Nihon Bunka Matsuri 2012 UNAS Siap Pecahkan Rekor Muri

Dalam hajatan besar sebagai puncak dari rangkaian kegiatan ulang tahun sastra Jepang ke – 30, ribuan peserta kegiatan ini akan memecahkan rekor muri pada kategori memakan takoyaki, yaitu makanan khas negeri Sakura.
 
Jakarta (UNAS) – Pagelaran kebudayaan Jepang yang rutin diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jepang (HIMBAJA) tahun ini diwarnai oleh hal yang berbeda. Pasalnya, dalam hajatan besar sebagai puncak dari rangkaian kegiatan ulang tahun sastra Jepang ke – 30, ribuan peserta kegiatan ini akan memecahkan rekor muri pada kategori memakan takoyaki, yaitu makanan khas negeri Sakura.

“Sebelumnya kita buka pendaftaran untuk mengumpulkan peserta yang akan ikut serta memecahkan rekor muri. Ternyata animo mereka sangat luar biasa hingga saat ini tercatat 1500 orang yang akan ikut pada puncak acara di hari minggu nanti,” papar Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Nasional, Dra. Fadhilah, M.Hum saat ditemui disela pembukaan acara Nihon Bunka Matsuri yang digelar di Aula Utama Unas, Blok I Lantai 4, Jum’at (14/12).

Lebih lanjut, pada pagelaran yang dibuka dengan menampilkan tarian tradisional khas betawi, yaitu tari nandak ganjen yang diteruskan dengan acara minum teh atau chanoyuu tersebut, Fadhilah menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan pada acara ini sengaja disusun dengan konsep kolaborasi dua kebudayaan dari dua negara yang berbeda, yaitu Indonesia dan Jepang.

“Konsep kali ini, kita bukan hanya ingin memperkenalkan kebudayaan Jepang secara mendalam ke seluruh mahasiswa dan siswa – siswi se-DKI Jakarta saja, tapi juga membaurnya kebudayaan khas Indonesia agar kecintaan kita terhadap budaya sendiri tetap terjaga dan tidak serta merta luntur begitu saja,” imbuh Fadhilah.

Selama tiga hari pada Jum’at hingga Minggu, 14-16 Desember 2012, acara Nihon Bunka Matsuri 2012 yang mengusung tema “Landasi dengan Putih, dan Percaya pada Merah” ini akan menyelenggarakan berbagai rangkaian kegiatan, diantaranya adalah pemutaran film, drama bawang putih – bawang merah yang akan ditampilkan dalam bahasa Jepang, lomba story telling, workshop, dan jenis kegiatan lain yang tidak kalah menarik dengan tahun sebelumnya.

“Tujuan terpenting dalam kegiatan ini, sebenarnya program studi sastra Jepang ingin memotivasi dan membantu mengembangkan softskill peserta dan panitia dengan menjadikan mereka individu yang bertanggung jawab, disiplin, dan mampu bersosialisasi dengan sesama,” pungkas Fadhilah.

Tidak lupa, dalam hajatan besar HIMABAJA ini juga terdapat bazaar yang menawarkan berbagai produk khas negeri sakura, dari makanan hingga berbagai cindera mata yang unik dan sangat sayang untuk dilewatkan. (Herlina, A.Md.)