Masyarakat Singapura Mulai Menyukai Fesyen Ramah Lingkungan

Media Indonesia – Di Singapura, warga biasanya merayakan Tahun Baru Imlek dengan hal yang serba baru, termasuk pakaian. Namun, tahun ini, Sue-Anne Chng, seorang warga setempat tidak melakukannya. Tahun ini, dia akan mengenakan barang bekas yang ditukar dengan pakaian lamanya di toko yang khusus melayani mereka yang peduli tentang dampak fast fashion terhadap lingkungan.

Menurut program lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, industri fesyen ikut bertanggung jawab meningkatkan jumlah emisi karbon, mulai dari pembuatannya hingga transportasi, dan pencucian yang dilakukan konsumen.

Peningkatan kesadaran tentang hal ini sudah dilakukan di sejumlah negara, termasuk Singapura. Beberapa warga berinisiatif saling bertukar pakaian hingga menukarnya di toko permamen yang khusus menyediakan cara seperti. Aktivitas semacam ini sebagai upaya mendorong konsumen untuk memanfaatkan apa yang sudah ada di lemari mereka.

Ketika baru-baru ini berkunjung ke toko favoritnya, The Fashion Pulpit, Chng membawa serta beberapa gaun dan blus serta rok yang serasi. Sejumlah helai pakaian itu lalu dinilai oleh anggota staf toko sebelum memberikan poin ke akunnya.

Selengkapnya