Modernisasi Pertanian dengan Agropreneur

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jakarta (UNAS) –  Masa depan sektor pertanian sangat bergantung pada generasi muda. Karena itu, Fakultas Pertanian mendukung para generasi muda untuk bergerak di berbagai bidang pertananian salah satunya menjadi Agropreneur dengan cara menggelar webinar pada Rabu (20/10). Agropreneur muda atau lebih dikenal sebagai milenial agropreneur memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan pertanian.

Dr. (Cand) Legisan S Samtafsir. M.Ag

Founder Al-Balad Dr. (Cand) Legisan S Samtafsir. M.Ag., menyampaikan dalam materinya bahwa Indonesia masih tertinggal dalam berbagai aspek untuk itu generasi muda harus memikirkan dan menyiapkan cara yang proper untuk Indonesia maju khususnya pada bidang pertanian. “Jadi milenial di Indonesia saat ini kita harus memikirkan bagaimana cara yang lebih proper untuk Indonesia agar tidak terus tertinggal. Kalian pada hari ini ada di sebuah zaman yang mewariskan kekayaan bumi bagaimana memajukan bidang pertanian di Indonesia,” jelasnya.

Menurut dia, dengan menggerakkan para agropreneur, maka kelemahan di sektor pertanian mulai bisa diatasi. Dengan begitu, semua proses di bidang pertanian akan lebih baik dan bisa memberikan nilai tambah.

“Bayangkan, selama ini kita memakan buah-buahan, sayur dan produk pertanian lain dari luar negeri, mereka mengeskpornya sedangkan kita memiliki lahan pertanian yang luas. Contohnya seperti kedelai kita mendapatkannya dari luar negeri, maka dari itu perlunya jiwa Agropreneur untuk merubah sistem yang ada di pertanian kita supaya bisa menjadi petani yang modern dan bisa menghasilkan kualitas hasil panen yang baik,” katanya,

Legisa menambahkan, jika para agropreneur muda bergerak, maka pertanian di masa mendatang akan mengalami perubahan yang jauh lebih maju. Selain itu, pemerintah juga diharapkan bisa merubah mindset tentang pertanian agar diminati banyak kalangan muda.

“ Dulu pertanian dipandang sebelah mata, di anggap kumuh, miskin dan berada di desa jauh dari kota. Tapi dengan teknologi, sektor pertanian memiliki mekanisme untuk mengatasi kemiskinan karena adanya nilai tambah yang tinggi dan menjadi petani yang modern,” ujarnya.

Disisi lain, Dosen dan Peneliti Fakultas Pertanian Ir. Asmah Yani,M.Si., menjelaskan bahwa generasi milenial biasanya memiliki pemikiran yang out of the box. “ Pada dasarnya, generasi milenial biasanya memiliki pemikiran yang out of the box, jadi semoga ide ide generasi milenial bisa mengembangkan sektor pertanian, ”tandasnya.

Pada kesempatan yang sama,  Dekan Fakultas Pertanian Ir. Inkorena GS Sukartono, M.Agr., berharap dengan diadakan webinar dengan tema “ Agropreneur di Era Milenial ” bisa menjawab atas tantangan bidang pertanian dimasa yang akan datang. “ Materi yang disampaikan pada webinar ini adalah materi yang sangat bermanfaat dan bisa jadi jawaban atas tantangan bidang pertanian dimasa yang akan datang dan kita semua dapat berpartisipasi untuk memajukan bidang pertanian, ” papar Inkorena. (*TIN)

Berita Terbaru
Chat with Us!