menyelimuti Ruang Seminar Lantai 3, Gedung Menara Universitas Nasional (UNAS), Ragunan, Jakarta, pada Senin (9/3/2026). Dalam Sidang Senat Terbuka Promosi Doktor tersebut, Sdr. Wisnu Agung Prasetya, S.Sos., M.Sos., M.Kom. secara resmi dikukuhkan sebagai Doktor dalam Bidang Ilmu Politik setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji.
Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. Suryono Efendi, S.E., M.B.A., M.M. selaku Ketua Sidang. Dalam proses akademik tersebut, Wisnu dibimbing oleh Prof. Dr. Syarif Hidayat sebagai Promotor dan Prof. Dr. Lijan Poltak Sinambela, M.M. sebagai Ko-Promotor. Sementara itu, tim penguji yang turut memberikan penilaian dalam sidang tersebut terdiri dari Ridho Rahmadi, S.Kom., Ph.D. sebagai Penguji Eksternal, Prof. Dr. Maswadi Rauf, M.A. dan Dr. TB. Massa Djafar, M.Si. sebagai Penguji Internal.
Di hadapan dewan penguji, civitas akademika, keluarga, dan para undangan yang hadir, Wisnu mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Pengaruh Transformasi Digital terhadap Fungsi Partai Politik: Studi Kasus pada Partai Demokrat dan Partai NasDem.”
Ketua sidang dalam pembukaan menyampaikan bahwa sidang promosi doktor tersebut merupakan forum akademik tertinggi untuk menguji kelayakan ilmiah disertasi yang telah disusun oleh calon doktor. Ia menegaskan bahwa sidang terbuka tersebut akan menguji promovenda berdasarkan karya ilmiah yang telah dipersiapkan secara mendalam.
Mengkaji Transformasi Digital dalam Politik
Dalam pemaparannya, Wisnu menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukannya berangkat dari perubahan besar dalam praktik politik di era digital. Menurutnya, partai politik saat ini tidak lagi beroperasi semata sebagai organisasi politik konvensional, tetapi telah memasuki logika platform digital yang bertumpu pada data, algoritma media sosial, dan arsitektur distribusi informasi digital.
“Perubahan besar dalam cara partai politik bekerja di era digital menunjukkan bahwa komunikasi menjadi lebih cepat, mobilisasi lebih efisien, dan jangkauan politik semakin luas. Namun, penguatan operasional tersebut tidak otomatis berarti penguatan demokratis,” jelas Wisnu dalam presentasi disertasinya.
Ia menambahkan bahwa kecepatan komunikasi digital belum tentu memperkuat proses deliberasi demokratis, sementara jangkauan informasi yang semakin luas tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas representasi politik. Karena itu, penelitian ini mencoba melihat bagaimana transformasi digital memengaruhi fungsi partai politik sekaligus relasi kekuasaan yang menyertainya.
Secara tidak langsung, penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital memang meningkatkan kapasitas organisasi politik, tetapi konsekuensi kelembagaannya sangat ditentukan oleh konfigurasi kekuasaan antara negara dan pasar yang mengelilingi ekosistem digital.
Metode Penelitian dan Temuan Utama
Dalam disertasinya, Wisnu menggunakan pendekatan mixed method dengan desain sequential explanatory, yaitu menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Pada tahap kuantitatif, penelitian dilakukan melalui survei terhadap ratusan responden dari dua partai politik yang menjadi objek kajian, yakni Partai Demokrat dan Partai NasDem.
Analisis kuantitatif dilakukan untuk melihat pola hubungan antara transformasi digital, hegemoni negara, hegemoni pasar, serta fungsi partai politik. Selanjutnya, pendekatan kualitatif digunakan untuk menjelaskan secara lebih mendalam mekanisme sosial dan organisasi yang melatarbelakangi temuan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital secara signifikan memperkuat fungsi partai politik, khususnya dalam aspek komunikasi politik, partisipasi, dan rekrutmen kader. Namun demikian, Wisnu juga menemukan bahwa perkembangan teknologi digital berjalan bersamaan dengan penguatan relasi kuasa antara negara dan pasar dalam ekosistem politik digital.
