Festival Bulan Bahasa, FBS Gelar Seminar dan Panggung Budaya

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jakarta (UNAS)-  Pada bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan bahasa, hal ini merajuk  pada bulan ditetapkannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober tahun 1928. Yang mana tercantum pada sumpah ketiga mengenai pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan merupakan bahasa resmi yang digunakan oleh masyarakat. Memperingati Bulan Bahasa, Fakultas Bahasa dan Sastra menggelar Festival Bulan Bahasa dengan Seminar dan Panggung Budaya pada Kamis (28/10).

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Drs Somadi Sosrohadi, M.Pd., menyatakan bahwa kegiatan bulan bahasa atau oktoberan akan terus diadakan setiap tahunnya untuk memperingati hari bahasa Indonesia, Sumpah Pemuda dan merupakan perayaan Dies Natalis Unas.

Drs Somadi Sosrohadi, M.Pd.

“Acara ini yang bertepatan dengan Dies Natalis Unas. Kegiatan ini dalam rangka memperingati bulan bahasa juga sebagai bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak hanya sebatas seminar tetapi juga publikasi dalam bentuk artikel ilmiah baik Sinta maupun Scopus dan pengabdian kepada masyarakat,” paparnya.

Somadi juga berharap dengan kegiatan bisa menggerakkan mahasiswa dan dosen untuk berkreasi dan menciptakan karya dan prestasi yang unggul.

 Sementara itu, Satrio Pamungkas, M.Sn., produser sekaligus dosen muda jurusan perfilman Institut Kesenian Jakarta menjelaskan bahwa Film sebagai alat komunikasi dan menjadi senjata utama dalam penyebaran budaya di era Globalisasi. “ Film sebagai propaganda bahasa dan budaya, sebagai alat komunikasi dan film menjadi senjata utama dalam penyebaran budaya di era globalisasi ,” terangya.

Satrio Pamungkas, M.Sn.

Menurut Satrio media film dijadikan alat perubahan terhadap masyarakat globalisasi dalam konteks budaya selama ini selalu dikaitkan dengan dominasi negara barat atau westernisasi. “ Media film dijadikan alat perubahan masyarakat, dulu patokan industri film itu negara barat dengan adanya Globalisasi saat ini muncul era baru yaitu hallyu atau korean wave sebagai bentuk globalisasi asia terhegomoni ,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama dalam kegiatan yang berjudul “KRITIS IDENTITAS DALAM TINJAUAN BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA” Guru Besar Kesusastraan Universitas Indonesia Prof. Manneke Budiman, S. S., M. A., Ph. D., memaparkan bahwa bahasa merupakan bentuk identitas bangsa dan sebagai alat untuk berekspresi. “Bahasa sebagai medium ekspresi identitas. Dalam hal bahasa Indonesia ia adalah ekspresi identitas kebangsaan. Bahasa akan terus berubah dan hanya bahasa mati yang tidak akan berubah seperti bahasa sansekerta, bahasa yunani untuk melestarikan sejarah. Melalui bahasa kita bisa terkoneksi di seluruh dunia,” pungkasnya.

Di akhir kegiatan Seminar dan Panggung Budaya Fakultas Bahasa dan Sastra para mahasiswa yang terdiri dari Prodi Sastra Indonesia, Sastra Jepang, Sastra Inggris dan Bahasa Korea menampilkan karya seni seperti tarian tradisional, drama dan musik. (*TIN)

Berita Terbaru
Chat with Us!