Jakarta (UNAS) – Kelompok mahasiswa peneliti yang terdiri dari Afifah Tri Amalia dan Delonia Asy-Syifa Putri Hadiawan melakukan kajian mendalam mengenai keanekaragaman jamur makro di kawasan Desa Waruri, Lebakmuncang, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Penelitian yang berlangsung pada 29 November hingga 3 Desember ini bertujuan untuk memetakan potensi jamur lokal sebagai bahan pangan, obat-obatan, serta peran ekologisnya dalam mendukung ekowisata berbasis edukasi.
Paparan hasil kajian tim kelompok mahasiswa bidang jamur ini disampaikan pada kegiatan Seminar Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang diselenggarakan pada Sabtu, 3 Januari 2026, di Ruang Seminar Selasar Lt. 3 UNAS. Melalui metode eksplorasi atau searching, tim peneliti menelusuri tiga tipe jalur berbeda: hutan, agroforestri, dan pemukiman. Hasilnya, ditemukan sebanyak 45 spesies jamur, yang terdiri dari 44 spesies dari filum Basidiomycota dan satu spesies dari filum Ascomycota.
Jalur hutan menjadi kawasan dengan tingkat keanekaragaman tertinggi, menyumbang 33 spesies atau sekitar 73% dari total temuan. “Tingginya nilai ini dibanding dengan jalur yang lain dikarenakan variasi mikrohabitat yang terbentuk akibat perbedaan tutupan kanopi serta keberadaan substrat dengan sumber nutrien dan tanah yang humus cukup kaya,” papar tim Jamur dalam presentasinya.
Sementara itu, jalur agroforestri menyumbang 5 spesies (11%) dan jalur pemukiman sebanyak 7 spesies (15%). Dominasi jamur yang ditemukan adalah jenis simbion mikoriza yang berinteraksi dengan perakaran pohon, serta jamur saprofit yang berperan penting sebagai dekomposer bahan organik.
Dari total 45 spesies yang diidentifikasi, penelitian ini berhasil memetakan potensi pemanfaatan jamur bagi masyarakat: (1) Jamur Pangan (15 Spesies): Termasuk di antaranya Auricularia auricula (jamur kuping), Boletus sp., Coprinus comatus, dan Termitomyces dan (2) Jamur Obat (11 Spesies): Spesies seperti Ganoderma applanatum, Fomes fomentarius, dan Xylaria polymorpha tercatat memiliki potensi dalam pengobatan tradisional.
Menariknya, penelitian ini juga menggali pengetahuan lokal masyarakat setempat. Warga Lebakmuncang mengenal istilah “Utah Suung” atau “muntahan jamur” untuk menggambarkan fenomena kemunculan jamur Termitomyces secara massal di musim hujan. Pengetahuan ini merupakan “warisan secara turun-temurun” yang membantu masyarakat membedakan jamur yang aman dikonsumsi berdasarkan pengalaman empiris.
Tim peneliti juga mencatat faktor lingkungan seperti suhu (24-26°C), kelembaban (63-68%), dan pH tanah (4,9-5,8) yang sangat mendukung pertumbuhan jamur makro di Ciwidey. Meskipun intensitas cahaya di beberapa titik cukup tinggi akibat kanopi yang renggang, keberadaan serasah di lantai hutan tetap menjaga kelembaban mikrohabitat jamur.
Sebagai rekomendasi, tim menekankan pentingnya konservasi habitat dan pengambilan jamur secara berkelanjutan. Potensi jamur makro ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber pangan alternatif, tetapi juga dikembangkan menjadi atraksi ekowisata edukatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
“Pengembangan ekowisata jamur juga diharapkan dapat menjadi sarana edukasi lingkungan yang mendukung pelestarian ekosistem hutan dan kesejahteraan masyarakat lokal,” tutup laporan tersebut. (*DMS)
Bagikan :


