Raih Gelar Doktor, Kolonel ARH Budi Pramono Singgung Penanganan Terorisme

JAKARTA (UNAS) – Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional kembali melahirkan Doktor ke-8 dalam Program Doktor Ilmu Politik. Adalah Dr. Budi Pramono, S.IP, MM, MA. yang merupakan Deputi Politik dan Strategi Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional sebagai Analisis Kebijakan Bidang Rencana Kontijensi Politik dan Keamanan. Budi dinobatkan sebagai Doktor setelah mampu mempertahankan Disertasinya berjudul “Pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) Pasca Penetapan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia Tahun 2004-2017”.

Disertasi yang membawa Budi meraih gelar Doktor Ilmu Politik ini mengupas tentang bagaimana perjalanan pelaksanaan OMSP TNI selama 13 tahun berjalan, berkenaan dengan OMSP seperti bantuan tugas dalam bencana alam, penjagaan wilayah perbatasan, pengamanan perairan, hingga tentang penanggulangan dan penanganan aksi terorisme.

Budi menyebut bahwa penelitiannya ini sangat penting dalam menjawab dinamika yang terjadi di Indonesia saat ini tentang terorisme. Menurutnya, penanggulangan terorisme merupakan salah satu poin penting dalam OMSP. “Terlebih, terkait dengan peristiwa yang terjadi beberapa hari ke belakang, tidak berlebihan kiranya disertasi ini dapat menjadi salah satu referensi akademis ditengah maraknya aksi teroris akhir-akhir ini, dimana penanggulangan terorisme merupakan salah satu poin penting dalam OMSP,” ujar Budi saat memaparkan disertasinya, di Ruang Seminar Lantai 3 Menara UNAS, Selasa (15/5).

Budi merupakan alumni Akademi Militer 1988 dan pernah mengikuti Suslapa II di Manly Australia pada tahun 1996. Dia kemudian meneruskan pendidikan ke Inggris pada tahun 1998 untuk meraih gelar S2 di Hull University Inggris bidang Studi Keamanan dan Strategi.

Segudang pendidikan dan pengalaman di bidang Intelijen di dalam dan luar negeri kemudian membawa Budi menetap selama tiga tahun di Iran sebagai Atase Pertahanan (Athan) sekaligus sebagai “Dean” dari MAAT (Military Atache Association in Tehran) yang juga membawahi Irak, Azerbaijan dan Turkmenistan, pada tahun 2009 – 2012.

Di sela-sela kegiatan rutinnya, Budi kerap ditunjuk sebagai pembicara di forum-forum internasional dan global, yang salah satunya di forum Network Asean Defence and Security Institutions. Sebuah forum yang berisi jaringan lembaga pemikir dan cendekia dalam lingkup regional dan global.

Sidang yang diketuai Prof. Dr. Umar Basalim DES ini ditunda pada pukul 16.15 untuk menimbang dan memberikan penilaian secara tertutup atas presentasi dan isi dari disertasi yang ditulis Budi. Tepat pukul 15.25 WIB para penguji sidang beserta promotor kembali memasuki ruang sidang. “Setelah menimbang dan melalui diskusi memutuskan mengangkat Budi Pramono sebagai Doktor dalam Program Doktor Ilmu Politik dengan yudisium sangat memuaskan atas disertasi yang telah anda susun,” ujar Prof. Dr Makarim Wibisono.

Budi sendiri diuji oleh enam penguji yaitu Prof. Dr Rusadi Kantaprawira, Prof. Dr Maswadi Rauf MA., Prof. Dr Makarim Wibisono, Prof. Dr. Umar Basalim DES, Dr. TB. Massa Djafar, dan Dr. M. Alfan Alfian M dihadapan para tamu dan undangan.(*DMS)