Eksplorasi Mahasiswa di Ciwidey: Temukan Puluhan Jamur Berkhasiat Obat di Tengah Hutan Homogen

Paparan hasil kajian tim kelompok mahasiswa bidang jamur ini disampaikan pada kegiatan Seminar Kuliah Kerja Lapangan (KKL)  yang diselenggarakan pada Sabtu, 3 Januari 2026, di Ruang Seminar Selasar Lt. 3 UNAS. Melalui metode eksplorasi atau searching, tim peneliti menelusuri tiga tipe jalur berbeda: hutan, agroforestri, dan pemukiman. Hasilnya, ditemukan sebanyak 45 spesies jamur, yang terdiri dari 44 spesies dari filum Basidiomycota dan satu spesies dari filum Ascomycota.

Jalur hutan menjadi kawasan dengan tingkat keanekaragaman tertinggi, menyumbang 33 spesies atau sekitar 73% dari total temuan. “Tingginya nilai ini dibanding dengan jalur yang lain dikarenakan variasi mikrohabitat yang terbentuk akibat perbedaan tutupan kanopi serta keberadaan substrat dengan sumber nutrien dan tanah yang humus cukup kaya,” papar tim Jamur dalam presentasinya.

Sementara itu, jalur agroforestri menyumbang 5 spesies (11%) dan jalur pemukiman sebanyak 7 spesies (15%). Dominasi jamur yang ditemukan adalah jenis simbion mikoriza yang berinteraksi dengan perakaran pohon, serta jamur saprofit yang berperan penting sebagai dekomposer bahan organik.

Dari total 45 spesies yang diidentifikasi, penelitian ini berhasil memetakan potensi pemanfaatan jamur bagi masyarakat: (1) Jamur Pangan (15 Spesies): Termasuk di antaranya Auricularia auricula (jamur kuping), Boletus sp., Coprinus comatus, dan Termitomyces dan (2) Jamur Obat (11 Spesies): Spesies seperti Ganoderma applanatum, Fomes fomentarius, dan Xylaria polymorpha tercatat memiliki potensi dalam pengobatan tradisional.

Menariknya, penelitian ini juga menggali pengetahuan lokal masyarakat setempat. Warga Lebakmuncang mengenal istilah “Utah Suung” atau “muntahan jamur” untuk menggambarkan fenomena kemunculan jamur Termitomyces secara massal di musim hujan. Pengetahuan ini merupakan “warisan secara turun-temurun” yang membantu masyarakat membedakan jamur yang aman dikonsumsi berdasarkan pengalaman empiris.

Tim peneliti juga mencatat faktor lingkungan seperti suhu (24-26°C), kelembaban (63-68%), dan pH tanah (4,9-5,8) yang sangat mendukung pertumbuhan jamur makro di Ciwidey. Meskipun intensitas cahaya di beberapa titik cukup tinggi akibat kanopi yang renggang, keberadaan serasah di lantai hutan tetap menjaga kelembaban mikrohabitat jamur.

Sebagai rekomendasi, tim menekankan pentingnya konservasi habitat dan pengambilan jamur secara berkelanjutan. Potensi jamur makro ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber pangan alternatif, tetapi juga dikembangkan menjadi atraksi ekowisata edukatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

“Pengembangan ekowisata jamur juga diharapkan dapat menjadi sarana edukasi lingkungan yang mendukung pelestarian ekosistem hutan dan kesejahteraan masyarakat lokal,” tutup laporan tersebut. (*DMS)

Bagikan :

Info Mahasiswa

Related Post

Prodi Administrasi Publik Lakukan Kegiatan Desa Binaan di Desa Banyukuning, Kabupaten Semarang.
Masuk  Dalam Tahap ke-2, Mahasiswa UNAS Siap Jadi Pemenang di NUDC 2020.
Rayakan Hari Kemerdekaan Fakultas Biologi Universitas Nasional Gelar Simposium Konservasi Mamalia Besar
Fakultas Sastra Indonesia Gelar Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah
Through ICMAL 2024, UNAS Holds the International Linguistics Conference in the Framework of the 75th Anniversary
Agroteknologi UNAS Gelar Pelepasan Wisudawan dan Welcoming Party Mahasiswa Baru

Kategori Artikel

Berita Terbaru

Jadwal pelaksanaan PLBA T.A 2026/2027

Hari : RABU

Tanggal : 23 September 2026

Pukul : 07.00 – 16.00 WIB

Auditorium Universitas Nasional