Fenomena Kependudukan di Indonesia dan Cara mengatasinya

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jakarta (UNAS) – Setiap negara mempunyai masalah kependudukan yang berbeda-beda. Masalah ini timbul dari sumber pada ketidak seimbangan antara jumlah penduduk dengan potensi ekonomi, sehingga mengakibatkan rendahnya kualitas kehidupan. Dengan mengamati fenomena ini, Pusat Studi Ketahanan Universitas Nasional berkolaborasi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar webinar berjudul “ Ketahanan Keluarga Berbasis Ilmu dan Pengetahuan Budaya Nusantara ” pada Sabtu (23/10).

Kegiatan webinar yang merupakan serangakaian Dies Natalis UNAS ke 72 tersebut dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat dan Kerjasama (PPMK) Unas Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt., dalam sambutannya, Erna menyampaikan ketahanan keluarga sangat penting dan vital dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

“Menurut hemat saya, ketahanan keluarga sangat penting dan vital, terutama penerapan belajar psikologi juga kurang sesuai dengan ilmu dan budaya kita ini, karena ada gap antara lapangan dan ilmu yang ada di buku,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua BKKBN Dr (HC) dr. Hasto Wardoyo, SpOG., menerangkan revolusi digital dan globalisasi virtual itu membuat batas-batas administratif itu sudah hilang dan PR kita adalah bagaimana mewariskan nilai-nilai Luhur kepada anak-anak.

“Revolusi digital globalisasi virtual itu membuat batas-batas administratif itu sudah hilang karena antara kabupaten satu dengan satunya, negara satu dengan negara tetangga itu batasnya sudah tak jelas. Inilah menjadi bentuk dari revolusi demografi karena di dalam revolusi. Di Dalam demografi itu ada komponen migrasi penduduk itu sangat mempengaruhi keluarga mereka ini harus bertanya-tanya bagaimana ya mewariskan nilai-nilai Luhur kepada anak-anak untuk tetap bisa mempertahankan budaya dan nilai-nilai luhur kita yang menjadi tantangan kita,” terangnya.

Dr (HC) dr. Hasto Wardoyo, SpOG.,

Hasto juga menambahkan bahwa proporsi penduduk di generasi milenial adalah yang paling banyak menggunakan teknologi, sehingga para orang tua yang ingin memaksakan diri untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kepada anak tidak sesuai. “belum lagi ada orangtua yang egois, maunya memaksakan kehendak padahal tidak ngerti, padahal nasehatnya didiklah anak cucumu sesuai dengan zamannya karena dia tidak lahir di zamanmu,” paparnya.

Dalam materinya, untuk memberikan ketahan keluarga merupakan tantangan yang cukup besar pasalnya saat ini para orangtua milenial cenderung lebih individualis dan terikat dengan teknologi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pusat Studi Ketahanan Nasional Unas Iskandarsyah Siregar, S.S., M.Hum., juga mengkhawatirkan sumber daya manusia yang akan datang. “ Sebagai orang tua seharusnya kita bisa membangun karakter, membangun sistem dan menyediakannya karena kalau bicara dengan anak kita membangun karakternya dengan memberikan nilai-nilainya. Tren kualitas SDM kita cenderung menurun, semakin gemerlap dan keropos di dalam ini yang mengkhawatirkan, ” tambah Iskandar. (*TIN)

Berita Terbaru
Chat with Us!