Ia menjelaskan secara langsung bahwa teknologi digital tidak sepenuhnya menghapus struktur dominasi yang telah ada sebelumnya. “Transformasi digital memang dapat menguatkan fungsi partai politik, namun kualitas demokratis dari penguatan tersebut sangat ditentukan oleh desain kelembagaan dan kemampuan partai menavigasi hegemoni negara dan pasar platform,” ungkapnya.
Kontribusi Akademik dan Implikasi Demokrasi
Disertasi Wisnu memberikan kontribusi penting dalam kajian politik digital, khususnya dalam memahami hubungan antara teknologi, organisasi politik, dan struktur kekuasaan. Penelitian ini juga menegaskan bahwa transformasi digital tidak dapat dipahami semata sebagai modernisasi teknis, tetapi harus dilihat sebagai arena kontestasi kekuasaan antara berbagai aktor dalam ekosistem politik.
Dalam pembahasannya, Wisnu juga menyoroti fenomena partisipasi digital yang cenderung berubah menjadi clicktivism, yaitu partisipasi politik yang lebih bersifat simbolik melalui klik, komentar, atau reaksi di media sosial, tanpa keterlibatan substantif dalam proses demokrasi.
Temuan tersebut menjadi catatan penting bagi partai politik dan pembuat kebijakan agar pemanfaatan teknologi digital tidak hanya berorientasi pada efisiensi komunikasi politik, tetapi juga memperkuat kualitas demokrasi melalui transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi publik yang bermakna.
Usai Promovendus mempresentasikan disertasinya, sidang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sidang promosi doktor tersebut berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis dari para penguji terhadap temuan penelitian yang disampaikan oleh promovendus.
Sesi tanya jawab menjadi momen penting yang memperlihatkan kedalaman analisis akademik serta keteguhan argumentasi ilmiah dari promovendus. Berbagai pertanyaan, sanggahan, serta masukan konstruktif disampaikan oleh para penguji untuk menguji konsistensi metodologis sekaligus memperkaya kontribusi akademik dari penelitian tersebut.
Pengujian Metodologi: Model Kausal dan Variabel Penelitian
Salah satu penguji, Dr. Ridho Rahmadi, S.Kom., Ph.D., membuka diskusi dengan menyoroti penggunaan model kausal dalam pendekatan Structural Equation Modeling (SEM-PLS) yang digunakan dalam disertasi tersebut. Ia meminta penjelasan mengenai asumsi dasar pemodelan yang digunakan oleh promovendus.
“Saudara menggunakan model kausal dalam pemodelan ini. Asumsi apa yang digunakan sebelum memulai pemodelan tersebut?” tanyanya dalam sidang.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Wisnu Agung Prasetya menjelaskan bahwa model penelitian yang ia gunakan menempatkan transformasi digital sebagai variabel eksogen yang mempengaruhi fungsi partai politik, baik secara langsung maupun melalui variabel mediasi.
“Model struktural dalam disertasi ini menempatkan transformasi digital sebagai variabel eksogen yang memengaruhi fungsi partai politik secara langsung maupun tidak langsung melalui dua mediator, yaitu hegemoni negara dan hegemoni pasar,” ungkapnya.
Wisnu juga menambahkan bahwa kerangka teoritis penelitian tersebut mengacu pada teori creative destruction dari Schumpeter serta konsep general purpose technology, yang memandang transformasi digital sebagai faktor pendorong perubahan organisasi politik.
Selain itu, penguji juga mengkritisi struktur variabel laten yang digunakan dalam model penelitian. Menurut Ridho, dalam praktik pemodelan SEM, variabel laten umumnya dijelaskan langsung oleh indikator observasi. “Dalam pemodelan SEM, lazimnya variabel laten dijelaskan langsung oleh indikator-indikatornya. Jika variabel laten dijelaskan oleh variabel laten lain, maka perlu referensi yang kuat sebagai pijakan teoritis,” kata Ridho.
Masukan tersebut menjadi catatan penting bagi promovendus untuk memperkuat fondasi metodologis penelitian yang dilakukannya.
Pendalaman Substansi: Transformasi Digital dan Rekrutmen Politik
Sesi diskusi kemudian berlanjut dengan pendalaman terhadap substansi temuan penelitian, khususnya terkait pengaruh transformasi digital terhadap fungsi partai politik. Penguji lainnya, Prof. Dr. Maswadi Rauf, M.A. menantang promovendus untuk menjelaskan secara lebih konkret konsep transformasi digital yang digunakan dalam penelitian tersebut.
