Jakarta (UNAS) — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menekankan pentingnya penguatan ekosistem kewirausahaan pemuda untuk menghadapi tantangan bonus demografi Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Prof. Warsito, dalam rangkaian Youth Empowerment Festival 2025 dan agenda Youth Co:Lab Indonesia yang digelar bersama UNDP Indonesia di Universitas Nasional (UNAS).
Dalam sambutannya, Prof. Warsito mengapresiasi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat, termasuk UNAS sebagai tuan rumah. “Kegiatan ini menjadi ruang penting untuk memperkuat komitmen pemberdayaan pemuda Indonesia,” ujarnya.
Tantangan Bonus Demografi dan Kondisi Pemuda
Prof. Warsito mengungkapkan bahwa pemuda Indonesia mencapai 23 persen dari total populasi nasional atau sekitar 64 juta orang. Menurutnya, kelompok usia 15–30 tahun merupakan fase paling menentukan bagi masa depan bangsa. Namun, pemerintah mencatat sejumlah tantangan struktural, di antaranya:
- Tingginya angka NEET (Not in Education, Employment, or Training) yang mencapai 25 persen.
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda sebesar 12,24 persen, jauh di atas rata-rata nasional.
“Data ini menunjukkan perlunya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas untuk menjawab tantangan tersebut,” jelasnya.
Dorongan Kewirausahaan dan Perubahan Pola Pikir
Prof. Warsito menekankan pentingnya perubahan orientasi dari mencari kerja menjadi menciptakan peluang usaha. Saat ini, hanya 18,21 persen pemuda yang memilih jalur wirausaha, sementara sebagian besar UMKM masih didominasi generasi lebih tua. “Ruang tumbuh bagi wirausaha muda masih luas, asalkan ekosistem pendukung seperti akses modal, teknologi, dan pendampingan diperkuat,” tambahnya.
Pra-acara Youth Co:Lab 2025 melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan lebih dari 120 peserta merumuskan sejumlah poin strategis:
Tantangan utama:
- Minimnya pembiayaan ramah pemuda.
- Rendahnya literasi digital.
- Ketimpangan teknologi.
- Hambatan regulasi lintas sektor.
- Kurangnya dukungan bagi perempuan, disabilitas, dan pemuda rentan.
Peluang yang dapat dioptimalkan:
- Ekonomi digital dan ekonomi hijau.
- Tumbuhnya inkubator usaha dan komunitas kreatif.
FGD juga merekomendasikan prioritas aksi, seperti pembiayaan inklusif tanpa agunan, pelatihan digital dan green skills, harmonisasi kebijakan pusat-daerah, serta pendampingan berkelanjutan bagi wirausaha muda.
Harapan ke Depan
Menutup paparannya, Prof. Warsito menyatakan bahwa hasil FGD akan menjadi fondasi kebijakan dalam Youth Empowerment Festival 2025. “Kami berharap upaya bersama ini mampu memperkuat produktivitas pemuda dan menciptakan lebih banyak wirausaha muda yang siap menjawab tantangan zaman,” pungkasnya. (DEV)
Bagikan :


