Dosen Perlu Perhatikan Kenaikan Jabatan Fungsional

JAKARTA – Selain melaksanakan Tri Dharma Peguruan Tinggi, dosen juga perlu untuk memerhatikan kenaikan jabatan fungsional mereka. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Keuangan, dan SDM Universitas Nasional (UNAS), Prof. Dr. Eko Sugiyanto, M.Si. 

Dengan memerhatikan kenaikan pangkat, menurut Prof Eko, dosen dapat mengembangkan kompetensi diri serta mendapat banyak keuntungan bagi institusinya. Sementara itu, dalam mengusulkan kenaikan pangkat, dosen perlu memerhatikan dengan baik teknis dan tahapan-tahapan yang harus dilalui, terutama dalam sisi penulisan. 

“Hal ini harus diperhatikan terutama soal teknis bagaimana cara mengisi borang yang baik dan cerdas sehingga mudah dipahami dan mudah dinilai oleh kopertis agar bisa direkomendasi ke dikti,” ujarnya dalam acara Bimbingan Teknis Penyusunan Kenaikan Jabatan Fungsional Bagi Dosen, di Aula UNAS, Jumat (28/12).

Selain mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri seperti tunjangan, lanjutnya, kenaikan pangkat dosen juga sangat bermanfaat bagi sebuah perguruan tinggi. “Apalagi sekarang UNAS sudah akreditasi A dan kita harus pertahankan itu. Salah satunya dengan kenaikan jabatan fungsional bagi dosen. Sehingga selain bisa terus bertahan di akreditasi kampus A, kami juga bisa meningkatkan akreditasi program studi yang tadinya B menjadi A dan yang sudah A akan bertahan menjadi A,” tambahnya. 

Hal ini didukung oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNAS, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt. ia mengatakan, peningkatan jabatan fungsional merupakan hak dan kewajiban setiap dosen terhadap institusinya, sehingga penting bagi dosen untuk aware betapa pentingnya kenaikan pangkat tersebut. 

“Banyak dosen yang menganggap tidak perlu naik pangkat untuk professional, padahal institusi kita membutuhkan. Jadi seharusnya karena kaitannya dengan kewajiban tadi, dosen harus memerhatikan kapan naik pangkat, dan bagaimana cara naik pangkatnya. Selain itu juga perlu menyusun draft awal borang kepangkatan,” jelasnya. 

Selain itu, Erna juga menuturkan, dosen perlu memahami bahwa naik pangkat adalah proses yang tidak sulit. Hanya saja perlu memahami lebih dalam bagaimana cara menulis di jurnal sebagai salah satu persyaratannya. “Dosen harus memiliki semangat yang tinggi bahwa naik pangkat itu tidak sulit , dikerjakan saja apa yang harus dilengkapi dalam pengajuan dan banyak ikut diskusi tentang bagaimana teknis penyusunan borang kepangkatan dengan baik,” kata dia.

Dalam waktu yang sama, Sekretaris LLDIKTI Wilayah III Jakarta, Dr. M. Samsuri mengatakan, sebelum kenaikan pangkat, dosen harus mempunyai jurnal baik nasional maupun internasional yang bereputasi. Menurutnya, hal ini merupakan poin paling penting dalam penaikan jabatan fungsional dosen. 

“Ini persyaratan utamanya kemudian poin yang lain bisa mengikuti. Dosen mengajar sudah, menulis buku sudah, menjadi pembimbing akademik sudah, membimbing mahasiswa sudah, pengabdian juga sudah sering dilakukan, jadi tinggal bagaimana menulis jurnal dan mempublikasikannya yang harus dilakukan,” terangnya. 

Menurutnya, pengetahuan dosen mengenai tulis menulis sudah cukup namun yang masih menjadi hambatan adalah dalam menggagas ide, dan kepercayaan diri dalam menggagas ide tersebut. “Oleh karena itu pelatihan menulis dan bagaimana menemukan ide untuk dijadikan sebuah tulisan penting sekali bagi dosen. Bimbingan teknis seperti ini juga oerlu sehingga kalau sudah tau ilmunya dosen bisa lebih percaya diri untuk memasukkan tulisannya di jurnal. Hingga akhirnya bisa memperoleh kenaikan pangkat seperti yang diharapkan,” tutupnya.(*NIS)