Ia menegaskan bahwa konsep tersebut harus dipahami tidak hanya sebagai teknologi semata, tetapi juga sebagai perubahan dalam organisasi politik.
Menanggapi hal tersebut, Wisnu menjelaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi perubahan cara berpikir organisasi dalam memanfaatkan teknologi. “Transformasi digital tidak semata-mata soal teknologi atau alat, tetapi juga menyangkut perubahan mindset organisasi, bagaimana sumber daya manusia memanfaatkan teknologi, serta bagaimana teknologi menjadi pendorong perubahan dalam dinamika sosial dan politik,” katanya.
Wisnu juga memberikan ilustrasi sederhana mengenai transformasi digital dalam organisasi, yaitu bagaimana teknologi dapat berubah dari sekadar alat pendukung menjadi faktor pendorong produktivitas.
Perdebatan Akademik: Dampak Positif dan Negatif Transformasi Digital
Diskusi semakin menarik ketika penguji menyoroti kemungkinan dampak negatif dari transformasi digital dalam kehidupan politik. Prof. Maswadi menegaskan bahwa teknologi tidak selalu membawa dampak positif.
“Pengaruh teknologi itu tidak hanya memperkuat, tetapi juga bisa melemahkan atau merusak. Jadi pengaruh transformasi digital seharusnya dilihat dari dua sisi, bukan hanya penguatan,” jelasnya.
Menanggapi kritik tersebut, Wisnu menjelaskan bahwa temuan kuantitatif dalam penelitiannya menunjukkan kecenderungan penguatan fungsi partai politik, namun melalui pendekatan kualitatif ditemukan pula sejumlah catatan kritis terkait kelemahan implementasi transformasi digital di partai politik.
Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa data kuantitatif menunjukkan hubungan positif, tetapi realitas implementasi di lapangan tidak selalu ideal.
Perspektif Demokrasi dan Rekomendasi Praktis
Pertanyaan lain yang tidak kalah penting datang dari Dr. TB. Massa Djafar, M.Si., yang menyoroti kontribusi penelitian terhadap perbaikan kualitas demokrasi, khususnya dalam menghadapi persoalan manipulasi suara dalam pemilu.
Ia menanyakan secara langsung kontribusi penelitian tersebut terhadap peningkatan kualitas demokrasi. “Apakah hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap upaya meningkatkan kualitas pemilu agar lebih bersih dan lebih fair?” tanyanya.
Menjawab hal tersebut, Wisnu menegaskan bahwa transformasi digital dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat tata kelola politik yang transparan, khususnya melalui pengembangan ekosistem digital yang terintegrasi.
Menurutnya, penguatan kelembagaan digital dalam organisasi politik dapat menjadi langkah awal menuju tata kelola demokrasi yang lebih akuntabel.
Rekomendasi bagi Partai Politik
Pada bagian akhir sesi tanya jawab, promovendus juga diminta memberikan rekomendasi praktis bagi partai politik, khususnya terkait pengelolaan platform digital.
Wisnu menekankan pentingnya kemandirian platform digital bagi partai politik. “Partai politik sebaiknya membangun platform digitalnya sendiri. Jika hanya bergantung pada platform yang tersedia di pasar, maka partai akan mengalami ketergantungan terhadap vendor dan kehilangan kedaulatan data,” ucap Wisnu.
Ia juga menambahkan bahwa penguasaan data oleh partai politik menjadi hal penting dalam era demokrasi digital, karena partai merupakan institusi yang memiliki peran strategis dalam menyalurkan aspirasi masyarakat kepada negara.
Sesi tanya jawab tersebut berlangsung dinamis dan penuh argumentasi ilmiah. Para penguji memberikan kritik metodologis, pendalaman konseptual, serta rekomendasi substantif yang bertujuan memperkuat kualitas disertasi.
Melalui dialog akademik yang kritis namun konstruktif tersebut, promovendus menunjukkan kemampuan argumentasi ilmiah yang matang dalam mempertahankan gagasan penelitiannya.
