“Mengedepankan Tanggung Jawab dan Kepemimpinan untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Satwa Liar”

Jakarta (UNAS) – Kelompok agama, akademisi, mahasiswa dan masyarakat sipil mengadakan Gelar Wicara bertajuk “Mengedepankan Tanggung Jawab dan Kepemimpinan untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati”, yang berlangsung di Hotel Mercure, Jakarta, pada Kamis (16/11). Adapun tujuan utama dari pertemuan ini adalah untuk mengangkat pengalaman mereka dalam hal perlindungan keanekaragaman hayati. Pertemuan ini menjadi penting karena menjelaskan bagaimana kepemimpinan individu, masyarakat, dan kelompok agama telah membuat perbedaan-untuk membuat hutan Indonesia berkelanjutan bagi generasi sekarang dan masa depan, dan sekaligus menjadi tempat berbagi inisiatif terbaik tentang penyelamatan satwa liar di Indonesia.

Gelar wicara ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, para perwakilan masyarakat dan pemuda dari Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Bali, Kalimantan Barat dan Jawa Barat. “Kepemimpinan dapat menjadi role model dan menjadi teladan dalam hal perilaku menyelamatkan satwa. Maka tokoh masyarakat termasuk pemimpin agama, dapat menjadi kunci keberhasilan dan member pengaruh pada tingkat akar rumput” kata Dr. Facruddin Mangunjaya, Ketua Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional.

Perdagangan satwa liar adalah masalah serius di Indonesia. Berbagai temuan dari hasil riset, sitaan, dan observasi menunjukan bahwa perdagangan satwa di Indonesia berkembang pesat seiring, dengan meningkatnya permintaan domestik, regional dan dunia. Menurut Wildlife Conservation Society – WCS (2015), nilai perdagangan illegal satwa di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 13 Triliun per tahun. Populasi sejumlah spesies kunci Indonesia menurun drastic. Menurut Internasional Union for Conservation of Nature, tersisa hanya 400-500 harimau Sumatra di hutan saat ini. Hanya ada 40-60 badak jawa dan 170-230 badak Sumatra yang amsih hidup dan populasi orang utan Indonesia juga terus menurun.

Dengan mengambil sikap terhadap isu ini, kelompok agama dan kelompok masyarakat memiliki potensi dalam penyebarluasan pesan-pesan ini pada mayoritas penduduk Indonesia, membantu meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya mencegah perdagangan kehidupan liar dan memainkan peran aktif dalam kegiatan perlindungan kehidupan liar.