Kuliah FEB Bahas Isu Global Bersama Associate Professor Western Sydney University

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jakarta (UNAS) – Sebuah studi baru Bank Dunia tentang Kemiskinan dan Kemakmuran Bersama menyatakan bahwa kemiskinan ekstrem terus menurun di seluruh dunia,Namun, perlu dicatat bahwa mengingat tren pertumbuhan yang diproyeksikan, mencapai tujuan global untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem pada tahun 2030 mungkin memerlukan dimasukkannya langkah-langkah untuk mengurangi tingkat ketidaksetaraan yang tinggi. Dalam hal ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis menyelenggarakan kuliah umum yang dengan topik “How Countries Deal With Growth inequality and poverty” pada Selasa (13/7).

Kuliah umum bersama dengan Associate Professor In Development Studies, Western Sydney University Zulfan Tadjoeddin, Ph.D tersebut membahas beberapa isu seperti; Mega tren global, Peningkatan Covid-19, Quality disconnect dan Inequality Rise.

Dalam kuliahnya, ia menyampaikan bahwa dalam hal ini Megatrend tidak cukup merata ini dan menimbulkan krisis finansial. “Mega tren ini bukan hal baru, persoalan yang ada saat ini adalah persoalan disetiap negara berbeda, krisis ini membuat tambah tidak merata,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, “ketimpangan sosial di antara semua orang di dunia telah menurun secara konsisten, seperti produktivitas dan upah tidak sejajar. Bisa dilihat dari tren industrial atau bisa jadi karena Tax GDP ratio yang menurun. Ini merupakan salah satu yang terbaik di Asia dan kita berada paling rendah,”tambahnya.

Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang masalah kesehatan tetapi juga meningkatnya angka kemiskinan. Peningkatan jumlah penduduk miskin terjadi lantaran pandemi menyebabkan banyak kegiatan perekonomian tidak berjalan seperti biasa sehingga terhambatnya pendapatan.

Zulfan juga menjelaskan bahwa secara global, Covid bukan meratakan lapangan malah membuat lapangan tembak tidak rata. “Pandemi Covid justru membedakan antara negara kaya dan negara miskin. Kemampuan negara kata untuk menghadapi covid cukup baik tidak sebanding dengan negara berkembang dan itu membuat jurang semakin nyata pada negara berkembang yang terdampak” jelasnya

Dalam kegiatan kuliah umum Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universita Nasional dibuka oleh dekan FEB Kumba Digdowiseiso, S.E., M.App.Ec., Ph.D dan kegiatan tersebut dibawakan oleh Dosen FEB B. Syarifuddin Latif, S.H., M.H (*TIN)

Berita Terbaru
Chat with Us!