Dosen Sosiologi Unas : Fenomena Adopsi Spirit Doll Wujud Kapitalisme Kontemporer

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Fenomena Adopsi Spirit Doll Wujud Kapitalisme Kontemporer

Jakarta (Unas) – Adopsi spirit doll atau boneka arwah kini menjadi tren di kalangan selebriti tanah air. Dosen Sosiologi Unas, Dr. Erna Ermawati Chotim, S.Sos., M.Si., mengatakan, fenomena ini merupakan wujud dari kapitalisme kontemporer.

“Belakangan ini kita menyaksikan fenomena yang cukup menarik dari kalangan selebritis Indonesia, yaitu mengadopsi boneka yang diperlakukan seperti manusia. Saya melihat ini merupakan perwujudan dari sistem kapitalisme kontemporer di mana kebutuhan masyarakat kita sedang bertransformasi ke masyarakat kota,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, pada Selasa (4/01).

Chotim melanjutkan, transformasi masyarakat kota membuat nilai-nilai norma, relasi, solidaritas, dan kohesi sosial antar-masyarakat menjadi melemah. Terlebih, fenomena ini dilakukan oleh beberapa public figur yang bisa mempengaruhi seseorang, sehingga berdampak pada nilai dan norma baru di dalam masyarakat.

“Akibatnya, masyarakat bisa meniru dan menjadi konsumtif dengan mengalokasikan sejumlah uangnya untuk hal yang sebenarnya masih bisa diperoleh dari lingkungan terdekat. Misalnya seperti perhatian, atau afeksi, ini masih bisa kita penuhi relasinya di dalam lingkungan keluarga, tetangga, rekan kerja, maupun orang terdekat,” ucapnya.

Oleh sebab itu, tambah Chotim, hal yang perlu diantisipasi dengan berlanjutnya fenomena ini ialah ketika masyarakat mulai memprioritaskan benda mati dibandingkan makhluk hidup. Hal ini akan menurunkan sifat empati sosial di kalangan masyarakat.

“Sebenarnya, banyak yang lebih membutuhkan perhatian dan bantuan kita. Masyarakat seharusnya bisa lebih berfokus dan memberikan perhatiannya kepada sesama manusia maupun makhluk hidup lainnya, bukan benda mati,” tutur Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unas itu.

Lebih lanjut, Ia menuturkan, fenomena spirit doll ini sebelumnya sudah pernah ditemui pada masyarakat China, Korea, dan Jepang. Masyarakat di tiga negara ini dituntut untuk bekerja antara 16 hingga 18 jam perhari, serta memiliki tuntutan dan biaya hidup yang tinggi. Hal ini menyebabkan menurunnya minat masyarkat untuk memiliki keluarga atau anak.

“Mengingat adanya tekanan sosial dan ekonomi yang begitu tinggi, mereka membutuhkan boneka untuk memenuhi kebutuhan biologis dan afeksinya. Boneka arwah itu dijadikan layaknya pasangan, bayi, ataupun teman sebagai benda hidup yang diajak bicara dan berelasi,” imbuhnya. (NIS)

Berita Terbaru
Chat with Us!