Sidang promosi doktor ini tidak hanya menjadi momentum akademik bagi Wisnu Agung Prasetya, tetapi juga memperkaya khazanah kajian ilmu politik, khususnya dalam memahami relasi antara transformasi digital dan kelembagaan partai politik di era demokrasi digital.
Setelah seluruh sesi tanya jawab selesai, Ketua Sidang menutup ujian terbuka selama beberapa saat dan guna melakukan sidang tertutup antara dewan penguji untuk menentukan hasil akhir promosi doktor.
Pembacaan Keputusan
Sidang yang sempat diskors beberapa, kembali dibuka oleh Ketua Sidang untuk memasuki agenda pembacaan keputusan. Dalam suasana yang penuh perhatian dari para hadirin, Ketua Sidang menyampaikan bahwa tim penguji telah mempertimbangkan secara menyeluruh kualitas disertasi serta pembelaan akademik yang disampaikan oleh promovendus.
“Calon doktor Saudara Wisnu Agung Prasetya, kami telah mempelajari disertasi yang saudara ajukan kepada kami serta memperhatikan pembelaan saudara atas pertanyaan dan sanggahan dari pihak kami,” ujar Prof. Suryono.
Ia juga menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan laporan dari promotor dan program studi terkait proses akademik yang telah dilalui oleh promovendus.
“Promotor yang diketuai Profesor Doktor Syarif Hidayat telah menyampaikan keterangan mengenai pengembangan keahlian saudara, dan Ketua Program Studi Doktor Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Nasional juga telah melaporkan hasil ujian proposal riset, ujian hasil riset, serta ujian pra-promosi saudara,” ujarnya.
Berdasarkan seluruh pertimbangan tersebut, tim penguji akhirnya mengambil keputusan resmi. “Berdasarkan semua itu, tim penguji Universitas Nasional memutuskan untuk mengangkat saudara menjadi doktor dalam Program Studi Ilmu Politik dengan yudisium sangat memuaskan,” tegas Ketua Sidang.
Keputusan tersebut disambut tepuk tangan hadirin yang memenuhi ruang sidang. Pada kesempatan itu pula, Ketua Sidang memberikan mandat kepada promotor untuk melaksanakan prosesi pelantikan doktor sesuai dengan tradisi akademik yang berlaku.
Promotor Lantik Wisnu Agung Prasetya sebagai Doktor Ilmu Politik
Prosesi pelantikan kemudian dipimpin langsung oleh Promotor, Prof. Dr. Syarif Hidayat. Dengan penuh khidmat, ia menyampaikan pernyataan resmi pengangkatan promovendus sebagai doktor.
“Dengan rasa gembira saya menerima tugas yang diserahkan oleh Ketua Sidang kepada saya. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sesuai dengan keputusan sidang akademik Universitas Nasional, saya menyatakan Wisnu Agung Prasetya, lahir pada 13 Juni 1972 di Pakem, Sleman, menjadi Doktor dalam Ilmu Politik,” kata Prof. Syarif.
Promotor juga menegaskan bahwa dengan gelar tersebut, Wisnu Agung Prasetya berhak memperoleh seluruh hak dan kehormatan akademik yang melekat pada gelar doktor. “Sehingga saudara memperoleh semua hak dan kehormatan yang dicakup oleh gelar itu sesuai adat kebiasaan yang berlaku,” ujarnya.
Sebagai simbol pengangkatan, promotor menyerahkan keputusan tim penguji kepada Wisnu Agung Prasetya dan mengucapkan selamat atas capaian akademik tersebut. “Sebagai bukti pengangkatan saudara, dengan ini saya serahkan kepada saudara keputusan tim penguji. Saya ucapkan selamat atas gelar yang saudara peroleh,” ucapnya disambut tepuk tangan para hadirin.
Sambutan Promotor: Perjalanan Akademik yang Penuh Lika-Liku
Usai prosesi pelantikan, acara dilanjutkan dengan sambutan promotor. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Syarif Hidayat menyampaikan rasa bangga dan kebahagiaan atas keberhasilan Wisnu Agung Prasetya meraih gelar doktor.
Ia mengungkapkan bahwa perjalanan akademik promovendus tidak selalu mudah, bahkan sempat mengalami jeda cukup panjang dalam proses penyusunan disertasi.
