Jakarta – Universitas Nasional (UNAS) secara resmi membuka pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) Berbasis Risiko Tahun Akademik 2024/2025 yang diikuti oleh seluruh unit kerja di lingkungan UNAS pada Selasa (13/01). Pembukaan AMI berlangsung di Aula UNAS dan dihadiri oleh pimpinan universitas, pimpinan fakultas, kepala unit, kepala badan, auditor, serta seluruh fungsionalis.
Rektor Universitas Nasional, Dr. El Amry Bernawi Putra, M.A, dalam sambutannya menegaskan bahwa AMI merupakan instrumen penting dalam menjaga dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi.
“Audit mutu internal ini sudah kita lakukan lebih dari enam kali, dan untuk audit mutu internal berbasis risiko sudah memasuki tahun kedua. AMI menjadi sarana evaluasi diri kita sebagai institusi untuk memastikan pengelolaan universitas berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan,” ujar Rektor.
Ia menekankan bahwa dalam konteks persaingan pendidikan tinggi di Indonesia, penguatan sistem penjaminan mutu menjadi keharusan bagi perguruan tinggi swasta.
“Sebagai perguruan tinggi swasta, kita terus diaudit, baik oleh internal maupun eksternal, untuk menilai apakah pengelolaan universitas sudah berjalan dengan benar. Di sinilah pentingnya audit mutu internal sebagai persiapan sebelum evaluasi eksternal,” jelasnya.
Rektor juga menyampaikan apresiasi atas capaian UNAS dalam pengelolaan mutu internal.
“Dalam dua tahun terakhir Universitas Nasional masuk dalam klaster tipologi 1 dan memperoleh penghargaan dari LLDikti. Ini menunjukkan bahwa sistem pengendalian mutu internal berjalan cukup baik,” ungkapnya.
Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa capaian tersebut harus terus diikuti dengan kerja nyata seluruh sivitas akademika.
“Kemajuan UNAS sangat bergantung pada kita semua, mulai dari rektorat, dekan, kaprodi, kepala unit, kepala badan, hingga seluruh fungsionalis. Sistem pengendalian mutu tidak akan berjalan tanpa kesadaran dan komitmen bersama,” tegasnya.
Menurut Rektor, audit mutu internal berbasis risiko juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang UNAS dalam menghadapi tuntutan akreditasi nasional dan internasional.
“Saat ini banyak perguruan tinggi berlomba menuju akreditasi internasional. Untuk menuju ke sana, sistem mutu internal harus kuat, konsisten, dan dijalankan berkelanjutan. AMI berbasis risiko ini menjadi fondasi penting untuk itu,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penjaminan Mutu UNAS, Dr. Muhani, S.E., M.Si.M, menjelaskan bahwa AMI berbasis risiko TA 2024/2025 mengalami peningkatan level dari tahun sebelumnya.
“Tahun ini UNAS meningkatkan pelaksanaan AMI dari level 2 menjadi level 3, di mana audit dilakukan lebih terstruktur dan difokuskan pada indikator-indikator yang krusial berdasarkan tingkat risikonya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tahun ini audit difokuskan pada 60 indikator dari total 71 unit kerja, sehingga setiap unit rata-rata diaudit 3–8 indikator.
“Pendekatan ini dilakukan agar audit lebih mendalam dan mampu menggali permasalahan prioritas, bukan sekadar kelengkapan dokumen,” ujarnya.
Pelaksanaan AMI berbasis risiko terdiri atas tiga tahap, yaitu pra-AMI, pelaksanaan AMI, dan pasca-AMI. Audit dilakukan melalui pemeriksaan dokumen dan audit lapangan yang melibatkan wawancara dengan auditi, pengguna layanan seperti mahasiswa dan dosen, serta observasi langsung. Hasil audit dirumuskan dalam bentuk risiko residual dan rencana mitigasi yang selanjutnya dibahas dalam Rapat Tinjauan Manajemen (RTM).
Melalui pelaksanaan AMI berbasis risiko ini, UNAS menegaskan komitmennya untuk memperkuat budaya mutu, meningkatkan daya saing institusi, serta mempersiapkan langkah strategis menuju pengelolaan perguruan tinggi yang unggul dan berkelanjutan. (TIN)
Bagikan :


