Indonesia Memiliki Peran Strategis Dalam Menjaga Keharmonisan dan Kerukunan Global

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jakarta (Unas) – Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional (Unas) melaksanakan kuliah umum dengan tema ‘Pembangunan Kerukunan Global’ dan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema ‘Solusi Problematika Masyarakat Jakarta’ di Aula Blok 1 Lt. 4 Unas, pada Selasa, (22/11).

Ketua PWNU DKI Jakarta Dr. KH. Samsul Ma’arif, M.A. saat menyampaikan materi dalam acara Kuliah Umum.

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam), PBNU DKI Jakarta Dr. KH. Khalilurrahman, MA., QIA, CRMO. menyampaikan, Indonesia memiliki peran yang sangat strategis didalam membawa keharmonisan dan juga kerukunan global yang ada sekarang ini.

Ia menyatakan, Indonesia yang terdiri dari berbagai suku budaya, suku bangsa, multi etnis, dan agama bisa tetap menjaga kerukunannya. Hal ini pun patut disyukuri ditengah berbagai konflik yang terjadi di negara-negara lain.

Meski demikian, masyarakat tetap harus waspada karena masih ada ancaman dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah bangsa. “Ini ada gerakan yang berupaya untuk memecah belah antara persatuan dan kesatuan antar umat bangsa. ada kelompok-kelompok yang menginginkan Indonesia tidak bersatu. Hal ini karena diprediksi 10 tahun yang akan datang Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar,” ungkapnya.

Dalam hubungannya membangun kerukunan global, Indonesia menjadi contoh bagi negara lain untuk saling bersatu. “Indonesia akan menjadi teladan menjadi percontohan bagi negara-negara lain dalam membentuk peradaban yang besar untuk kerukunan umat dan ini menjadi tugas kita bersama termasuk mahasiswa bagaimana kita merawat kerukunan yang telah diapresiasi oleh bukan hanya di barat tapi juga di afrika dan Amerika,” kata Khalilurrahman.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama Provinsi DKI Jakarta Dr. KH. Samsul Ma’arif, M.A. mengatakan bahwa pecahnya kerukunan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kesenjangan sosial dan kesenjangan ekonomi serta pemahaman keagamaan karena adanya perbedaan politik.

Menurutnya, di Indonesia sendiri faktor terbesar adalah adanya perbedaan politik meskipun perpecahan itu tidak meluas dan bisa kembali. Namun hal itu menjadi perhatian Samsul bahwa perbedaan politik boleh saja namun tetap menjaga kerukunan.

Ia pun menghimbau agar urusan politik tidak dicampur adukkan dengan urusan agama. “Jangan jadikan agama ini alat politik. Dari sini akan terjadi konflik yang akan merusak kerukunan internal,” kata Samsul.

Samsul juga mengatakan konsep saling menghargai perlu ditanamkan pada diri masing-masing agar keharmonisan tetap terjaga.

Kepala P3M Sekolah Pascasarjana UNAS Robi Nurhadi, Ph.D., saat memberikan sambutannya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala P3M Sekolah Pascasarjana UNAS Robi Nurhadi, Ph.D., menyampaikan menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, tema kegiatan ini menjadi isu yang hangat pasca gelaran G20 beberapa waktu yang lalu.

Selain Lakpesdam PBNU DKI Jakarta Dr. KH. Khalilurrahman, MA., QIA, CRMO.dan Ketua PWNU Provinsi DKI Jakarta Dr. KH. Samsul Ma’arif, M.A.  yang menjadi pembicara. Acara ini juga mengundang Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A. (*DMS)

Berita Terbaru
Chat with Us!