“Dalam membimbing Mas Wisnu ini tentunya penuh dengan lika-liku, terutama dalam manajemen waktu karena beliau sangat sibuk dan saya juga sangat sibuk. Proses penulisan disertasi ini sempat vakum sekitar dua tahun sejak ujian proposal,” ungkapnya.
Namun demikian, ia mengapresiasi kegigihan promovendus yang akhirnya kembali melanjutkan penelitian dengan semangat baru.
“Tiba-tiba kemudian aktif kembali dan setelah itu beliau memasang ‘speed’ seperti rudal, sehingga penulisan disertasinya melaju sangat cepat,” ujarnya dengan nada berseloroh yang disambut senyum para hadirin.
Promotor juga menilai bahwa Wisnu memiliki keunggulan akademik yang kuat, baik dalam diskusi maupun dalam kemampuan menulis.
“Mas Wisnu ini memiliki kemampuan yang baik, baik secara lisan dalam diskusi maupun dalam menuangkan ide ke dalam tulisan. Itu yang membuat proses penulisan setelah vakum bisa berjalan sangat cepat,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa latar belakang pengalaman promovendus di bidang teknologi informasi turut memperkuat kualitas penelitian yang mengangkat tema transformasi digital dalam politik.
Kontribusi Akademik Disertasi
Dalam sambutannya, promotor menilai bahwa disertasi Wisnu Agung Prasetya memiliki kontribusi akademik yang penting, terutama karena menjadi salah satu penelitian yang mencoba menggabungkan pendekatan mixed methods dalam kajian ilmu politik di Universitas Nasional.
Menurutnya, pendekatan tersebut masih relatif jarang digunakan dalam penelitian ilmu politik di lingkungan program studi tersebut.
“Disertasi ini merupakan salah satu yang pertama menerapkan pendekatan mixed methods di program studi ini. Tradisi penelitian kita selama ini lebih banyak menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga upaya menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif merupakan langkah yang penting,” jelasnya.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa doktoral lainnya untuk memperkaya metode penelitian dalam kajian politik.
Pesan Akademik bagi Doktor Baru
Di akhir sambutannya, promotor menyampaikan pesan penting kepada Wisnu Agung Prasetya sebagai doktor baru. Ia menekankan bahwa gelar doktor bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab intelektual yang lebih besar.
Ia menuturkan bahwa terdapat tiga peran utama yang harus dijalankan oleh seorang doktor. “Pertama adalah science for science, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan melalui publikasi ilmiah seperti jurnal dan buku. Kedua, science for policy, yakni memberikan kontribusi terhadap kebijakan publik, termasuk memperbaiki tata kelola partai politik. Dan ketiga adalah science for society, yaitu mengamalkan ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat,” pesannya.
Menutup sambutannya, ia kembali menyampaikan ucapan selamat dan harapan agar gelar doktor yang diraih dapat membawa manfaat yang luas.
“Sekali lagi selamat atas gelar doktornya, dan semoga menjadi bagian dari ilmu yang bermanfaat,” tutupnya.
Sidang Senat Terbuka tersebut menjadi momen bersejarah bagi Wisnu Agung Prasetya dan keluarga, sekaligus menambah daftar doktor baru di bidang Ilmu Politik yang dihasilkan oleh Universitas Nasional.
Kesan dan Pesan Promovendus
Suasana haru dan penuh kehangatan mewarnai sesi penutup Sidang Senat Terbuka Promosi Doktor Universitas Nasional saat Dr. Wisnu Agung Prasetya, S.Sos., M.Sos., M.Kom. menyampaikan kesan dan pesan setelah resmi dinyatakan lulus dan meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Politik. Pada momen tersebut, promovendus menyampaikan rasa syukur sekaligus kenangan perjalanan akademiknya selama menempuh studi di Universitas Nasional yang menurutnya penuh makna dan pengalaman intelektual yang mendalam.
Sebelum penyampaian kesan dan pesan, Ketua Sidang terlebih dahulu menyampaikan ucapan selamat kepada promovendus atas capaian akademik yang telah diraih. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja keras dan dedikasi panjang dalam proses pendidikan doktoral.
