Mahasiswa Mandarin UNAS, Unjuk Kebolehan di Festival Moon Cake Jakarta 2012

Mahasiswa Mandarin UNAS menampilkan lima karya seni yang memukau, seperti Tarian Sapu Tangan, Taichi Pedang, Pembacaan Puisi tentang keindahan alam dalam bahasa Mandarin, serta nyanyian lagu Mandarin berjudul “Forever 21”
 
Jakarta (UNAS) – Kecil-kecil cabe rawit, nampakya ungkapan inilah yang pantas disandang oleh program studi D3 Bahasa Mandarin Universitas Nasional. Pasalnya, di usia yang baru menginjak tiga tahun ini, prodi Mandarin UNAS telah banyak membuktikan eksistensinya tidak hanya dengan menggelar festival budaya China tingkat Jakarta, dan meraih berbagai beasiswa dari negeri China saja, kini mahasiswa Mandarin UNAS unjuk kebolehan dengan turut berpartisipasi pada festival Moon Cake Jakarta 2012.

Tidak tanggung – tanggung, dalam perhelatan akbar yang juga dikenal sebagai “Mid- Autumn Festival” tersebut, mahasiswa Mandarin UNAS menampilkan lima karya seni yang memukau, seperti Tarian Sapu Tangan, Taichi Pedang, Pembacaan Puisi tentang keindahan alam dalam bahasa Mandarin, serta nyanyian lagu Mandarin berjudul “Forever 21” yang dibawakan oleh Mita.

“Festival Moon Cake ini merupakan kesempatan besar bagi prodi Mandarin untuk memperkenalkan diri kepada seluruh warga Jakarta dan membuktikan bahwa kegiatan yang kami lakukan tidak terbatas hanya pada belajar dan mengajar saja,” ungkap Ketua Program Studi Bahasa Mandarin UNAS, Titi Rahardjanti, S.S saat ditemui disela acara yang diselenggarakan di Kompleks Cagar Budaya Candra Naya, Green Central City (GCC), Jalan Gajah Mada 188, Jakarta Barat, Sabtu (6/10).

Tidak hanya UNAS, turut berpartisipasi dari perguruan tinggi lainnya, yakni Universitas Bina Nusantara, Universitas Darma Persada, dan Unversitas Bunda Mulia. Festival ini juga dimeriahkan dengan pertunjukkan Barongsai, pameran kue bulan dan makanan khas China, Fashion Show, dan Talk show.

Salah satu mahasiswa Guangxi University yang saat ini tengah menempuh studi di Fakultas Ekonomi Universitas Nasional, Surya mengapresiasikan acara ini dan mengungkapkan bahwa festival Moon Cake tersebut membuatnya merindukan keluarga dan kampong halaman. “Di China, festival Moon Cake kami rayakan dengan memakan kue bulan dengan seluruh anggota keluarga tepat saat bulan purnama, dan biasanya anak wanita menggunakan baju khas China (cheongsam) pada hari itu,” papar Surya.

Festival Moon Cake tersebut merupakan perhelatan akbar yang diselenggarakan selama dua hari pada 6 – 7 Oktober 2012. Pesta budaya Tionghoa yang pertama di Jakarta ini merupakan acara yang digelar dalam rangka merayakan hari jadi tiong ciu pia yang jatuh pada 30 September lalu. (Herlina, A.Md.)