Jamaah Diharapkan Menjadi Haji Ramah Lingkungan

221 ribu jamaah Indonesia– sesuai dengna kuota tahun ini akan berangkat menunaikan haji. Para aktivis lingkungan berharap jamaah Indonesia berperan dalam menjaga bumi, mencegah penggunaan plastik sekali pakai dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

JAKARTA ( 7 Agutus 2018)—Musim haji tahun ini, Indonesia akan mengirimkan sekitar 221 ribu jamaah haji ke tanah suci Mekah. Haji merupakan rukun Islam ke lima yang wajib hukumnya bagi yang mampu. Perjalanan ke tanah suci Mekah, memerlukan kesiapan fisik yang prima dan mental yang teguh. Diperkirakan tahun ini,  sebagaimana tahun sebelumnya  akan ada dari dua juta jamaah yang berkumpul di Mekah, melakukan ritual haji selama lima hingga sepuluh hari.  Adapun puncak haji adalah 9 hingga 12  Zulhijah, ketika para jamaah akan melakukan wukuf di padang Arafah, dan melempar jumrah di Mina.

Perjalanan haji yang panjang dengan jutaan manusia, tentu memerlukan akomodasi, transportasi dan makan minum yang tidak sedikit. Selama melakukan ibadah umrah dan di Mekah, bermalam  di Arafah dan Muzdalifah juga di Mina, dipastikan jamaah menggunakan berbagai hal diantaranya plastik dan air. Dari catatan tahun 2013, jamaah meninggalkan tumpukan 53 ribu ton sampah dari 15 ribu titik tempat sampah yang disebar oleh pemerintah Arab Saudi.

Keperluan bermalam juga tentu diikuti dengan tingginya kebutuhan air, sehingga plastik botol kemasan  berserak,  ratusan juta jumlahnya. Tanah suci seharusnya terbebas dari sampah yang mencemari bumi.

“Jamaah haji perlu mengubah gaya hidup untuk mengurangi plastik sekali pakai dan menolak penggunaan plastik dan styrofoam, yang tidak hancur, dengan membawa tumbler atau tempat minum sendiri,” ujar  Dr Fachruddin Mangunjaya, Ketua Pusat Pengajian Islam UNAS, yang juga seorang aktivis lingkungan. Di setiap sudut Masjid al Haram, telah tersedia tempat minum air zam-zam isi ulang. Dalam upaya memberikan panduan, PPI UNAS telah mengeluarkan app green hajj, yang dapat diunduh sebagai panduan, selain bacaan ritual haji juga, bagaimana jamaah dapat menjadi ramah lingkungan, termasuk hemat energi. Aplikasi ini diluncurkan tahun 2016, di Marrakesh, Maroko dan dibuat untuk seluruh dunia Islam.

Amanda Katili Niode PhD., Manajer Climate Reality Indonesia, menyambut baik gagasan ini. “Jamaah Haji dari seluruh dunia juga diharapkan berkontribusi pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca dari penggunaan energi yang berlebihan,  untuk menekan laju pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim dan berbagai bencana. Perubahan iklim adalah masalah global yang perlu disikapi oleh semua pihak,” tambahnya.

Haji ramah lingkungan  merupakan aksi nyata implementasi Deklarasi Islam untuk Perubahan Iklim Global di Istanbul, 2015 yang menghimbau umat Islam di seluruh dunia agar  bertindak dalam upaya melestarikan lingkungan, mengurangi jejak karbon yang tinggi dan beralih pada energi  terbarukan yang dapat mencegah pemanasan global.