“Saudara Doktor Wisnu Agung Prasetya, saya selaku ketua sidang dan atas nama tim penguji menyampaikan ucapan selamat atas gelar doktor yang telah saudara peroleh,” ujar Ketua Sidang. Ia kemudian mempersilakan promovendus untuk menyampaikan kesan dan pesannya secara singkat dalam suasana penuh kebahagiaan tersebut.
Mengawali sambutannya, Wisnu Agung Prasetya menyampaikan rasa terima kasih kepada Ketua Sidang, promotor, kopromotor, serta seluruh dewan penguji yang telah membimbing dan menguji proses akademiknya hingga tuntas. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan akademiknya di Universitas Nasional bukanlah waktu yang singkat, melainkan hampir tujuh tahun yang ia jalani dengan penuh dedikasi.
Ia menjelaskan bahwa dirinya menempuh studi magister dan doktor di universitas yang sama. “Perlu Bapak dan Ibu ketahui, saya di UNAS ini hampir tujuh tahun sudah. Dua tahun di program magister saya ambil di sini, dan program doktor juga saya jalani di sini,” ungkapnya di hadapan para hadirin sidang.
Dalam suasana yang diselingi senyum dan candaan ringan, Wisnu juga mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan para dosen pembimbing dan mentor akademiknya. Ia bahkan mengaku merasa sedih karena setelah meraih gelar doktor, tidak ada lagi jenjang pendidikan berikutnya yang dapat membuatnya kembali merasakan proses belajar bersama para guru yang ia kagumi.
“Kalau boleh jujur, saya sedih karena habis ini sudah tidak ada lagi S4,” ujarnya dengan nada ringan yang disambut tawa hadirin. Ia mengenang bahwa sejak menempuh pendidikan magister, pertemuan dengan para profesor dan dosen senior di lingkungan Universitas Nasional telah meninggalkan kesan mendalam baginya.
Ia juga mengungkapkan bahwa rasa rindu terhadap para mentor menjadi salah satu motivasi yang mendorongnya melanjutkan studi hingga ke jenjang doktoral. Menurutnya, interaksi akademik dengan para pembimbing bukan hanya sekadar proses pendidikan formal, tetapi juga pengalaman intelektual yang memperkaya cara pandangnya dalam memahami ilmu politik.
Dalam kesempatan tersebut, Wisnu juga menyampaikan pengalamannya saat mengikuti perkuliahan teori ilmu politik yang menurutnya penuh tantangan. Namun justru tantangan tersebut menjadi pengalaman berharga yang memperkuat kapasitas akademiknya selama menempuh studi doktoral.
Di tengah penyampaian kesan dan pesannya, ia juga mengusulkan agar ke depan Universitas Nasional dapat menyelenggarakan forum pertemuan atau kuliah khusus bagi para alumni doktoral agar tetap dapat menjaga ikatan intelektual dengan para dosen dan mentor. Menurutnya, forum semacam itu dapat menjadi ruang refleksi sekaligus penyegaran akademik bagi para alumni.
“Saya berharap mungkin nanti ada semacam senior lecture, sehingga kami yang sudah di luar bisa diundang kembali untuk sekadar mengenang sekaligus melakukan recharging intelektual,” tuturnya.
Menutup sambutannya, Wisnu Agung Prasetya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan memberikan dukungan dalam proses promosi doktoralnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada promotor, kopromotor, serta pimpinan sidang yang telah memimpin jalannya sidang dengan baik.
“Hanya Allah yang dapat membalas segala kebaikan Bapak dan Ibu semua. Terima kasih atas hari ini,” ujarnya sebelum menutup sambutan dengan salam.
Momen penyampaian kesan dan pesan tersebut menjadi penutup yang hangat dalam rangkaian Sidang Senat Terbuka Promosi Doktor Universitas Nasional. Di balik prosesi akademik yang formal, tersirat kedekatan antara mahasiswa dan para pembimbingnya—sebuah hubungan intelektual yang tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi terus hidup dalam perjalanan akademik dan profesional setelahnya.
Penutupan Sidang
Suasana khidmat yang sejak awal menyelimuti Sidang Senat Terbuka Universitas Nasional mencapai puncaknya saat pimpinan sidang secara resmi menutup rangkaian Promosi Doktor Sdr. Wisnu Agung Prasetya, S.Sos., M.Sos., M.Kom. sebagai Doktor dalam bidang Ilmu Politik. Penutupan tersebut tidak hanya menandai berakhirnya prosesi akademik, tetapi juga menjadi momen refleksi atas perjalanan panjang pendidikan doktoral serta capaian institusi dalam pengembangan ilmu politik di Universitas Nasional.
