Kaprodi Pariwisata Tegaskan Industri Pariwisata Terdampak Penuh Akibat Pandemi Corona

Jakarta (Unas) – Ketua Program Studi Pariwisata Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (FEB Unas), Rizki Nurul Nugraha, S.S.T. Par., M.Par menegaskan bahwa industri pariwisata di Indonesia terdampak penuh akibat adanya pandemi corona atau Covid-19.

“Seratus persen industri pariwisata terdampak akibat pandemi ini, sebagian pegawai terkena pemutusan hubungan kerja,” katanya saat dihubungi oleh Humas Unas melalui pesan Whatsapp, Rabu (13/04). Industri yang selama ini digadang sebagai salah satu sumber kontribusi devisa terbesar bagi Indonesia itu mengalami penurunan yang signifikan selama pandemi corona.

Oleh sebab itu, guna mengembalikan gairah industri pariwisata di Indonesia, lanjut Rizki, hal yang perlu diutamakan yakni dengan adanya promosi paket wisata budaya, membangun kembali desa-desa wisata, dan memberikan edukasi tentang pentingnya kegiatan pariwisata baik bagi pengusaha, sumber daya manusia, maupun pelanggan.

“Semua ini dilakukan untuk mengembalikan gairah pariwisata di Indonesia agar kegiatan pariwisata juga dapat bermanfaat mempertahankan kehidupan sosial, meningkatkan perekonomian local, melestarikan lingkungan, dan meningkatkan hubungan dengan sang pencipta,” tegasnya.

Di tengah pandemic global ini, ia mengatakan bahwa perlu adanya kerja sama pemerintah dan masyarakat guna menumbuhkan empati agar semuanya dapat berjalan kembali normal. “Saat seperti ini seluruh industri pasti terdampak, ada baiknya waktu digunakan untuk menata tata kelola dan sumber daya manusia pariwisata yang ada saat ini. Buatlah skema membangun desa-desa wisata yang terstandar tradisi sosial budaya, dimana pembangunan desa wisata sangat sulit terealisasi pada saat tidak ada pandemi,” jelasnya.

Setelah adanya himbauan social distancing dari pemerintah, Rizki berharap masyarakat tetap meningkatkan empatinya untuk tetap di rumah aja demi kepentingan bersama, serta tetap menjaga kebersihan dan kesehatan. “Jika ada yang ingin berwisata tolong jangan terbuai dengan keindahan dan kenyamanan, tujuan kepariwisataan adalah memperkenalkan kekayaan bangsa, bai kalam, sosial budaya, maupun buatan itu semua wajib mengikuti tata cara, etika, dan kebiasaan yang berlaku di area wisata, jangan terbalik seperti saat ini,” tutupnya.

Maka dari itu untuk mempermudah maka pada waktu pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia harus diedukasi tentang 3A (aksesibilitas, atraksi, dan akomodasi) yang ada di Indonesia sehingga segala sesuatunya dapat diruntut diatur dari jadwal kedatangan hingga kepulangannya kembali. (*NIS)