Origami Antar Farhan Raih Prestasi Cemerlang

JAKARTA – Berawal dari broadcast message, pria kelahiran Jakarta, 20 Juli 1993 ini berhasil mengharumkan nama Universitas Nasional (UNAS) di kancah Nasional. Dianugerahi kemampuan berbahasa Jepang yang fasih, membuat pemilik nama lengkap Farhan Adil atau yang akrab disapa Farhan ini tak menyianyiakan kesempatan yang hadir di depannya.

Kala itu, ungkap Farhan, ia sempat menerima sebuah pesan dari dosen prodinya, teks tersebut tertulis sebuah kompetisi ‘Japan Pop Culture UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Namun pada awalnya ia sempat tak acuh, “buat apa jauh-jauh ke Surabaya kalau nantinya belum tentu menang,”  tandasnya. Namun berkat perhatian dari sang dosen tersebut, mahasiswa prodi sastra Jepang ini pun memutuskan untuk mengurungi niatnya.

Seketika dalam pikirannya, Farhan teringat dengan sosok seorang dosen yang sangat berkesan dalam hidupnya, ia memanggilnya, ‘Pak Monang’. “Saya teringat pernah mengambil mata kuliah Seni dan Olahraga yang ngajar beliau, saya diajarkan tentang seni origami atau yang dikenal seni melipat kertas” tutur pria hobi olahraga ini.

Berkat ajaran dosen dengan nama lengkap Drs. Monang Djihado, B.A., S.I.P., M.Si, itu pun, pria yang menyukai mie jawa ini memutuskan untuk membuat bahan presentasi origami dengan bahasa Jepang sebagai karya lombanya.  Melalui video berdurasi 10 menit itu, Farhan mengirimkannya kepada panitia pelaksana lomba. Pria yang kini sibuk mengajar bahasa Jepang di beberapa sekolah itu menegaskan bahwa ini adalah lomba yang kedua kali diikutinya. Pada beberapa waktu yang lalu ia sempat mengikuti lomba pidato bahasa Jepang, namun kemenangan tak memihaknya. Nyatanya, kegagalan tersebut tak berarti mengurungkan semangat pecinta negeri Sakura ini.

Setelah menunggu pengumuman hingga satu minggu, siapa tak menyangka, usaha anak bungsu dari dua bersaudara ini membuahkan hasil. Dengan mukanya yang berbinar ia berkata, “Alhamdulillah lolos ke final”, empat kata tersebut seolah-olah sudah mewakili perasannya saat mengetahui pengumuman itu November 2017 lalu.

Dari kabar menggembirakan itulah, pada 11 November 2017 mantan pengurus Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang UNAS ini pun berangkat ke Surabaya seorang diri untuk melanjutkan tahap finalnya. “Saya benar-benar berangkat sendiri, kondisi saat itu juga lagi Ujian Tengah Semester (UTS) cuman karena saya pikir ini adalah kesempatan yang baik maka saya lebih memilih berangkat ke Surabaya,” ujarnya.

Bersama tiga peserta dari kampus lainnya, Farhan secara bergiliran melakukan presentasi mengenai video yang dibuatnya. Dengan menggunakan almamater hijau sebagai ikon kampus UNAS, Farhan mengaku bangga menjadi satu satunya peserta dari Jakarta yang lolos ke tahap final.

“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan tidak gugup, pada saat itu saya harus berusaha bagaimana menjelaskan kepada juri tentang cara otak kanan bekerja ketika melakukan hal berbau seni khususnya membuat Origami. Saya sudah memikirkan ini materi yang menarik banget,” katanya.

Apalagi origami, lanjutnya, dapat dijadikan ladang kewirausahaan karena melalui lembaran kertas itu dapat menjadikan sesuatu yang menghasilkan. Ia pun mengakui melalui origami dapat membuat berbagai macam bentuk karakter seperti hewan dan benda.

Dengan berbekal bahasa Jepang yang sudah dilakoninya sejak kecil, Farhan tak menyangkal bahwa usahanya pun berhasil membuatnya menyandang juara 2. Pria yang becita-cita menjadi guru ini pun mengaku gemetar saat mendengar namanya dipanggil untuk naik ke atas podium. “Tidak menyangka lah, jauh-jauh ke Surabaya pulang-pulang bawa kabar gembira,” ungkapnya dengan wajah senang berusaha kembali mengingat momen itu. Berkat kemenangannya, pria penyuka komik ini mendapatkan hadiah berupa thropy, sertifikat, dan sejumlah uang tunai.

Disinggung mengenai harapannya setelah menang, Farhan berharap momentum itu dapat dijadikan pengalaman luar biasa bagi pribadinya dan dapat meningkatkan kemampuannya dalam bebahasa Jepang. “Semoga saya bisa terus berlatih bahasa Jepang dan dapat mewujudkan cita-cita saya menjadi seorang guru,” tutup pria domisili Depok ini dalam akhir wawancaranya. (*nis)