Dalam pernyataan penutupnya, pimpinan sidang menyampaikan sejumlah informasi penting terkait perkembangan Program Doktor Ilmu Politik Universitas Nasional. Ia menuturkan bahwa program doktor tersebut telah berkembang melalui kerja sama berbagai pihak hingga mencapai pengakuan akademik yang membanggakan.
Disebutkan bahwa Program Doktor Ilmu Politik Universitas Nasional berhasil meraih akreditasi unggul, yang merupakan peringkat tertinggi dalam sistem akreditasi pendidikan tinggi di Indonesia. Prestasi ini, menurutnya, merupakan hasil dari komitmen kolektif sivitas akademika dalam menjaga mutu pendidikan dan penelitian di lingkungan universitas.
Selain itu, capaian institusi juga semakin lengkap ketika Universitas Nasional memperoleh akreditasi unggul secara institusional pada tahun 2023. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas tata kelola, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di Universitas Nasional telah diakui secara nasional.
Dalam kesempatan yang sama, pimpinan sidang juga menegaskan bahwa kelulusan Wisnu Agung Prasetya menjadi bagian dari kontribusi nyata Universitas Nasional dalam melahirkan sumber daya manusia unggul di bidang ilmu politik. Ia menyampaikan bahwa Wisnu merupakan doktor ke-44 yang dihasilkan oleh Universitas Nasional dari Program Doktor Ilmu Politik.
“Sebagaimana yang kita saksikan bersama beberapa menit yang lalu, Universitas Nasional kembali meluluskan seorang doktor, yakni Saudara Doktor Wisnu Agung Prasetya yang merupakan doktor ke-44 yang dihasilkan oleh UNAS,” ungkapnya di hadapan para hadirin sidang.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dalam waktu dekat program doktor tersebut juga akan kembali meluluskan kandidat doktor lainnya yang tengah menyelesaikan tahap akhir studi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Program Doktor Ilmu Politik Universitas Nasional terus berkembang dan menjadi salah satu pusat pengembangan keilmuan politik di Indonesia.
Secara tidak langsung, pimpinan sidang juga menegaskan bahwa keberhasilan tersebut selaras dengan visi dan misi Universitas Nasional untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa. Menurutnya, berbagai langkah strategis yang telah ditetapkan oleh universitas diharapkan semakin memperkuat posisi UNAS sebagai salah satu perguruan tinggi pilihan masyarakat dalam menimba dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Dalam suasana yang lebih santai namun tetap penuh makna, pimpinan sidang juga menyampaikan ajakan kepada para hadirin yang hadir agar mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral di Universitas Nasional. Ia bahkan menyampaikan candaan ringan kepada para tamu undangan agar turut mendorong rekan kerja maupun keluarga untuk melanjutkan studi.
Setelah menyampaikan seluruh informasi tersebut, pimpinan sidang secara resmi menutup rangkaian sidang akademik promosi doktor.
“Hadirin yang kami hormati, demikian informasi tambahan yang dapat kami sampaikan. Dengan ini sidang akademik Universitas Nasional saya tutup,” tegasnya.
Usai penutupan sidang, prosesi dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat kepada Doktor Wisnu Agung Prasetya oleh tim penguji, promotor, serta para tamu undangan yang hadir. Dalam suasana penuh kebahagiaan, keluarga promovendus juga turut dipanggil untuk bergabung dalam sesi foto bersama, menambah kehangatan momen akademik yang penuh makna tersebut.
Dengan selesainya sidang terbuka tersebut, Sdr. Wisnu Agung Prasetya, S.Sos., M.Sos., M.Kom. resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Politik dari Universitas Nasional. Keberhasilan ini sekaligus menegaskan komitmen UNAS dalam melahirkan ilmuwan dan pemikir yang mampu menjawab tantangan politik kontemporer, terutama di tengah perubahan besar yang dibawa oleh transformasi digital dalam kehidupan demokrasi modern. (*Dimas Wijaksono)



