Melalui Kajian Jum’at, PPI UNAS Lakukan Kajian Lingkungan Hidup dengan Ecosufisme

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
PPI UNAS Lakukan Kajian

Jakarta (UNAS) – Saat ini, seluruh dunia tengah menghadapi tantangan perubahan iklim dan berbagai bencana alam. Di sisi lain, hal ini menumbuhkan suatu kesadaran masyarakat untuk mengenal alam melalui pemahaman agama dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI Unas) membahas hal tersebut lakukan Kajian Jum’at yang mengangkat topik “Ekosufisme, Tasawuf dna Lingkungan Hidup”.

Ketua PPI-Unas Dr. Fachruddin Mangunjaya menyabut hangat topik yang dibawakan Jumat (15/10/2021) itu. Sebab, topik lingkungan hidup menjadi fokus di PPI-Unas. Khususnya karena banyak kerjasama dan aktivitas dengan lembaga nasional dan internasional berkaitan dengan tantangan-tantangan lingkungan hidup.

Dr. Fachruddin Mangunjaya

“Alam meta fisika seperti (sufisme atau) tasawuf sangat jarang sekali dipelajari. Kita belajar mengenai sains, kita belajar mengenai filosofi filsafat islam tapi kalau tidak ada tasawuf rasanya kurang,” imbuh Fachruddin yang sekaligus membuka acara kajian Jum’at yang ke-6.

Menurut, Pengamat Hubungan Internasional Dosen Unas Dr. Hendra M. Saragih, sufisme merupakan istilah yang cukup baru dalam dunia keislaman dan keilmuan. Topik ini sangat populer di negara barat, serta cukup banyak bermunculan cendikiawan yang berlomba untuk mencari solusi dari akibat kerusakan lingkungan.

Dr. Hendra M. Saragih

“Ekosufisme muncul sebagai salah satu bentuk solusi yang diharapkan mampu nantinya menjadi jalan keluar bagi permasalahan. Bagaimana sebenarnya konsep ekosufisme sebagai alternatif tentang etika lingkungan baru kita,” ujar Hendra secara langsung di Ruang Seminar Lt.3 Unas.

Sementara itu melalui daring, Penemu Teori Ekosufisme Dosen STAIN Purwokerto Dr. Suwito NS., menyampaikan bahwa ekosufisme memiliki dasar keilmuan yang bersifat interdisipliner antara ekologi dan sufisme. Ekosufisme juga berkaitan dengan dimensi mistik Islam yang menitikberatkan pada pola relasi yang etis dan estetik antara manusia dengan Tuhan serta manusia dengan ekosistem lainnya.

Dr. Suwito NS.

“Kesadaran berlingkungan adalah bagian tidak terpisahkan dari kesadaran spiritual. Kalau kita makan dari lingkungan itu, memunculkan etika, jadi jangan sampai ada yang tersisa,” ujar Suwito.

Ia juga menambahkan bahwa terdapat pengupayaan proses transformasi dari spirtual consciousness menuju ecological consciousness. Melalui analogi, Suwito mengatakan, “Intinya adalah menganalogikan kamar mandi yang kotor dan ada hewan-hewa yang membuat kita sakit. Sehingga kemudian kita yang mau pakai, kita harus kuras terlebih dahulu,” tambahnya.

Dilaksanakan pada dua tempat secara langsung di Ruang Seminar Lt.3 Unas dan secara daring melalui aplikasi Zoom. Acara ini merupakan kajian seri ke-6 yang bertepatan pada hari Dies Natalis Universitas Nasional yang ke-72. (*ARS)

Berita Terbaru
Chat with Us!