Kuliah di UNAS Bisa Pergi ke Jepang

JAKARTA – Banyak peluang dapat dijajaki agar bisa bertandang ke Jepang, salah satunya adalah Kuliah di Universitas Nasional (UNAS). Bertapa tidak, Jepang identik dengan bersih, disiplin, teratur, dan modern membuat Jepang menjadi salah satu pilihan para pelajar untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Hal ini yang dialami oleh empat mahasiswa program studi Sastra Jepang UNAS pada tahun 2017. Diwawancarai oleh Humas UNAS pada Rabu, (20/12) keempat mahasiswa tersebut mempaparkan pengalamannya saat bertandang ke negeri sakura.

Program Minkan Taishi (Duta Sipil)

Sudah berjalan sejak sepuluh tahun, Putri Ning Mayasari dan Hasbi Asyiddiqi merupakan mahasiswa yang beruntung untuk mewakili UNAS dalam program Minkan Taishi pada 28 Oktober – 9 November 2017. Berawal dari mengajukan diri, dua mahasiswa ini berhasil melewati tahap seleksi yang terdiri dari seleksi berkas, mengarang, dan wawancara.

“Senang banget, saya masuk Sastra Jepang karena memang ingin kesana. Syukur UNAS mengadakan program ini sehingga saya dapat pergi ke Jepang. Saya nggak nyangka kalau saya yang terpilih,” imbuh Hasbi.

Minkan Taishi merupakan program pertukaran budaya Jepang dan Indonesia kepada siswa-siswi Sekolah Dasar di Jepang. Sekolah-sekolah tersebut diantaranya Hatsukura Minami, Gowa, Kawane, Hatsukura, dan Shimada Dai Yon Shogakko yang berlokasi di Shimada, Sizuoka, dan sekolah Hirositoku di Tokyo.  Proses ini dilalui dengan presentasi mengenai budaya negara Indonesia mulai dari luas, penduduk, adat istiadat, sampai pada agamanya.

“Sebelum berangkat, kami selama 6 bulan sudah latihan membuat presentasi dalam bahasa Jepang, setelah itu dihafalkan. Selain presentasi kami juga belajar tarian tradisional Indonesia, lagu-lagu Indonesia, dan belajar improvisasi supaya lancar,” jelas mahasiswa semester 9 ini.

Ia menambahkan, belajar budaya Jepang selama 6 bulan tidak begitu sulit karena sudah mendapatkan pelajarannya di program studi. “Sampai sana saya takjub, orang-orang Jepang rapih, disiplin, dan bersih. Kami disana juga kedubes Indonesia serta mempresentasikan tentang UNAS khususnya prodi Sastra Jepang,” ujar pria hobi baca komik ini.

Tidak hanya itu, Putri menambahkan bahwa mereka mengikuti Homestay selama 4 hari di rumah mahasiswa Chuo University. Menurutnya, ini adalah pengalaman baru untuk belajar kebudayaan Jepang. “Saat itu pernah mahasiswa Chuo University datang ke UNAS, lalu sekarang giliran kami mengunjungi mereka,” imbuhnya. Ia juga sempat mengunjungi tempat wisata di Shimada yaitu Houraibashi dan Bara no Okakouen.

Putri mengaku banyak mendapatkan pelajaran di Jepang diantaranya disiplin waktu dan salam yang menjadi hal penting bagi orang Jepang. “Semoga kedepannya prodi Sastra Jepang UNAS terus menambahkan program-program pertukaran seperti ini sehingga mahasiswa sastra Jepang dapat mendapatkan pengalaman tersendiri selama kuliah,” tutup mahasiwi semester 7 ini.

Program Praktek Kerja Lapang (PKL) di Jepang

Lain halnya dengan Hasbi dan Putri yang menghabiskan waktu selama dua minggu di Jepang, mahasiswa lainnya dapat menikmati negeri sakura selama 7 bulan. Adalah Puspa Widya Paramitha dan Hanggita Hananda Putri, dua mahasiswi semester 9 program studi Sastra Jepang yang berkesempatan mendapatkan pengalaman PKL di negeri sakura pada bulan April hingga November 2017.  

Disinggung mengenai proses seleksi program ini, Hanggita mengatakan bahwa ia melalui tahap wawancara dengan bahasa Jepang  dan menyertakan sertifikat kemampuan Nouryoko Shinken. “Awalnya kami mengajukan diri karena ini kesempatan yang bagus untuk dicoba,” tuturnya.

Hanggita menambahkan bahwa pada awalnya ia menggunakan biaya sendiri baik itu segala persiapan dan uang saku selama di Jepang. “Untuk uang saku pada awal bulan kami pakai biaya sendiri sebelum mendapatkan gaji dari kantor PT. Jipa,” imbuhnya.

Selama 7 bulan, dua mahasiswi ini bekerja dibagian housekeeping dan restoran sebagai waiters. “Sehari-hari kami menjadi housekeeping lalu malam hari kami di restoran. Kami juga sering menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan kalau waktu libur kantor, setelah itu balik lagi ke penginapan kami yang bernuansa tradisional khas Jepang” kata Puspa.

Melalui PKL ini, lanjutnya, ia dapat menambah pengetahuannya dalam bahasa Jepang, dan beberapa pelajaran kehidupan. Perempuan hobi membaca ini belajar bagaimana cara merespon orang dengan budaya lain sehingga dapat menyatukan pola pikir diantara mereka.

Puspa mengaku sebelum berangkat ke  Jepang ia banyak melakukan persiapan diantaranya adalah badan yang sehat, olahraga teratur, dan rajin membaca pengetahuan mengenai  negara Jepang. “Disini kami melalui 4 musim diantaranya musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin sehingga membutuhkan persiapan yang ekstra karena kami belum terbiasa dengan musim tersebut,” tambahnya.

Dalam akhir wawancara tersebut, Hanggita menyampaikan harapannya bahwa semoga program seperti ini dapat terus ditingkatkan meski bukan penuh dengan akademik, tetapi dapat melatih skill mahasiswa.

“Program seperti ini bagus sekali sehingga mahasiswa tidak hanya mendapatkan text book dan materi melalui dosen saja, tetapi mereka juga dapat belajar budaya dan bahasa Jepang langsung di negerinya. Selain itu, melalui program ini juga akan mendapatkan sertifikat PKL sehingga nantinya lebih mudah untuk melamar kerja,” tutup perempuan yang akrab disapa Gita ini.(*nis)