Fakultas Biologi Lakukan Seminar Peringati Hari Hewan Sedunia

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Fakultas Biologi Lakukan Seminar Peringati Hari Hewan Sedunia

Jakarta (Unas) – Dalam rangka memperingati Hari Hewan Sedunia atau World Animal Day yang jatuh pada tanggal 4 Oktober, Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas) mengadakan seminar bertemakan hewan dengan mengundang para alumni sebagai narasumber.

Ketua Ikatan Alumni Fakultas Biologi Unas (IKA Fabiona), Prof. Dr. Dedy Darnaedi, M.Sc., mengatakan, selain bekerja sama dengan IKA FABIONA, kegiatan ini juga berkolaborasi dengan Program Magister Fakultas Biologi Sekolah Pascasarjana Unas, Yayasan Orangutan Indonesia, serta Jaringan Satwa Indonesia.

Ketua Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Biologi Universitas Nasional Prof. Dr. Dedy Darnaedi, M.Sc. saat memberikan sambutan dalam acara hari hewan sedunia Seminar : A Shared Planet

“Pada seminar ini, kami mengundang para alumni yang berkompeten di bidangnya masing-masing khususnya dalam upaya konservasi hewan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa Fakultas Biologi, serta dan para pelajar yang turut hadir dalam kegiatan ini,” ujarnya dalam pembukaan seminar, secara onsite di Menara Unas, Ragunan, Sabtu (01/10).

Dedy melanjutkan, IKA Fabiona akan terus berupaya memberikan dukungan kepada fakultas salah satunya melalui penyelanggaraan seminar dengan memanfaatkan alumni sebagai narasumber. “Khusus dalam memperingati Hari Hewan Sedunia ini, saya berharap kita bisa bersama-sama melindungi kesejahteraan hewan, terutama pada satwa langka, bagaimana upaya yang dapat kita lakukan bersama,” katanya.

Alumni Fakultas Biologi Unas, Ady Kristanto, S.Si., menuturkan, salah satu upaya konservasi satwa tersebut dapat dilakukan melalui fotografi. Ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki nilai keanekaragaman hayati tertinggi di dunia baik yang ada di daratan maupun di lautan.

“Kekayaan keanekaragaman hayati tersebut di Nusantara tiada duanya di dunia, jika bukan kita siapa lagi yang harus mendokumentasikan keindahan tersebut”, ujar Founder Indonesia Wildlife Photography (IWP) itu.

Ady melanjutkan, fotografi satwa dapat melahirkan kesadaran ekologis bahwa lingkungan hidup penting untuk kehidupan manusia sampai pada adanya perubahan positif yang signifikan dalam memandang dan memperlakukan alam semesta. Sampai saat ini, satwa yang kerap  diabadikan oleh Ady ialah burung. Menurutnya, perburuan akan satwa tersebut masih sering dilakukan serta banyaknya burung yang menghilang di alam sebelum diabadaikan.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Yayasan Orangutan Indonesia, Iman Sapari, M.Si., mengatakan, upaya konservasi satwa juga dapat dilakukan dengan meningkatkan  edukasi dan kesadaran untuk menyelamatkan orangutan. Hal ini dikarenakan satwa tersebut berperan penting di ekosistem hutan bagi regenerasi atau seed dispersal dan menyebarkan 70% jenis buah-buahan di hutan.

“Orangutan juga merupakan spesies kunci atau umbrella species karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan. Keberadaan orangutan tersebut juga mampu mendukung kehidupan satwa dan tumbuhan lainnya”, papar Iman.

Ia menambahkan, saat ini status konservasi orangutan yakni critically endangered atau terancam kristis. Karena itu, penting dilakukan konservasi populasi baik di luar kawasan lindung atau di wilayah konservasinya.

“Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penelitian, membangun kesadaran dan partisipasi para pihak, kerja sama dengan para pihak, memfasilitasi dan membantu penyusunan dokumen perencanaan pengelolaan populasi orangutan, serta peningkatan kapasitas para pihak”, jelas alumni angkatan 1994 itu.

Sementara itu, keprihatinan lainnya juga tertuju dengan adanya eksploitasi berkedok edukasi pada lumba-lumba. Benvika, S.Si. dari Jaringan Satwa Indonesia mengatakan bahwa masih banyaknya perburuan lumba-lumba di perairan Indonesia baik disengaja maupun tidak disengaja.

“Perburuan tersebut biasanya untuk kepentingan komersil seperti sirkus dan juga konsumsi. Beberapa tahun belakang juga banyak kasus mamalia air yang terdampar, bahkan belum adanya satu pusat rehabilitasi untuk lumba-lumba”, ucap Benvika.

Ditambahkannya, dibalik ijin lembaga konservasi, banyak pelatihan yang tidak animal welfare, serta beberapa kondisi kolam yang buruk untuk kehidupan lumba-lumba seperti kolamnya sempit dan kadar air berkimia. “Oleh sebab itu, saat ini banyak dilakukan penolakan dalam bentuk aksi oleh komunitas lingkungan terhadap maraknya peragaan lumba-lumba”, tuturnya.

Alumni angkatan 1992 itu menambahkan, saat ini kesadaran akan konservasi lumba-lumba sudah mulai tinggi. Hal ini terlihat dari kebijakan beberapa instansi pemerintah dengan tidak mengijinka wilayahnya untuk mengadakan peragaan lumba-lumba atau bentuk eksploitasi satwa liar lainnya. “Selain itu, MUI juga telah mengeluarkan fatwa Nomor 4 Tahun 2014 yang menyatakan segala bentuk eksploitasi satwa liar adalah ‘haram’, hal ini diharapkan diikuti oleh beberapa instansi lainnya”, imbuh Benvika.

Di sisi lain, Direktur SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, Ph.D., menjelaskan mengenai Forecasting The Future of Javan Leopard. Ia menuturkan bahwa sejak tahun 2018, kondisi macan tutul jawa kini telah terancam kepunahan dan tidak lebih baik dari harimau sumatera. Berkurangnya habitat alami pada macan tutul jawa menjadi penyebab langkanya hewan ini.

“Saat ini sisa 16% saja populasi dari sebaran macan tutul jawa. Habitatnya untuk tinggal pun sekarang tidak banyak, sebagian besar berukuran kecil dan terisolasi. Kedepannya, harus diadakan pemantauan berbasis ilmiah, terutama di petak habitat berukuran kecil. Studi penggunaan habitat dan pergerakan macan tutul jawa juga patut diupayakan”, katanya.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran publik, kata Hariyo, hal yang dapat dilakukan ialah kampanye di media sosial untuk menyebarluaskan status kritis macan tutul jawa, memperkuat kemitraan lintas sektor, dan mobilisasi sumber daya baik dari nasional maupun internasional.

“Sebagai predator puncak di pulau Jawa, macan tutul jawa memiliki peranan penting dalam menyeimbangkan ekosistem. Kepunahan macan tutul jawa akan berpotensi menyebabkan semakin hilangnya hutan Jawa yang tersisa”, tegasnya.

Dengan diadakan semianar pada perayaan hari hewan sedunia menjadi bagian yang terpenting dalam kelestraian hayati yang ada di dunia ini, wadah yang dibuat oleh IKA Fabiona Unas kedepannya diharapkan bisa memberikan pencerahan bagi masyarakat Indonesia, tentang arti hewan bagi kelestarian alam secara global.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu oleh Dosen Fakultas Biologi Unas, Imran Said L. Tobin, M.S.i. sebagai moderator. (NIS)

Berita Terbaru
Chat with Us!