Harapan Desa Cibadak untuk Setetes Air Bersih

Bogor (UNAS) – Aura Kebahagiaan nampak tergambar dari setiap wajah warga yang berada di bawah kaki gunung batu. Warga tersebut berada di suatu Desa dengan sejumlah permasalahan yang beragam mulai dari angka kemiskinan yang tinggi, pendidikan yang kurang, kebutuhan sarana air bersih yang belum terpenuhi dan tingkat pernikahan dini yang tinggi. Harapan demi harapan dilontarkan kepada sang Illahi agar permasalahan dapat terselesaikan salah satunya masalah air bersih. Dalam kehidupan sehari-hari manusia memerlukan air khususnya air bersih karena air adalah salah satu kebutuhan yang terpenting dari makhluk hidup yang ada di bumi ini.

Desa tersebut adalah Desa Cibadak yang berada di Kecamatan Tanjung sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Memiliki luas sekitar 824,5 hektar yang terdiri dari 7 dusun dengan jumlah penduduk 1.500 Kepala Keluarga (KK) dan berjarak 98 km dari ibukota DKI Jakarta masih ditemukan desa yang kesulitan mendapatkan air.

Pusat Pengkajian Politik dan Pengembangan Masyarakat (P4M) Universitas Nasional bersama dengan PT Rucika dan PT Bangun Panca Sarana Abadi (BPSA) sebagai sponsor program Corporate Social and Responsibility (CSR) datang ke Desa Cibadak dengan membawa program  yang dapat mewujudkan mimpi dari Desa Cibadak. Program Pembangunan Sarana Air Bersih Berbasis Masyarakat adalah wujud nyata untuk mensejahterakan masyarakat desa dengan menciptakan situasi dan kondisi yang memberikan kekuatan, kemampuan masyarakat dalam melaksanakan tahap pembangunan selanjutnya.

Teriknya matahari tidak mengurangi semangat warga untuk datang ke tempat peresmian yang berada di tengah-tengah Desa Cibadak dan tepat pukul 09.30 WIB acara peresmian Sarana Air Bersih Berbasis Masyarakat dimulai. Seiring berjalannya acara nampak warga Desa semakin ramai memenuhi tempat peresmian bersama dengan anggota keluarga mereka.

Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua P4M Dr. Diana Fawzia, M.A. yang menyatakan bahwa program pembangunan sarana air bersih yang dijalankan di desa Cibadak memiliki beberapa karakteristik. Pertama, program ini berbasis pada masyarakat. Artinya seluruh pengambilan keputusan hingga pembentukan lembaga pengelola sarana air bersih didasarkan atas musyawarah dan mufakat yang dilakukan oleh masyarakat desa itu sendiri bersama dengan jajaran pemerintah desa.

Menurut Diana, program pembangunan sarana air bersih ini merupakan langkah awal yang akan diikuti oleh berbagai program pengembangan desa berikutnya, seperti program peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa, peningkatan kehidupan demokrasi di desa, pendampingan penyusunan rancangan peraturan desa, pendampingan penyusunan program kerja desa dan program pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).

Eneng salah satu warga mengaku sangat senang dengan dibangunnya sarana air bersih ini sehingga ia tidak harus berjalan dua sampai tiga KM untuk mengambil air. Sebelumnya ia selalu berharap ada pertolongan atau keajaiban untuk bisa merasakan air bersih karena mata air di Desa Cibadak cukup melimpah. “dulu saya selalu berharap bisa merasakan air bersih langsung dari mata air dan sekarang saya bisa merasakan tanpa harus mengeluarkan uang untuk membayar jasa angkut air,” jelasnya.

Pada musim kemarau, lanjutnya, Desa Cibadak mengalami kesulitan air dan harus berjalan dua sampai tiga kilometer untuk mengambil air disungai. Selain itu adapula yang membeli air dengan harga Rp. 5.000 sampai Rp. 10.000 ataupun menyewa jasa angkut air. Keadaan ini cukup miris karena mata air di Desa Cibadak sangat banyak namun warga Desa Cibadak belum dapat merasakan air bersih ditambah dengan penyalahgunaan air yang memanfaatkan airnya hanya untuk kepentingan pribadi.

Sambutan demi sambutan telah usai yang diakhiri dengan pembacaan doa oleh tokoh masyarakat Desa dan penandatanganan berita acara, sekaligus menandakan puncak acara yaitu peresmian Sarana Air Bersih secara simbolis oleh Wakil Rektor Bidang Kemasiswaan Universitas Nasional Prof. Iskandar Fitri, S.T., M.T,  Direktur Operasional PT. Wahana Duta Jaya Rucika Hendro Sugito, Direktur Keuangan BPSA Ir. Ibnu Kartiko, MBA., Kepala Kecamatan Tanjung Sari Drs Kosasih, Kepala Desa Cibadak Suhaeri.

Dibarengi rintikan air hujan, kegiatan berlanjut dengan mengunjungi Resevoir Sarana Air Bersih yang berjarak 10 meter dari lokasi acara dan mengunjungi rumah warga setempat. (*DMS)