Perpaduan Ilmu Kedokteran dan Pemasaran, Jadi Langkah Baru Mahasiswa Ekonomi UNAS dalam Berwirausaha

JAKARTA – Memahami karakteristik sebuah konsumen merupakan hal utama yang dilakukan dalam proses marketing agar produk yang dijual laku dipasaran. Oleh sebab itu, penting bagi calon-calon entrepreneur muda untuk mempelajari otak dan perilaku konsumen sehingga dapat menarik atensi mereka. Untuk mempelajari hal tersebut, dibutuhkan teknik dan ilmu yang baik agar tercapainya proses pemasaran yang menguntungkan.

Dalam hal ini, Fakultas Ekonomi Universitas Nasional (UNAS) bekerjasama dengan UPT Kewiraushaaan UNAS menyelenggarakan seminar nasional bertajuk ‘Introduction of Neuromarketing’ kepada mahasiswa-mahasiswa UNAS, Rabu (6/12). Bertempat di Aula Blok 1 Lantai IV, kegiatan ini dihadiri oleh dosen dari fakultas ekonomi dan 200 mahasiswa UNAS.

“Ini merupakan satu kesempatan yang baik untuk kalian supaya dapat belajar dan terjun ke dalam dunia marketing dengan baik. Saya harap kalian bisa memanfaatkan waktu dan kesempatan ini mengingat ilmu yang didapatkan sangat menarik yaitu perpaduan antara ilmu kedokteran dan marketing. Semoga kalian bisa mengikuti kegiatan ini sampai akhir dan mendapatkan wawasan yang luas mengenai ilmu baru neuromarketing,” tutur Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Suryono Efendi, SE.,MM. Dalam sambutannya.

Kegiatan ini diisi dengan pemaparan materi mengenai neuromarketing oleh narasumber dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D selaku Director of Neuroscience Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Ia menjelaskan beberapa konten diantaranya mengenai neuroscience yaitu ilmu yang mempelajari hubungan sel saraf otak, human brain yaitu bagaimana cara proses otak manusia berpikir dan menerima rangsangan, brain mapping yaitu strategi pemasaran berdasarkan cara kerja otak manusia, dan neurosience marketing yaitu mempelajari tentang alasan manusia memilih suatu produk tertentu.

Ditemui usai kegiatan, pria lulusan kedokteran di salah satu universitas swasta itu mengatakan bahwa banyak sekali manfaat yang didapatkan oleh mahasiswa ketika belajar neuromarketing. “Dalam hal ini mereka dapat memahami bagaimana karakteristik para konsumen, memahami mengapa konsumen mau membeli produk tertentu, dan memahami otak dan perilaku konsumen dalam sebuah tindakan. Oleh sebab itu jika mahasiswa UNAS kelak menjadi seorang entrepreneur yang hendak menjual produk atau bekerja dalam bidang advertising, mereka harus paham betul bagaimana cara agar bisa menarik atensi pembaca atau calon pembeli,” imbuhnya.

Rizki menambahkan bahwa mahasiswa sebagai generasi muda harus berani menghadapi tantangan dalam dunia marketing, untuk mengetasi itu hal paling utama adalah belajar dengan bersungguh-sungguh, maka dari itu para mahasiswa akan tahu seberapa pentingnya neuromarketing sehingga timbul keinginan untuk belajar sendiri.

“Mereka calon-calon sarjana jadi paling penting adalah bukan guru yang mengajar tetapi bagaimana meningkatkan keinginan diri sendiri untuk belajar. Pesan saya kepada mahasiswa agar sukses dalam dunia marketing adalah banyak membaca buku dan menguasai bahasa asing karena sehebat apapun seseorang  jika hanya menguasai bahasa sendiri saja maka dia akan kalah,” tutupnya.

Diwawancarai usai kegiatan, salah satu mahasiswa prodi manajemen, Rian Nugraha mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat sekali karena istilah neuromarketing merupakan hal yang baru dalam dunia pemasaran. “Ini unik banget, disini kita bisa belajar bagaimana bisa mempengaruhi emosi calon pembeli dan mengetahui karakteristiknya, ini proses marketing yang orang lain jarang tahu,” imbuhnya. Rian berharap agar calon-calon wirausaha muda dapat menerapkan ilmu tersebut dan bisa menjadi marketing profesional dimasa mendatang.