Fakultas Biologi Ajak Mahasiswa Perduli Konservasi Primata

JAKARTA – Forum Ilmiah Fakultas Biologi  dan Pusat Riset Primata Universitas Nasional (PRP UNAS) melangsungkan kegiatan diskusi ilmiah untuk berbagi pengalaman mengenai penelitian konservasi primata. Kegiatan ini  ditujukan untuk memberi informasi kepada mahasiswa mengenai pentingnya menjaga habitat primata di alam, khususnya bagi monyet.

Pembicara dalam forum tersebut, Kristen S. Morrow, mahasiswa program doktor dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, memaparkan penelitiannya mengenai konservasi interaksi monyet dengan manusia di Taman Nasional Bantimurung-Bulusarung, Sulawesi Selatan. Ia mengatakan bahwa monyet merupakan jenis primata yang pintar dan dekat sekali dengan manusia.

“Primata merupakan hewan yang paling dekat dengan manusia dibandingkan yang lainnya. Di hutan, monyet dapat secara bebas melakukan interaksi dengan pengunjung, namun banyak manusia yang masih takut dengan monyet. Padahal kegiatan apapun yang dilakukan oleh monyet dapat kita teliti, mengapa mereka bisa begitu dekat dengan manusia dan yang lainnya,” ujar Kristen ditemui usai kegiatan, Selasa (5/06).

Perempuan berdarah Amerika itu menambahkan, interaksi dan tingkah laku yang dilakukan monyet berbeda disetiap tempat, hal itu juga ditandai dengan resiko yang berbeda. Menurutnya, di Sulawesi contohnya, keadaan monyet sudah memasuki tahap berbahaya, hal inilah yang menjadi dasar bagi peneliti untuk mengkaji lebih dalam kehidupan monyet di alam liar.

Prihatin dengan kondisi tersebut, Ia berharap mahasiswa biologi UNAS dapat turut serta dalam upaya konservasi primata di berbagai tempat. Hal inilah yang dapat dijadikan pengetahuan serta pengalaman baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya mempelajari interaksi antara monyet dan lingkungannya. “Kita melihat apakah ada masalah dari penelitian itu, jika ada maka kita akan cari solusinya,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, dosen Fakultas Biologi UNAS, Dr. Tatang Mitra Setia, M.Si. mengatakan, diskusi ilmiah dan sharing pengalaman penelitian merupakan wadah bagi mahasiswa untuk dapat memperoleh ide dalam upaya konservasi. Apalagi, lanjutnya, persoalan mengenai primata merupakan wawasan baru yang bisa dijadikan bahan penelitian.

Disinggung mengenai hasil penelitian Kristen, Tatang berpendapat bahwa solusi merupakan langkah selanjutnya yang akan dicari supaya tidak adanya kerugian yang dialami manusia dan monyet. “Hasil penelitian lebih kepada mengatasi konflik yang terjadi antara manusia dan monyet. Selama ini manusia melihat monyet sebagai hewan yang berbahaya, itu karena belum dikaji,” tandasnya.

Ketua Program Studi Magister Biologi UNAS itu berharap, agar seluruh kegiatan dengan kajian terhadap primata di UNAS akan terus berlanjut. Terlebih kepada dosen dan mahasiswa di UNAS juga dapat melakukan penelitian mengenai konservasi primata dan membuat jurnal.(*NIS)